Artikel

Meningkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Melalui Pendidikan Vokasi 

Oleh: H.A. Azwar 
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pendidikan penduduk Indonesia. Diantaranya dengan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi penduduk Indonesia untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi melalui program pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi.
Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan juga memiliki tugas mulia untuk mewarnai proses peningkatan kualitas penduduk itu, melalui program pengembangan dan pelatihan kompetensi para tenaga kerja. 
Persoalan kompetensi adalah salah satu persoalan penting dalam ketenagakerjaan nasional. Semakin rendah kompetensi yang dimiliki para pekerja, akan semakin sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan bekerja. Sebab, perusahaan akan cenderung memprioritaskan pencarian tenaga kerja yang memang kompeten di bidangnya. Hal ini sejalan dengan prinsip perusahaan untuk mencari pekerja yang berkualitas di bidangnya atau prinsip the right man in the right place.
Masalahnya adalah, kurikulum pendidikan di Indonesia kurang berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi. Sehingga, kebanyakan siswa lulusan SMA yang ingin langsung bekerja tidak siap dengan persyaratan ketrampilan atau keahlian dari para perusahaan.
Begitu pula dengan para lulusan perguruan tinggi. Tidak sedikit mereka yang hanya memiliki kemampuan dan pengetahuan di bidang akademis, namun tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja. Mereka inilah, yang tidak siap dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja, dan berpotensi menambah daftar panjang angka pengangguran terdidik di Indonesia.
Di sinilah peran Kementerian Ketenagakerjaan untuk bersama-sama dengan perusahaan dan masyarakat, untuk membantu meningkatkan kompetensi para lulusan di Indonesia, baik lulusan SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri selama ini sudah memiliki program kerja yang terarah dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan.
Pertama, yaitu program peningkatan kesejahteraan melalui penanggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran dan, kedua, memperbaiki kualitas ketenagakerjaan.
Khusus untuk program memperbaiki kualitas ketenagakerjaan Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan sudah menjalankan 4 (empat) program utama, yakni peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, pengembangan lembaga, perluasan dan pengembangan tenaga kerja; dan pembangunan daerah melalui program transmigrasi. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja inilah yang terkait erat dengan peran Kementerian Ketenagakerjaan dalam membantu meningkatkan kompetensi para lulusan di Indonesia, baik lulusan SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Dalam hal ini, langkah-langkah peningkatan kualitas dan produktivitas yang dapat dilakukan melalui tiga jalur utama, yakni pendidikan, pelatihan kerja dan pengembangan karir di tempat kerja.
 
[nextpage title=”Sinergi dengan …”]
Sinergi dengan Perguruan Tinggi
Terkait dengan program peningkatan kualitas tenaga kerja melalui jalur pendidikan, Kementerian Ketenagakerjaan bisa menjalin sinergi dengan perguruan tinggi. Khususnya perguruan tinggi yang memiliki konsep pendidikan link and match, yakni konsep keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Dengan konsep tersebut, perguruan tinggi memiliki kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja. Sehingga, konsep ini diyakini bisa menekan jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi yang memiliki konsep pendidikan link and match ini populer dengan sebutan pendidikan program vokasi. Yakni, program pendidikan yang berorientasi pada kurikulum untuk peningkatan keahlian, keterampilan, kemampuan, dan tingkah laku yang diperlukan dalam dunia kerja. Pendidikan vokasi berbeda dengan pendidikan akademik, khususnya dalam hal keahlian yang dicapai lulusannya. Keahlian lulusan pendidikan akademik ada pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan keahlian lulusan pendidikan vokasi pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
Menilik karakteristik pendidikan vokasi yang berorientasi pada keahlian dan penguasaan praktek para lulusannya ini, maka kita bisa mengatakan bahwa pendidikan vokasi bisa menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran. Sebab lembaga ini bertujuan menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Bantuan yang dapat diberikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan terhadap lembaga pendidikan vokasi, adalah memberikan akses untuk berhubungan dengan perusahaan-perusahaan. Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai lembaga yang membidangi persoalan tenaga kerja tentu memiliki akses yang cukup mudah dalam berhubungan dengan perusahaan pengguna tenaga kerja. Di sinilah peran Kementerian Ketenagakerjaan sebagai jembatan penghubung bagi perguruan tinggi untuk dapat berhubungan langsung dengan perusahaan.
Sebab, interaksi aktif antara perguruan tinggi dan perusahaan sebagai user akan menguntungkan perguruan tinggi dalam banyak hal. Pertama, perguruan tinggi memiliki pengetahuan tentang jenis kompetensi yang sedang dibutuhkan di pasar kerja, sehingga bisa mengembangkan kurikulum yang berbasis pada kompetensi tersebut. Kedua, perguruan tinggi memiliki akses untuk menyalurkan lulusan mereka di perusahaan tersebut, sehingga menjadi nilai tambah bagi para mahasiswa mereka. Di sisi lain perusahaan juga terbantu dengan pasokan tenaga kerja yang kompeten dan siap pakai dari perguruan tinggi. Sinergi yang terjadi antara perguruan tinggi dengan perusahaan atau industri ini tentulah bersifat positif dan menguntungkan kedua pihak.
Saat ini sudah ada sejumlah perguruan tinggi yang menekankan pada kurikulum yang bersifat link and match. Dua lembaga diantaranya adalah Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) dan Bina Sarana Informatika (BSI).
Baik LP3I maupun BSI dapat digolongkan sebagai lembaga pendidikan vokasi, yang menekankan pada penguatan pelatihan keahlian dan kompetisi para lulusannya. Keduanya memiliki kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan industri, dan berkomitmen untuk terus menerus memperbaiki kurikulum agar dapat selalu selaras dengan perkembangan di pasar kerja.
Ke depan kita mengharapkan akan lahirnya banyak lembaga pendidikan vokasi yang memiliki kurikulum link and match ini. Sehingga masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia, terbantu untuk mendapatkan ilmu dan pelatihan yang memang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga, dengan kompetensi yang dimiliki generasi muda Indonesia, akan semakin  meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat global.
 
Tanggung Jawab Semua Pihak
Tentu saja, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tidak bisa berjuang sendirian dalam memperkuat kompetensi dan kualitas pendidikan tenaga kerja. Semua pihak tanpa kecuali memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas anak bangsa, untuk memperkuat daya saing nasional.
Apalagi saat ini telah diberlakukan Komunitas Asean, di mana seluruh warga ASEAN tanpa kecuali mendapat kesempatan yang sama untuk berkompetisi di seluruh bidang, termasuk dalam pasar kerja. Hal ini tentunya menuntut kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bisa menguasai berbagai bidang yang dibutuhkan pasar kerja. Tanpa kualitas pendidikan dan kompetensi yang mumpuni, para pekerja Indonesia akan sulit bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara tetangga.
Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia ini diharapkan akan berdampak pada penguatan daya saing nasional, dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan pekerja. Semakin kompeten seorang pekerja, sejatinya akan semakin tinggi renumerasi yang ia dapatkan dari pekerjaannya.
Mari bersama-sama memperkuat tenaga kerja Indonesia menjadi lebih kompeten!

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up