Artikel

Menciptakan Lailatul Qadar Kita Sendiri

Oleh Sabrur R Soenardi*)

Hari-hari ini kita tengah memasuki saat-saat terpenting di bulan Ramadhan. Sebab, sekarang kita berada di 10 hari terakhir Ramadhan. Jika kita tidak bisa menafaatkannya dengan baik untuk beribadah, maka kita sangat rugi, karena bisa-bisa kita tidak berpeluang meraih malam Lailatul Qadar. Sebaliknya, kita malah suntuk dan sibuk dengan persiapan mudik atau menyambut Hari Raya.

Lailatul Qadar adalah sebuah malam yang nilainya lebih baik ketimbang 1000 bulan. Ia adalah malam di mana Allah telah menurunkan Alquran. Itulah kenapa ia dinamakan malam yang penuh berkah (al-lailah al-mubarakah).

Kenapa dinamakan Lailatul Qadar? Kalau kita buka kamus Arab, misalnya al-Ma’ani al-Jami’, disebutkan bahwa kata qadr adalah isim (kata benda) tunggal yang jamaknya adalah aqdar. Kata qadr, disebut dalam kamus tersebut, mengandung arti “waktu atau tempat dari sesuatu yang telah ditentukan” (waqt al-syai’ au makanahu al-muqaddaru lahu). Juga disebutkan bahwa qadr mengandung arti pula, “ketentuan yang telah Allah tentukan kepada seorang hamba” (al-qadla’ alladzi yaqdli bihiAllah ‘ala ‘ibadihi). Sementara itu, pakar bahasa Ibn al-Atsir mengatakan, bahwa qadr, secara bahasa, adalah isim mashdar (kata benda dasar) dari qadara-yaqdiru-qadran, yang mengandung pengertian tentang “sesuatu apa saja yang Allah tentukan, yang dengan sesuatu itu Allah menghukumi segala macam perkara” (‘ibaratun ‘amma qadlahu Allah wa hakamabihi min al-umuri).

Itu pengertian secara bahasa. Sedangkan secara terminologis, dikatakan bahwa dinamakan Lailatul Qadar adalah karena ia merupakan malam yang memiliki kedudukan (khusus) dan kemuliaan, dzatu qadrin wa syarafin. Ia malam yang sangat diharapkan kedatangannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana titah Nabi SAW kepada kita agar mencarinya di sepuluh hari yang akhir (al-‘asyr al-awakhir). Dinamakan Lailatul Qadar, dengan demikian, karena agungnya kedudukan serta kemuliaan malam tersebut. Kedudukannya begitu agung di hadapan Allah, karena pada malam itu diturunkan kitab yang memiliki kedudukan khusus (yakni: Alquran), dengan perantaraan malaikat yang memiliki kedudukan khusus (yakni Jibril), kepada Nabi yang memiliki kedudukan khusus (yakni Muhammad), untuk umat yang memiliki kedudukan khusus (yakni umat Islam). Terbukti, setelah turun Alquran, umat yang dituju itu, yakni umat Islam, menjadi umat yang terhormat dan terangkat derajatnya di mata Allah.

Turunnya Lailatul Qadar di setiap tahunnya, dengan demikian, bisa diartikan untuk mengingatkan secara terus-menerus kepada umat Islam bahwa jika mereka ingin memiliki kedudukan dan derajat yang agung baik di dunia maupun akhirat, maka mereka harus kembali kepada Alquran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari. Sebab, Alquran sendiri telah mendeklarasikan diri sebagai “petunjuk bagi manusia” (hudan li al-nas) dan “penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu” (bayyinatmin al-huda), serta “pembeda antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk” (al-furqan).

Pertanyaan lebih jauh lagi, kenapa Allah berkenan memilih malam tersebut untuk menurunkan kitab-Nya yang mulia? Ini setidaknya terkait dengan makna qadr sebagaimana disebut di dalam telaah kebahasaan di atas, yakni “ketentuan” atau “ketetapan”, sehingga Lailatul Qadar bisa dimaknai sebagai momen penentuan atau penetapan atas segala urusan (min kulli amr). Alquran adalah kitab suci nan agung, yang diproyeksikan untuk mengatur hidup manusia secara total dan revolusioner, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kegelapan menuju cahaya. Nah, untuk meneguhkan proyeksi fundamental semacam itu, tentulah diperlukan saat yang istimewa yang disebabkan oleh pelbagai keistimewaan yang meliputi sekujurnya: lebih baik dari 1000 bulan (khair min alfi syahr), para malaikat turun dengan dipimpin oleh Jibril (tanazzal al-mala’ikatu wa al-ruhfiha), serta dipenuhi kedamaian sepanjang malam itu (salamunhiya hatta mathla’ al-fajr). Dialah Lailatul Qadar atau “malam ketetapan/ketentuan”.

Nabi SAW menganjurkan setiap Muslim untuk berusaha mengejar Lailatul Qadar, menghadangnya, bukan sekadar menunggunya, dengan jalan beribadah mendekatkan diri kepada Allah baik salat malam (taraweh), tadarus, iktikaf dan tafakur di masjid, dst. Bersamaan dengan itu, ia (Muslim) juga menyadari segala dosa kelemahannya, sambil memperbanyak amalam istighfar atau minta ampunan kepada Allah. Dalam hal ini, Nabi mengajarkan doa yang harus diamalkan secara intensif setiap habis taraweh, yakni, “Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbal-‘afwa fa’fu ‘anni” (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Zat yang Pemaaf, mencintai permohonan maaf, maka maafkan segala salahku). Jika hal ini dilakukan secara sadar dan penuh keinsafan batin, niscaya akan berbekas di dalam jiwa, sehingga menimbulkan rasa kedamaian atau ketentraman (salam), serta bisa mengubah sikap kejiwaan seseorang secara total dalam menjalani kehidupannya sejak itu hingga hari-hari selanjutnya. Pendek kata, itu akan menimbulkan kesadaran ruhani yang pada gilirannya membawa dampak positif bagi kehidupan seseorang.

Memang, sih, “ketetapan” (qadr) atau “pengkhidmatan batin” semacam itu bisa (saja) datang kapan saja sewaktu-waktu. Akan tetapi, pada bulan Ramadhan, khususnya di sepuluh hari terakhir di mana jiwa setiap Muslim memasuki masa-masa akhir penggemblengan batin, kadar terwujudnya dua hal itu (ketetapan dan pengkhidmatan batin) lebih besar peluangnya. Itulah alasannya, Nabi SAW mengatakan bahwa kehadiran Lailatul Qadar adalah di malam-malam terakhir Ramadhan.

Apabila seorang Muslim telah memperoleh “momentum kesadaran ruhani” (Lailatul Qadar), maka akan berubahlah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Momentum tersebut seakan-akan merupakan batu pijakan pertama dari kebajikan di sepanjang usianya, sekaligus merupakan saat “penetapan” atau “penentuan” bagi kehidupannya di alam akhirat kelak. Sejak saat itu, hingga akhir hayatnya, ia akan merasakan kedamaian dan ketentraman. Malaikat juga serasa hadir di dalam hidupnya, untuk mengokohkan jiwanya, mendorongnya berbuat kebaikan dan menghindari keburukan.

Walhasil, sampai di sini, dalam lanskap pengertian seperti di atas, ada satu benang merah yang mungkin bisa diambil, bahwa sangat mungkin Lailatul Qadar atau “malam penetapan” tersebut bukanlah sesuatu yang given, semacam paketan ladunni dari Allah, sehingga seakan-akan hanya Allah saja yang tahu dan berhak menentukan siapa yang akan meraihnya. Sebaliknya, sangat mungkin bahwa ia sebenarnya adalah momentum keinsafan batin yang bisa kita ciptakan sendiri pada tiap Ramadhan, tentu dengan syarat dan prosedur tertentu yang harus kita lalui sebagaimana dijelaskan di atas tadi. Inilah makna terdalam dari anjuran Nabi, bahwa kita tidak boleh hanya menunggu Lailatul Qadar, tak ubahnya laksana menunggu bintang jatuh dari langit. Sebaliknya, kita harus menghadang dan mengejarnya. Artinya bahwa peran utama untuk bertemu dengan momentum itu justru ada pada kita (manusia).

Maka bersyukurlah bagi orang yang sudah mendapatkan momentum berharga tersebut. Bagi yang belum, mungkin ketika kita sudah memasuki saat-saat terakhir Ramadhan seperti ini, yang kita tahu dan sadari hanya tinggal beberapa hari saja, maka seyogianya segera beranjak dari kemalasan dan secepatnya beraksi. Jangan sampai kita tidak pernah bertemu dengan momentum tersebut, karena tidak ada jaminan bahwa setiap orang yang bertemu satu Ramadhan akan menemuinya lagi di lain waktu, padahal momentum seperti itu hanya berpeluang hadir di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.[]

*) Penulis adalah alumnus Ma’had al-Wathoniyah al-Islamiyah, Petanahan, Kebumen dan PPs UIN Sunan KalijagaYogyakarta, serta eksponen PII Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait