Artikel

Menjadi Pemuda Bermental Tempe? Nggak Lah Yaw

Oleh: Himawan Sutanto

Kader Partai Demokrat

 

“Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut sumeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya Akan kuguncangkan dunia.”

Itulah potongan dari pidato Presiden Soekarno kepada para pemuda saat itu yang memang sakti. Sekarang, cobalah ambil 10 pemuda di sekitar kita, dan suruh mereka mengguncangkan dunia, lantas mereka akan berpikir, dengan apa kami mengguncang dunia?

Saat kita menengok kembali ke pra kemerdekaan, saudara-saudara pemuda kita sangatlah bersemangat untuk membebaskan diri dari para penjajah dengan satu tujuan kemerdekaan. Mereka belajar dengan disertai tekanan, intimidasi dan bahkan mungkin kekerasan. Kebebasan, kesejahtraan dan keadilan adalah cita-cita yang membuat saudara-saudara pemuda kita dahulu mampu untuk meraih kemerdekaan yang hingga saat ini kita nikmati hasilya.

Berbicara pemuda, sejatinya berbicara tentang nilai-nilai muda, terlepas dari berapa usia biologisnya. Mengutip intisari ‘Indonesia Merdeka’, Bung Hatta menuliskan bahwa terdapat empat nilai pemuda dalam dua bab awal buku dari pledoi beliau di pengadilan Den Haag pada tahun 1928 itu, yaitu: keberanian –untuk merombak/revolusioner–, kolektifitas-kesatuan, moralitas, dan politik.

Keberanian untuk mendobrak, merombak, sudah sangat langka di negeri kita belakangan ini. Pemuda pada lini penyelenggara negara dan sebagian masyarakat yang terlanjur diuntungkan oleh kondisinya, cenderung memilih mempertahankan status quo. Sementara pada lini rakyat luas juga kurang kesadaran untuk melakukan hal-hal revolusioner demi kepentingan lebih luas dalam entitas kebangsaan. Rindu rasanya, melihat Indonesia memiliki sosok berani sebagaimana para tokoh kemerdekaan kita dulu.

Bangsa Indonesia dikenal dengan semangat gotong-royong, kolektifitas. Bung Hatta-pun menginisiasi koperasi dengan landasan ini. Sebagaimana pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Pendiri negeri ini sangat sadar bahwa kebersamaan inilah yang akan menjadikan Indonesia jaya. Bukan egosentris sebagaimana juga telah dikritik Bung Hatta dalam bukunya, bahwa perbedaan mendasar antara pemuda Belanda dan Indonesia adalah sikap sosial, Belanda dikenal individualis, Indonesia mengedepankan gotong-royong, kepentingan bersama. Namun kini nilai kolektifitas itu perlahan memudar menjadi cenderung individualis, berlomba-lomba mengejar dan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Cara berpikir pemuda saat itu memang heroik dan membuat decak kagum semua orang sehingga kemerdekaan Indonesiapun dipelopori oleh anak muda. Pikiran yang sama juga dikeluarkan oleh seorang sastrawan kita Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang akrab dipanggil Pram ini melihat anak-anak muda menjadi sosok pelopor perubahan. Dia juga menilai angkatan muda sekarang mempunyai kualitas dengan nilai lebih dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Namun karena sejak kanak-kanak oleh Orde Baru dididik dengan kebohongan-kebohongan politis yang memalaikatkan Orde Baru dan mengibliskan semua lapisan masyarakat yang tidak membenarkannya, sejak dari sekolah dasar sampai universitas, pemuda cenderung mengamini kebohongan Orde Baru tersebut. Untuk itu anak muda harus berpihak kepada rakyat, lapisan bawah masyarakat. Karena sepanjang sejarah Orde Baru, rakyat hanya disiapkan membawakan makanan gurih bagi elite, kecuali masa Orde Lama, karena dalam kurun ini adalah kekuatan politik yang mendampingi mereka.

Tumbangnya Orde Lama berarti mereka dan tanah air menjadi jarahan kapitalisme multinasional, bekerja sama dengan elite nasional sebagai herdernya. Kemudian Pramoedya membandingkan dengan angkatan muda tahun belasan. Mereka, para mahasiswa yang mendapat beasiswa dari pemerintah kolonial, bersama dengan para eksterniran Indiche Partij di negeri Belanda sana telah menemukan tanah air dan nation-nya, yang mereka namai Indonesia. Suatu penemuan gilang-gemilang dan agung.

Melihat pemuda saat ini sangat memprihatinkan, moralitasnya semakin tidak jelas dan dilematis. Hampir setiap hari kita melihat para koruptor bisa tersenyum lebar setelah ditangkap KPK dan mendengarkan dakwaan hakim. Seorang pejabat pemerintah membuat bingung rakyat dengan permainan kata, atau melihat seorang penjual di pasar yang menyiasati timbangannya. Padahal moralitas inilah yang menjadi kekuatan dalam membangun sebuah bangsa. Indonesia merdeka bukan karena kelompok inteleknya saja, melainkan karena para pejuang saat itu memiliki karakter, moralitas dan integritas kuat.

Politik yang seharusnya menjadi nilai dan melekat pada pemuda, sudah semakin jauh dari realitasnya. Bung Hatta dalam pledoinya menekankan pentingnya pola pikir dan tindakan politik bagi pemuda. Politik dalam konteks memperjuangkan kedaulatan untuk kesejahteraan rakyat, bukan dalam arti sempit dan culas seperti perebutan kekuasaan dengan segala cara seperti dipertontonkan saat ini. Politik pemuda bukan dibangun oleh ketamakan menumpuk harta, melainkan ambisi untuk menjadikan rakyat berdiri tegak menatap masa depan. Nilai ini nampaknya kian surut dan hilang, menunggu hadirnya kembali pemuda Indonesia yang dengan nilai-nilai luhur mau memperjuangkan kedaulatan dan kepentingan rakyat.

Hari ini, 28 Oktober 2018, kita bersyukur masih memperingati hari bersejarah bagi kebangkitan Indonesia. Namun, pertanyaan yang mestinya selalu terngiang adalah: setelah ini, mau apa?

Dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi dewasa ini, telah memunculkan generasi millenial yang terdiri atas generasi muda yang berpikiran global seiring dengan perubahan yang tak lagi terbelenggu batas ruang dan waktu. Generasi millenial, pemuda millenial, atau apapun sebutannya harus melakukan berbagai terobosan atas perubahan zaman yang telah banyak mengubah pola dan gaya hidup, pola konsumsi, dan pola produksi.

Pemuda millenial yang sangat akrab dengan dunia teknologi komunikasi dan informatika justru menghadapi tantangan yang tak kalah beratnya dengan dengan para pemuda era 1928 lalu. Paling tidak, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap tegak berdiri tegak dan disegani oleh seluruh bangsa di muka bumi ini menjadi komitmen untuk terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Untuk itu pemuda millenial dalam konteks kekinian harus selalu produktif dalam berkarya, inovatif, kreatif, selalu menjadi yang terdepan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjadi garda terdepan perubahan. Sumpah Pemuda adalah kontrol sosial terhadap kekuasaan dan harus senantiasa diliputi oleh semangat Bhineka Tunggal Ika. Sekali semangat harmoni dalam keragaman itu retak, maka perlu perjuangan kembali untuk merekatkannya. Sumpah pemuda harus menjadi uji kompetensi dan gagasan, agar tidak menjadikan pemuda bermental tempe dan nantinya jadi pemimpin yang plin plan atau tidak bertanggung jawab. Pemimpin yang tidak pernah merasa malu dengan ingkar janji pada komitmennya, apalagi hanya aktif di media sosial belaka.

Pemuda harus mampu hadir sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, tampil dengan ide gagasan yang baru terhadap Indonesia ke depan. Jadi ingat pesan Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan Indonesia peraih penghargaan Ramon Magsaysay Award, 1995 “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up