Artikel

Menerjemahkan Kembali tentang Ideologi Pendidikan yang Membebaskan Pendidik melalui Pemikiran Utomo Dananjaya

Oleh Tira Junianti, S.Hum

Istilah ideologi dikatakan oleh Alastair C. MacIntyre adalah sebuah upaya untuk menggambarkan karakteristik-karakteristik umum tertentu alam, atau masyarakat, atau kedua-duanya, katakteristik-karakteristik yang tidak hanya ada di tampilan-tanpilan tertentu dari dunia yang sedang berubah, yang hanya bisa diselidiki lewat pengkajian empiris. Atau sebagaimana Sergent mengindikasikan dalam bukunya, Contemporary Political Ideologies (Ideologi-Ideologi Politik Kontemporer) bahwa “Sebuah ideologi adalah sebuah sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh kelompok tertentu. Ia tersusun dari serangkaian sikap terhadap berbagai lembaga serta proses masyarakat. Ia menyediakan sebuah potret dunia sebagaimana adanya dan sebagaimana seharusnya dunia itu bagi mereka yang meyakininya. Dan, dengan melakukan itu ia mengorganisir kerumitan atau kompleksitas yang besar di dunia menjadi sesuatu yang cukup sederhana dan bisa dipahami”.

Ideologi pendidikan itu sendiri terdiri dari enam ideologi pendidikan dasar, tiga ideologi konservatif (fundamentalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan, konservatisme pendidikan), dan tiga ideologi liberal (liberalisme pendidikan, liberasionisme pendidikan,dan anarkisme pendidikan). Ideologi-ideologi pendidikan ini terutama terdiri dari penerapan-penerapan dan implikasi-implikasi dari berbagai posisi moral serta politis yang menggarisbawahi perilaku persekolahan.

Bagi seorang pendidik liberal, tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Dalam bukunya yang berjudul Sekolah Gratis, Utomo Dananjaya juga banyak membahas pandangannya terkait aliran liberal dalam proses pembelajaran. Aliran ini menurutnya menampilkan guru dengan: Metode Proyek, Metode Pemecahan Masalah dan Daur Belajar dari Pengalaman Berstruktur. Ketiga metode liberal tersebut untuk merangsang rasa ingin tahu informasi pada siswa.

Liberasionisme sendiri adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita harus segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perwujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Dalam berbagai tulisannya di berbagai artikel, Utomo Dananjaya banyak mengaitkan tulisan-tulisannya dengan tokoh-tokoh pendidikan liberal seperti, Ivan Illich, Paulo Freire, Dave Meire dan John Dewey.

Salah satu tulisan Utomo Dananjaya yang berisikan pandangannya tentang pendidikan dan kebebasan yaitu yang berjudul “Pendidikan dan Kebebasan Manusia (Sebuah Pembelajaran dari Kader PII). Artikel ini ditulis di Jakarta pada tanggal 8 Mei 2002. Selain aktif dalam dunia pendidikan, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam dunia pendidikan, Utomo Dananjaya juga pernah aktif dalam dunia pergerakan. Tepatnya dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Utomo Dananjaya menulis sebuah artikel ini diambil dari pengalamannya selama menjadi kader dari organisasi ini.

Dalam tulisannya ini Utomo Dananjaya menjelaskan bahwa pendidikan adalah suatu proses mencapai kemanusiaan universal, yaitu manusia yang mencapai kebebasan nurani. Kemanusiaan universal haruslah dipandang sebagai telah dewasa dan matang dalam mengambil keputusan tentang hidup nuraninya, dengan kesediaan menanggung resiko. Pendidikan juga menurutnya mempunyai satu tujuan dasar yang universal yaitu membawa manusia menjadi individu yang dewasa. Dewasa disini menurut Utomo Dananjaya berarti seseorang mencapai tahapan otonomi relatif dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Otonomi relatif ini menyebabkan seseorang sanggup berpikir sendiri, menggunakan pikiran sendiri dan pikiran orang lain untuk menyusun pertimbangan sendiri, menarik kesimpulan sendiri dan akhirnya membuat keputusan sendiri untuk melakukan suatu tindakan.

Pada saat tulisan tersebut ditulis, Utomo Dananjaya mengatakan di Indonesia, pendidikan dianggap sebuah kebajikan dan guru dianggap mulia. Padahal dalam kenyataannya Utomo berpikir bahwa pada saat ini pendidikan justru membunuh kepribadian, merampas kebebasan dan mengingkari kedewasaan. Menurutnya, pada masyarakat Indonesia kecenderungan mengabaikan pendidikan dan merendahkan guru lahir akibat pandangan yang keliru terhadap makna pendidikan, dan menyimpang dari cita-cita para pendiri Republik. Apalagi pada masa Orde Baru, pendidikan merupakan satu unit yang tidak memberikan sumbangan lain daripada memainkan peran tertentu, karena kerangka sistem sudah dipersiapkan, pentas sudah disediakan dan setiap orang hanya dituntut untuk memainkan peran seperti telah ditentukan oleh “rules and regulations”. Maka murid di masa Orde Baru menurut Utomo tidak memiliki kebebasan nurani. Pendidikan mengabdi pada perintah, pada sistem yang otoritarian.

Menurut Utomo Dananjaya, birokrasi pendidikan masih mewarisi semangat dominasi Orde Baru. Dunia pendidikan nasional belum kondusif untuk mengalirnya kreativitas masyarakat dan otonomi sekolah. Kesulitan ini yang menurutnya timbul karena tuntutan akan kebebasan tidak diimbangi dengan kesadaran tentang pentingnya otonomi. Hanya manusia dengan kepercayaan diri yang tinggi, yang memiliki kebebasan nurani akan terbuka terhadap ilmu dan teknologi, dan mempergunakannya untuk memecahkan masalah. Utomo Dananjaya dalam tulisannya ini menjawab permasalahan tersebut dengan menceritakan pengalamannya sebagai kader PII. Telah dijelaskan dalam tulisannya ini bahwa visi Pelajar Islam Indonesia (PII) pada saat didirikan adalah Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan Islam. Maknanya bahwa kader PII adalah manusia dewasa yang memiliki kebebasan nurani. Kebebasan nurani berarti bebas dari segala paksaan dan dominasi.

Dalam gerak perubahan mondial, dijelaskan beberapa prinsip berkembang ke arah yang sesuai dengan Islam yaitu sebagai berikut:
A. ​Keyakinan bahwa tidak ada yang mutlak pasti terjadi, kecuali perubahan. Sehingga bentuk perubahan yang dapat diimajinasikan adalah semata-mata suatu kemnungkinan, bukan kepastian. Tidak ada yang mutlak, kecuali Allah SWT.

B. ​Keyakinan bahwa tidak ada yang mutlak benar, kecuali kebenaran Illahi. Kebenaran ilmiah dan temuan-temuan ilmiah adalah kebenaran relatif.

C. ​Oleh karena tidak ada ramalan kepastian masa depan dan tidak ada kebenaran mutlak, maka manusia cenderung menjadi rendah hati dalam berpendirian, membuka diri untuk berargumentasi.

Semangat inilah yang menurut Utomo terdapat dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Semangat inilah yang mampu mengendalikan manusia dan kemanusiaannya dari keserakahan dan ketakutan dengan mencari kepuasan spiritual atau rohani. Inilah kecenderungan manusia terpelajar. Mereka menjadi pluralis, yaitu semangat yang mengakui kenyataan yang beragam dan bergaul secara beradab. Mereka menjadi toleran, yaitu sikap menghormati perbedaan dan keterbukaan untuk pengujian oleh siapa pun. Mereka menjadi berpikir positif, yaitu memandang orang lain juga dilahirkan dengan fitrah kesucian dan cenderung pada kebaikan. Inilah prinsip-prinsip universal tentang kebenaran dan keadilan yang bermuara pada persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan. Menurut Utomo Dananjaya dari sinilah kader PII meretas identitas dan membangun karakter untuk menjawab permasalah-permasalah pendidikan yang ada di Indonesia.

Tulisan Utomo Dananjaya yang selanjutnya mengenai kebebasan pendidikan yaitu ditulis pada tanggal 20 Mei 2002 di Jakarta. Tulisan ini berbentuk artikel yang berjudul “Ideologi Pendidikan yang Membebaskan”. Seperti kebanyakan artikel yang lain, artikel ini pula terdapat dalam sebuah buku karya Utomo yang berjudul Sekolah Gratis. Tulisan Utomo Dananjaya ini didasarkan pada permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia, yaitu pendidikan formal di Indonesia masih menjadi bagian dari tradisi pendidikan zaman Hindia Belanda. Dimana sekolah didirikan untuk melahirkan tenaga berketrampilan baca tulis untuk kepentingan perusahaan perkebunan dan pabrik orang-orang Belanda. Selanjutnya pemerintah jajahan memerlukan tenaga rendahan, mulailah Kerajaan Belanda menyediakan anggaran pendidikan dan membuka sekolah terbatas jumlahnya dan pesertanya. Untuk orang kebanyakan dibuka sekolah rakyat dan untuk anak orang bangsawan, kaya dan pegawai negeri dibuka HIS, ELS dan HCS sesuai kebutuhan pemerintah dan jenjang pendidikan lebih tinggi. Jelas sekali kebijakan ini bersifat diskriminatif.

Setelah Indonesia merdeka, melalui masa Orde Baru, pendidikan merupakan satu unit yang tidak memberikan sumbangan lain kecuali memainkan peran melestarikan hegemoni kekuasaan dalam kerangka sistem yang sudah dipersiapkan. Guru tidak memiliki kebebasan nurani dan murid terampas kebebasan perkembangan potensi-potensinya. Fajar kebebasan pendidikan baru dimulai oleh Mendiknas yang pada saat itu menjabat yaitu Malik Fadjar, melengkapi kebebasan politik, kebebasan pers, kebebasan beribadah dan kebebasan berbicara. Akan tetapi menurut Utomo, euphoria kebebasan tidak gegap gempita seperti dunia politik dan pers. Dunia pendidikan telah mengidap budaya bisu, dominasi birokrasi masih berat menindih kebebasan praktik kelas, karena kualitas guru tidak bisa diandalkan.

Sekali lagi Utomo Dananjaya memaparkan dalam tulisannya ini bahwa residu penjajahan masih mempengaruhi pendidikan guru yang mengandung dua kekeliruan. Pertama, kekeliruan anggapan bahwa makin tinggi sekolah makin complicated, oleh karena itu memerlukan guru yang makin tinggi sekolahnya. Yang kedua adalah, akibat dari kekeliruan yang pertama yaitu pendidikan SD terabaikan. Ilmu pendidikan yang pada dasarnya sangat mendalam membahas pendidikan dasar, tidak menjadi objek studi perguruan tinggi keguruan. Menurut Utomo Dananjaya terdapat tantangan perbaikan sistem persekolahan dan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Menurutnya dunia pendidikan nasional belum kondusif untuk mengalirnya kreativitas masyarakat dan otonomi sekolah atau guru. Dalam tulisannya ini Utomo menuliskan program strategis untuk memecahkan permasalahan tersebut. Menurut Utomo menteri yang membuka fajar perubahan kiranya patut merumuskannya pemecahan masalah mendasar yaitu arus murid dan praktek kelas.
A.​ Meningkatkan kelancaran arus murid dengan wajib belajar sampai SMU, yang didukung oleh anggaran belanja negara. APBN sektor pendidikan bukan hanya jumlahnya harus memadai, tetapi juga alokasi penganggaran menuntut perubahan sasaran pada pemerataan memperoleh pengajaran bagi setiap warga negara. Yaitu membebaskan biaya sekolah buat semua warga negara dari SD sampai SMU, dengan sedikit pengecualian bagi yang mampu.

B. ​Meningkatkan kualitas praktek kelas, dimana guru menduduki tempat yang paling strategis. Guru harus diangkat menjadi profesional, yaitu diperoleh melalui tingkat pendidikan universitas. Guru adalah sarjana S1 yang memperoleh pendidikan khusus profesi seperti dokter atau notaris. Program guru profesional, juga akan meningkatkan wibawa guru dan minat menjadi guru, karena dengan sendirinya akan mendapat balas jasa yang sepadan. Guru profesional hanya satu yaitu GURU.

Untuk selanjutnya, tulisan Utomo Dananjaya yaitu yang berjudul “Meretas Pendidikan yang Membebaskan” yang di tulis pada tanggal 1 Oktober 2002. Tulisan ini menjelaskan bagaimana Indonesia yang telah beratus-ratus tahun memperoleh pendidikan dan telah menjadi bangsa yang merdeka tetapi hasilnya adalah pendidikan tidak berhasil melahirkan manusia-manusia yang produkti dengan inspirasi, inovasi dan kreasi. Berlimpahnya penduduk tidak menjadi kekuatan yang mengubah, malah menciptakan pengangguran dan masalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Pendidikan di Indonesia menurut Utomo Dananjaya selama ini hanya nampak sebagai upaya untuk memaksakan keyakinan-keyakinan orang tua, telah membunuh daya pikir dan kreativitas. Pendidikan telah menjadi upaya industri seperti mesin, dengan memperlakukan anak-anak sebagai bahan baku yang dicetak menjadi Sumber Daya Manusia yang siap bekerja di pabrik. Bahkan menurut Utomo juga pendidikan modern telah mendorong manusia menjadi individualis, melupakan kenyataan sebagai makhluk sosial, dilatih untuk mengalahkan dan menyisihkan yang lain. Dan tes serta ujian membagi murid menjadi si pintar dan si bodoh. Melalui 200-an tahun sekolah negeri di negara maju dan 100-an tahun sekolah negeri di Indonesia, pendidikan sekedar membentuk manusia menjadi pekerja dan warga negara. Itu pun pekerja kelas rendah.

Selama tahun 1970-an bermunculan literatur dalam sains, filsafat dan sejarah kebudayaan yang memberikan konsep untuk menggambarkan cara pemahaman terhadap pendidikan atau sekolah. Yaitu cara berpikir holistik, mencakup dan mengintegrasikan berbagai makna dan pengalaman ketimbang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan. Menurut Utomo, setiap anak tidak diperlakukan sekadar tenaga kerja di masa depan, dan tidak diukur dengan tes dan ujian nasional, akan tetapi berlandaskan pada pandangan dasar bahwa perkembangan setiap pribadi menuju kedewasaan, menemukan atau mengenal identitas dirinya, makna dan tujuan hidup. Dalam tulisannya ini Utomo menulis judul besar yaitu Belajar Sepanjang Hayat, yang menurutnya pada saat ini sudah berkembang pikiran bahwa prinsip cara pembelajaran adalah: belajar bagaimana belajar, belajar bagaimana tumbuh berkembang, belajar bagaimana belajar berbuat, dan belajar bagaimana mencintai kehidupan.

Utomo juga berpendapat bahwa belajar itu tidak hanya di dalam kelas, tetapi belajar dalam kehidupan nyata, belajar adalah melalui pengalaman langsung dengan kehidupan dan lingkungan, belajar sepanjang hayat. Belajar adalah proses pengalaman melakukan, merenungkan, menganalisis dan menyimpulkan. Semua proses tersebut akan menopang pertumbuhan sehingga menjadi manusia bebas yang dewasa atau manusia dewasa yang bebas. Beberapa prinsip cara belajar yang membebaskan adalah menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak-anak merasakan dan mendapatkan susana bebas. Walaupun tidak ada satu pun cara terbaik dalam proses pembelajaran, menurut Utomo Dananjaya ada banyak jalan belajar dan pendidikan holistik, yang menghargai warga belajar berkembang secara alamiah menjadi dewasa.

Yang terakhir dalam tulisannya ini, Utomo Dananjaya mengatakan bahwa pendidikan guru masa lalu tidak membekali guru dengan kemampuan dan ilmu. Lebih tragis lagi menurutnya pemerintah telah salah menghapus IKIP (Institusi Keguruan dan Ilmu Pengetahuan) menjadi universitas. Maka inilah negeri dimana tidak ada upaya sengaja dan terencana mendidik guru. Menurut Utomo, upaya mendidik guru harus berupa penciptaan guru profesional agar tumbuh pengakuan dan penghargaan bahwa guru adalah profesi. Yaitu, guru yang dilahirkan oleh universitas dengan spesialisasi guru, sehingga martabat guru sejajar dengan dokter, pengacara, notaris dan lain sebagainya.

Sumber :

1. Utomo Dananjaya, Sekolah Gratis, (Jakarta: Paramadina , 2005).

2. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas (Terjemahan oleh Utomo Dananjaya,dkk), (Jakarta: LP3ES, 1985)

3. William F. O’neil, Ideologi-Ideologi Pendidikan, alih bahasa oleh Omi Intan Naomi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).

4. Utomo Dananjaya, “Pendidikan dan Kebebasan Manusia (Sebuah Pembelajaran dari Kader PII)” (artikel: 8 Mei 2002).

5. Utomo Dananjaya, “Ideologi Pendidikan yang Membebaskan” (artikel: 20 Mei 2002), Utomo Dananjaya, “Meretas Pendidikan yang Membebaskan” (artikel: 1 Oktober 2002).

Selanjutnya

Artikel Terkait