Artikel

Menanti Momen Debat Capres Putaran Kedua

Oleh: Dr. Bambang Sutrisno*

Perhelatan debat capres cawapres perdana telah memantik reaksi publik yang sangat dinamis. Masing-masing pendukung dari kedua paslon capres cawapres saling mengunggulkan jagoannya dengan mengklaim telah memenangkan perdebatan secara telak. Begitulah sekilas gambaran serba serbi perbincangan publik pasca debat perdana capres cawapres.

Sementara kalangan akademisi dan civil society pada umumnya merasa kurang puas. Harapan petahana mampu membeber data dan fakta keberhasilan selama berkuasa tidak terpenuhi, bahkan cenderung melokalisir persoalan besar berbangsa dan bernegara ke dalam ruang pemikiran sempit yang sangat tidak substantif. Demikian juga harapan munculnya gagasan besar paslon 02 untuk mengelola Indonesia sesuai impian rakyat juga tidak terpenuhi.

Indonesia adalah negara besar dan memiliki peranan yang sangat strategis dalam percaturan dunia internasional. Indonesia dengan cakupan wilayah yang sangat luas ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan cadangan sumber kekayaan alam melimpah sangatlah beralasan membuat negara lain tergiur untuk berinvestasi di bumi pertiwi ini. Oleh karena itu Indonesia membutuhkan tampilnya figur pemimpin kuat dan memiliki keunggulan leadership yang benar-benar teruji.

Indonesia adalah negara besar dengan kompleksitas persoalan yang sangat luar biasa. Persoalan luar biasa hanya dapat diatasi melalui tindakan luar biasa oleh orang dengan tingkat kemampuan luar biasa. Dalam konteks ini melalui perhelatan debat capres cawapres kedua nanti diharapkan kedua paslon mampu mengekaplorasi gagasan-gagaaan besarnya sebagai bentuk tawaran konsep kebijakan strategis mewujudkan wajah masa depan Indonesia yang lebih menjanjikan.

Melalui debat capres cawapres kedua nanti rakyat ingin melihat secara objektif siapa di antara kedua paslon yang akan berlaga di arena pilpres 2019 yang benarl-benar layak mendapat kepercayaan untuk mengelola negeri ini.

Perhelatan debat capres cawapres diharapkan mampu menjadi sarana pendidikan politik untuk mencerdaskan rakyat. Aksentuasi penilaian publik terhadap kedua paslon tentu saja berbeda. Terhadap paslon 01 yang notabene sebagai petahana, publik akan menilai sejauh mana komitmen dan kemampuannya merealisasikan janji-janji politiknya berdasarkan data dan fakta objektif yang dapat dipertanggungjawabkan. Dari sini rakyat akan memperoleh bahan pertimbangan objektif dan rasional untuk menentukan layak tidaknya petahana dipercaya melanjutkan masa kepemimpinannya untuk periode kedua. Sementara penilaian publik terhadap paslon 02 lebih tertuju pada sejauh mana kredibelitas gagasan dan konsep kebijakan strategis yang mereka tawarkan untuk memperbaiki kondisi republik ini. Tentu saja harus disertai landasan argumentasi rasional, realistis dan terukur.

Rakyat tidak menuntut janji berlebihan. Rakyat hanya menginginkan kepastian bahwa kedua paslon benar-benar memahami secara utuh substansi konsep kebijakan strategis yang mereka tawarkan sehingga mampu merealisasikannya secara tepat. Apalah artinya konsep kebijakan kalau hanya indah di telinga tetapi tidak pernah berwujud dalam kehidupan nyata. Rakyat menuntut originalitas pemikiran para calon pemimpinnya. Rakyat merindukan tampilnya sosok pemimpin yang benar-benar berdaulat dalam menyikapi setiap persoalan yang muncul. Rakyat tidak menginginkan pemimpin simbolik hanya menjalankan kehendak pihak lain dan secara nyata dapat membahayakan kelangsungan masa depan bangsa dan negara. Oleh karena itu, sekali lagi marilah kita jadikan momen debat capres cawapres 2019 sebagai sarana evaluasi demokrasi untuk melahirkan sosok pemimpin kredibel, kapabel dan akseptabel.(Sudono Syueb/ed)

*(Dosen Pascasarjana Uniska, Kediri, Jatim dan Caleg PAN untuk DPRRI Dapil Jatim 8 no urut 5)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up