Artikel

Mengapa Perlu Ganti Presiden 2019?

Oleh: Ikhsan Kurnia (Penulis)

Apa alasan-alasan obyektif yang membuat kita merasa perlu (harus) mengganti seorang Presiden dalam Pilpres berikutnya? Untuk menjawab ini, orang biasa menyebutkan:

1. Adanya gap yang terlalu curam antara janji pada saat kampanye dengan realitas yang dilakukan selama menjabat; atau

2. Ada sebuah kondisi objektif dimana secara kuantitatif maupun kualitatif menunjukkan adanya situasi yang penuh dengan kekecewaan dan penderitaan rakyat secara jamak (mayoritas dan masif); dan Presiden tidak mampu mengatasinya.

Mungkin masih banyak lagi alat ukur yang dipandang “objektif” dalam menilai kinerja seorang Presiden. Namun, pertanyaan yang lebih filosofis adalah: apakah untuk mengganti seorang Presiden harus menggunakan alasan-alasan objektif? Hal ini senada pula dengan pertanyaan: apakah kritik harus objektif?

Sebagai ilustrasi. Misalnya anda adalah seorang karyawan perusahaan. Taruhlah perusahaan tersebut sudah sangat established dengan sistem yang mapan. Gaji rata-rata karyawan juga di atas rata-rata. Secara objektif, mayoritas karyawan merasa betah dan puas bekerja di perusahaan tersebut.

Namun, ada satu faktor yang membuat anda tidak suka bekerja di perusahaan tersebut, yakni budaya perusahaan sangat feodal dan hierarkis, sehingga anda tidak bebas memberikan kritik kepada manajemen. Karena alasan “subjektif” tersebut, anda keluar (resign).

Ganti Presiden 2019
Neno Warisman dan Amien Rais: Ganti Presiden 2019 (foto: Twitter)

Intinya, jika anda sedang menghadapi sesuatu, ada memiliki (setidaknya) 3 pilihan, yakni: stay (tetap bertahan), exit atau migrate (keluar atau berpindah ke pilihan lain), dan voice (hanya bisa ngomel tapi tidak punya pilihan lain atau tidak berani untuk keluar atau pindah). Apapun yang akan anda pilih, ketiga pilihan tersebut ditentukan oleh “subjektivitas” anda.

Sampai disini, apakah anda masih berfikir bahwa alasan untuk mengganti seorang presiden harus objektif? Apakah alasan untuk mencari alternatif lain (baru) harus objektif? Bukankah di dalam bilik suara hanya ada anda dan Tuhan yang menyaksikan anda?

Alasan “subjektif” bisa dimulai dari diri anda sendiri. Bisa dari apa yang anda rasakan secara personal, atau apa yang anda ketahui. Anda mungkin perlu tahu berapa PDB negara kita, berapa rasio gininya, berapa pendapatan per kapita kita, berapa hutang kita, dan seterusnya.

Anda juga mungkin perlu tahu bagaimana willingness Presiden dalam mensejahterakan rakyat, bagaimana komitmennya dalam penegakan hukum, dalam menciptakan keadilan sosial, dalam meningkatkan sumber daya manusia, dan seterusnya.

Namun, apakah semua rakyat Indonesia harus mengetahui semua itu? Sementara ada puluhan kementerian dan lembaga yang juga bisa dimasukan sebagai bahan penilaian anda terhadap kinerja Presiden dan pemerintahannya. Padahal, untuk mengganti seorang Presiden, terkadang hanya karena satu sebab: harga BBM naik.

Saya tidak menyarankan anda untuk mengumpulkan semua data yang ada, agar anda ingin dinilai sebagai “rakyat yang objektif”. Anda cukup rasakan saja apa yang sudah dan sedang anda alami, apakah “better” atau “worse”? Kita harus sadar, bahwa sejatinya alasan untuk mengganti posisi sekelas Presiden itu sangat mudah dan sederhana. Karena kita rakyat. Kita pemilih. Kita penentu.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait