Artikel

Menjadi Penjahat Itu Adalah Pilihan, Bukan Keterpaksaan

Oleh: Ikhsan Kurnia
Penulis dan anggota Bidang Media PB KBPII

Setiap kali melihat sebuah peristiwa kejahatan, saya selalu merenung. Kadang tidak percaya. Apa iya ada manusia yang bisa melakukan perbuatan sejahat, sekeji dan sebedebah itu? Tidak peduli bentuk kejahatannya, entah itu bom bunuh diri (teror), mutilasi, aborsi, apapun level kejahatannya. Bahkan untuk hal kecil seperti pencurian kotak infaq musholla, kadang saya tidak habis fikir. Kok bisa?

Sampai hari ini pun saya selalu memikirkannya. Apakah sejahat itu manusia? Kadang saya belum bisa menerima kenyataan bahwa manusia bisa melakukan perbuatan jahat. Apakah kita tidak punya otak dan hati?

Namun, realitasnya ada manusia-manusia seperti Qobil yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri. Ada Firaun sang penguasa dzalim yang mengaku tuhan. Di era modern ada orang-orang Jahat macam Hitler dan Lenin. Di zaman now ada pemimpin patologis seperti Trump, Kim Jong Un dan Bashar Asad. Bahkan di dunia imaji, ada tokoh Thanos yang rela mengorbankan anak angkat yang dicintainya demi mendapatkan kekuatan “batu akik” hingga mampu membunuh separuh dari Avengers yang ada. Bukankah ini gila?

Jangan salah. Orang sekejam Thanos bukan berarti tidak punya “alasan” untuk melegalkan perbuatan gilanya itu. Dalam sebuah scene dialog dia berkata yang menyiratkan bahwa dunia ini sudah terlalu sesak dan tidak efisien. Untuk itu separuh galaksi harus dimusnahkan, kemudian di tata ulang (re-managed) agar kehidupan dunia lebih berkualitas, efektif dan efisien. Karena pemikirannya itu, dia melakukan genosida.

Dalam banyak film yang berkisah tentang orang-orang jahat (antagonis), selalu saja ada “argumentasi” yang menjadi reason to do orang itu melakukan kejahatan. Sekurang-kurangnya argumen tersebut berbunyi begini: “Aku hanya mengikuti suratan takdirku”. Bahkan ada yang lebih filosofis: “Aku hanya menunaikan tugas dan peranku (sebagai orang jahat), karena pasti akan selalu ada orang yang memerankannya (di setiap zaman dan tempat)”.

Jika anda seorang penggemar film Tutur Tinular, maka di episode terahir ada adegan terbunuhnya Rakuti, sang pemberontak kerajaan Majapahit. Rakuti terbunuh oleh Mpu Gadjah Mada. Setelah kematian Rakuti, seorang kakek tua berkata begini (mengomentari kematian sang pemberontak): “Rakuti hanya melakukan garis-garis kehidupan yang melekat dalam jantra nasibnya. Dia hanyalah bayangan kekuasaan dari sang perkasa untuk dijadikan cermin bagi seluruh manusia di mayapada.”

Memang, di dunia ini ada saja yang memilih menjadi orang jahat karena “argumentasi” kondisi eksternal dirinya, entah kemiskinan, diskriminasi, dogma, atau apa saja. Namun sejatinya pilihan itu ada pada diri. Mereka tidak pantas mengambinghitamkan situasi, apalagi nasib.

Itu nilai moral yang “seharusnya” dipegang setiap orang. Kita sudah berbusa-busa, sampai tidak habis pikir, tapi kejahatan dan orang jahat terus-menerus “ada” dan “mengada”. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa Tuhan senantiasa menurunkan para nabi di setiap zaman, untuk mengatasi kejahatan yang juga selalu ada di setiap era.

Misi nabi itu jelas. Mereka diturunkan karena memang ada masalah. Tapi di dunia ini ada orang yang jauh “lebih jahat” dari orang jahat itu sendiri. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang memelihara kejahatan. Agenda mereka adalah menjaga agar kejahatan senantiasa ada. Mereka adalah iblis, baik dalan bentuk jin maupun manusia.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait