Artikel

Mengenang Mas Kuntowijoyo Dengan Paradigma Ilmu Sosial Profetiknya

Oleh: Sudono Syueb

Paradigma utama Kuntowijoyo adalah tentang masa kini dan masa depan
Ilmu Sosial Profetik (ISP). Baginya, ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja. Tetapi lebih dari itu, ilmu sosial juga harus mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya.

Ia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu: humanisasi, liberasi dan transendensi. Ide ini sekarang mulai banyak dikaji. Di bidang sosiologi misalnya muncul gagasan Sosiologi Profetik yang dimaksudkan sebagai sosiologi berparadigma ISP.

Tiga pilar tersebut bersumber dari Al Qur’an Surat Ali Imron(3) ayat 110 yaitu: (1) ta’muruuna bi al ma’ruf (humanisasi), (2) tanhauna ‘ani al munkar ( liberalisasi) dan (3) tu’minuuna bi Allah (transendensi).

Pilar Humanisasi

Amar ma’ruf dalam bahasa sehari-hari berarti apa saja, baik yang paling individual seperti sholat, dzikir, sampai hal-hal yang semi-sosial, seperti menghormati orang tua, menyantuni anak yatim, serta yang bersifat kolektif seperti mengusahakan Jamsostek (dulu) sekarang BPJS. Kuntowijoyo menyebut hal itu dengan kata humanisasi.

Dalam bahasa latin humanitas berarti “makhluk manusia”, “kondisi menjadi manusia”, jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia. Humanisasi merupakan terjemahan yang kreatif dari amal ma’ruf yang memiliki makna asal menganjurkan atau menegakkan kebaikan. Amar ma’ruf memiliki tujuan untuk meningkatkan dimensi dan potensi positif manusia, yang membawa kembali pada petunjuk ilahi untuk mencapai keadaan fitrah.

Fitrah adalah keadaan di mana manusia memiliki kedudukan sebagai mahluk yang mulia sesuai dengan kodrat kemanusiaannya. Memanusiakan manusia adalah menghilangkan kebendaan, ketergantungan dan kekerasan, serta kebencian dari manusia.

Humanisme yang ditawarkan Kuntowijoyo adalah humanisme teoantroposentris bukan humanisme antroposentris seperti barat. Konsep humanisme tidak dapat dipahami tanpa konsep trasendensi yang menjadi dasarnya. Humanisme yang berasal dari barat yang dalam sejarahnya merupakan pemberontakan terhadap gereja yang bersifat dogmatis pada abad pertengahan. Dari antroposentrisme menjadikan manusia yang berkuasa atas dirinya sendiri dan sebagi pusat dunia, serta cukup dari diri manusia. Akal yang dimiliki oleh manusia menjadi penentu dan bertindak tidak sesuai dengan norma yang ada dan menyebabkan kerusakan pada alam raya.

Humanisme antroposentris ini menjadikan manusia telah ‘membunuh Tuhan’ sebagaimana yang dikatakan oleh Francis Bacon dikarenakan pengetahuan bukannya untuk mencarai kebenaran tetapi untuk mencari kekuatan dan kekuasaan. Humanisme antroposenstris yang memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia telah terjatuh pada dehumanisasi.

Humanisme teoantroposentris Kunto berangkat dari konsep iman dan amal sholeh, yang dapat menghindari manusia jatuh pada dehumanisasi. Iman sebagai konsep teoantroposentris yang menjadikan Tuhan sebagai konsep pengabdian. Amal sebagai aksi manusia dalam kemanusiaan. Dalam konsep tersebut iman tidak dapat dipisahkan dengan amal, artinya manusia harus memusatkan diri pada Tuhan dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia. Humanisme teosentris kemanusian tidak semata diukur oleh akal tetapi oleh trasendensi.

Pilar Liberasi
Kata liberasi (bahasa latin liberare berarti “memerdekakan”) artinya pembebasan semuanya dengan konotasi yang mempunyai signifikansi sosial. Liberasi merupakan terjemahan dari nahi munkar yang memiliki arti melarang atau mencegah segala tindakan kejahatan yang merusak. Liberasi memilki arti pembebasan terhadap yang termarjinalkan.

Liberasi yang mengilhami Kuntowijoyo bukan liberasi dalam kontek Marxisme, teologi pembebasan Amerika Latin tetapi liberasi yang didasari nilai-nilai trasendensi. Liberasi dalam kerangka profetik untuk membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan, dominasi struktur, kekerasan dan menolak konservataisme dalam agama. Liberasi dalam konteks profetik menjadikan agama sebagai nilai-nilai trasendental yang menjadi alat tranformasi sosial sehingga agama menjadi ilmu yang objektif dan faktual.

Liberasi bukan hanya dalam dataran moralita stetapi dilakukan secara konkret dalam realitas kemanusiaan. Kunto menawarkan liberasi dalam empat sistem, yaitu: sistem pengetahuan, sistem sosial, sisten ekonomi dan sistem politik yang membelenggu manusia, sehingga ia dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai mahluk yang merdeka dan mulia.

Liberasi dari sistem pengetahuan sebagai dasar, Ilmu Sosial Profetik menghasilkan tiga paradigma untuk mewujudkan khoiru ummah. Dan ketiga pilar itu adalah suatu tatanan yang integral, saling berhubungan, dan menjadikan transendensi sebagai dasar dua gerakan lainnya (humanisasi dan liberasi).

Pilar Transendensi

Kata transendensi (bahasa Latin Transcendere berarti “naik ke atas”; bahasa Inggris to transcend ialah “menembus”, “melewati”, “melampaui”) dan istilah teologis seperti soal Ketuhanan. Trasendensi merupakan terjemahan dari tu’minuna bi Allah yang berarti beriman kepada Allah. Gagasan transendensi ini menjiwai seluruh proses humanisasi dan liberasi. Proses memanusikan manusia dan melakukan proses pembebasan merupakan sarana untuk kembali pada Tuhan. Tujuan akhir dari proses liberasi dan humanisasi adalah Tuhan.

Transendensi tersebut merupakan respon terhadap ilmu sosial yang selama ini bercorak positivistik, menafikan hal yang berkaitan dengan agama. Proses modernisasi yang dilakukan oleh bangsa barat yang cenderung menafikan agama, menjadikan posisi agama termarginalkan. Trasendensi ketuhanan yang akan menunjung nilai-nilai luhur kemanuasiaan.

Dengan kritik trasendensi, kemajuan teknik dapat dimanfaatkan untuk mengabdi pada perkembangan manusia dan kemanusiaan bukan kesadaran materialistik belaka. Pemaknaan trasendensi dalam pemahaman Roger Garaudy meliputi: dengan trasendensi menghilangkan nafsu manusia yang serakah dan nafsu kekuasaan, memiliki kontinuitas kebersamaan Tuhan dan manusia serta mengakui keunggulkan norma mutlak diatas akal manusia.

Trasendensi merupakan suatu penerapan yang baru dalam ilmu sosial. Trasendensi menjadikan ilmu sosial yang bercorak agamis dan berdasarkan nilai-nilai Al Qur’an. Kunto menginginkan bahwa Al Qur’an sebagai penurunan teori, mencontohkan dalam bukunya “Sejarah Dinamika Umat Islam Indonesia“. Ia menginginkan Al Qur’an sebagai grand teori lalu diturunkan menjadi midle teory dan ditrunkan lagi menjadi aplikatifnya.

Oleh karena itu, Kunto menawarkan Al Qur’an menjadi paradigma dalam melihat realitas dengan cara menjadikan Al Qur’an bersifat objektif diterima oleh semua golongan. Cara yang dilakukan oleh Kunto adalah melakukan objektifikasi terhadap Al Qur’an. Ia memberikan gambaran tentang konsep zakat adalah tujuan utamanya untuk memberantas kemiskinan, jadi nilai objektif dari zakat adalah pemerataan ekonomi.

Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo bersifat partisipatoris untuk melakukan perubahan dan sekaligus arah dari perubahan itu. Ilmu ini sarat dengan nilai-nilai dan berpihak kepada kemanusiaan, memberantas ketidakadilan sosial. Dengan menjadikan Surat Ali Imran: 110 sebagai dasar, Ilmu Sosial Profetik menghasilkan tiga paradigma untuk mewujudkan khoiru ummah. Dan ketiga pilar itu adalah suatu tatanan yang integral, saling berhubungan, dan menjadikan transendensi sebagai dasar dua gerakan lainnya (humanisasi, liberasi).

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up