Artikel

Menakar Nalar Larangan Bercadar

Oleh Iswandi Syahputra

Dalam kasus cadar UIN Sunan Kalijaga, saya melihat ini sebagai peristiwa politik, atau game politik. Bukan peristiwa akademik, sehingga merasa perlu mengeluarkan semua dalil atau pendapat ulama dan berbagai mazhab fiqh serta literatur berbahasa asing (Arab dan Inggris).

Mengapa ini peristiwa politik atau game politik? Karena argumen ‘melarang’ cadar yang digunakan adalah argumen politik melalui pendekatan keamanan negara. Bukan argumen hukum (atau fiqh), HAM, akhlaq, busana atau argumen akademik lainnya.

Cadar dilarang untuk mencegah radikalisme. Bagi saya ini argumen politik dengan pendekatan kemananan negara. Sebab, jika alasannya mencegah radikalisme yang dikhawatirkan merongrong NKRI, itu tentu menjadi urusan aparat kepolisian untuk mencegah dan menumpasnya. Rektor cukup membuat laporan ke polisi tentang adanya potensi radikalisme di kampus UIN Sunan Kalijaga. Atas dasar laporan itu (atau tanpa laporan, karena ini menyangkut keamanan negara) polisi dapat bertindak.

Dalam debat wacana seperti ini, bagi yang merasa kontra dengan ‘larangan bercadar’ tadi, sebaiknya fokus pada argumen larangannya, bukan pada objek yang dilarang. Di sini, seharusnya argumen melarang cadar menjadi subjek yang diperdebatkan. Bukan sebaliknya, menjadikan cadar sebagai subjek perdebatan. Sedangkan yang terjadi saat ini, memperdebatkan cadar atau pengguna cadar-nya, bukan argumen melarang penggunaan cadarnya.

Mengapa UIN Suka melarang mahasiswi menggunakan cadar?

Sebelum dijawab, benarkah UIN Sunan Kalijaga melarang mahasiswi menggunakan cadar?

Mari kita lihat jejak argumennya:

1). Awalnya, berdasarkan surat Rektor, UIN Suka hanya akan mendata dan membina mahasiswi bercadar. Dalam proses pembinaan akan dibentuk tim konseling yang terdiri dari lima dosen dari berbagai disiplin ilmu bertanggung jawab melakukan pembinaan.

Sejatinya argumen ini lemah, karena penuh dengan stigma negatif tentang cadar hingga sampai perlu diambil kebijakan membina mahasiswi bercadar.

2). Kemudian diajukan argumen berikutnya. Mahasiswi bercadar patut diduga menganut Islam “yang berlawanan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Islam moderat di Indonesia.” Hingga “pembinaan” tadi dilakukan┬ádalam rangka menyelamatkan mereka dari ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Saya melihat cadar justru lebih dekat dengan konservatif daripada paham radikal atau fundamental. Perlu kejelian sosiologis dan kehati-hatian saat mengurainya. Sampai di sini, publik bisa berdebat lagi bukan?

Namun demikian, argumen ini juga sebenarnya lemah. Sebab, baru diduga koq sudah dibina?

Siapa sebenarnya pihak yang memiliki otoritas untuk menentukan ada pihak yang berlawanan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945?

3). Setelah ramai di media sosial dan media massa, kontroversi ini berubah menjadi opini publik. Opini publik memiliki sifat penyederhanaan. Karena itulah walau awalnya UIN Sunan Kalijaga hanya akan ‘mendata dan membina’ mahasiswi bercadar, tapi publik menyederhanakannya menjadi UIN Suka melarang mahasiswi bercadar.

4). Hingga sampailah kita pada perdebatan luas soal UIN melarang mahasiswi bercadar. Seperti banjir, ini kategori banjir bandang, bukan lagi genangan. Semua tertarik dan masuk dalam arus perdebatan karena aslinya masyarakat kita surplus religiusitas dan surplus politik.

Kalau sudah begini bagaimana? Saya ingin melihatnya kontroversi ini dari sisi positif saja.

Rektor UIN Sunan Kalijaga sukses besar dalam membangun personal branding-nya sebagai satu-satunya Rektor yang berani tampil naik panggung untuk speak out membawa narasi besar tentang relasi keislaman dan kebangsaan. Ada gagasan besar yang hendak diwartakan dan ditawarkan oleh Rektor.

Tampil di TV nasional itu tidak mudah dan tidak murah. Tarif iklan TV saat prime time 1 menit bisa 40 juta. Rektor tampil menyampaikan gagasannya dengan cerdas di sejumlah stasiun TV nasional saat prime time itu sudah memberi profit dan benefit tersendiri bagi UIN Sunan Kalijaga.

Terlepas dari semua polemik, saya tentu saja harus salut dan hormat pada Rektor yang berhasil ‘belanja keberanian’ menembus semua sekat polemik dan kontroversial demi menyampaikan sebuah substansi gagasan penting tentang relasi Islam dan Negara.

Dan, Indonesia butuh pemimpin dan pemikir dengan karakter seperti ini.

Sementara sisi negatifnya, biarlah itu tugas orang lain yang membahasnya. Saya hanya ingin menikmati ini sebagai game. Menyenangkan, jadi jangan dibuat terlalu tegang…

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: