ArtikelFeatured

Membongkar Identitas Nasrudin Joha

Diksi, Narasi dan Esensi

Oleh : Ahmad Sastra (Pengajar Filsafat dan Peradaban)

Nama Nasjo mendadak tenar. Istilah ini bukan akronim dari Nasi Sambel Ijo atau Nanas Ijo, bukan. Nasjo adalah akronim dari Nasrudin Joha. Dalam sejarah, nama Nasruddin atau Nasreddin adalah seorang sufi satrikal dari Dinasti Seljuk. Tokoh ini dipercaya hidup pada abad ke 13 di Akshehir, dekat Konya, ibu kota dari kesultanan Rum Seljuk, sekarang di Turki.

Nama lengkapnya Nasruddin Hoca (Turki), dikenal sebagai sufi dan filosof yang diceritakan dalam berbagai anekdot yang lucu dan penuh makna. Di Arab dikenal sebagai Nasruddin Juha, sementara di Usbek dikenal dengan nama Nosiriddin Hodza. Orang Indonesia biasanya mengenal tokoh lucu ini dengan nama Nasruddin Hoja. Bahkan di tempat tinggalnya (Turki), ada acara festival Nasreddin Hodja dirayakan secara internasional setiap tanggal 5-10 Juli.

Di Eropa kisah-kisah Nasruddin Hoja muncul dalam buku Aesop’s fables,
The Miller, His Son and The Monkey dan The Ass with a Burden of Salt serta The Satyr and the Treveller. Di Bulgaria, ada beberapa dokumen kisah yang berasal Kesultanan Utsmaniyah dengan nama Sly Peter. Di Sisilia kisah yang sama menyertakan seorang pria bernama Giufa.

Dalam kultur Sefardim, yang tersebar di seluruh Kesultanan Ustmaniyah, ada tokoh bernama Djoha yang muncul dalam banyak cerita. Di Rusia, sebagian besar rakyat mengenal kisah Nasruddin dari novel Tale of Hodja Nasreddin yang ditulis oleh Leonid Solovyov. Karya ini telah diterjahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Beggar in the Harem : Impudent Adventures in Old Bukhara (1956) dan Disturber of the Peace (2009). Tinkle, buku komik anak-anak dari India, memasukkan tokoh Nasruddin sebagai salah satu ceritanya.

Komposer bernama Shostakovich menjadikan tokoh Nasruddin pada gerakan kedua (Yumor, humor) dari Sympony no 13 nya. Sementara catatan dari Yevgeny Yevtusshenko menjadikan humor sebagai senjata melawan kediktatoran dan tirani. Dalam buku Beelzebub’s Tales, penulis yang merupakan penganut kebatinan, G.I. Gurdjieff sering menyebut Nasreddin dalam bukunya dengan istilah Mullah Nasre Eddin kami tersayang dan istilah guru tak terbandingkan.

Saya sendiri (Ahmad Sastra) adalah pembaca setia kisah-kisah Nasrudin Joha saat masih nyantri sejak tahun 1992. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih membaca buku berjudul Menertawakan Akal Menghitung Bintang, Anekdot Satire Nashruddin Khoujah. Buku yang diterbitkan Risalah Gusti 1997 ini merupakan terjemah dari Nawadiru Juha al Kubra, terbitan Darul Kutub al Ilmiah Beirut, tanpa tahun.

Jika dilihat dari latar belakang ini, mungkin nama Nasrudin Joha yang kini banyak dibicarakan adalah sosok yang ingin mengikuti jejak Nasreddin Hodja yang hidup di zaman kekhalifahan dan selalu memberikan kritik dan nasehat kepada penguasa dengan gaya lucunya. Sementara Nasrudin Joha (Nasjo) mengkritik rezim yang dia anggap zalim dengan gayanya tersendiri. Dalam bahasa sebagian pembaca dan pengkritik Nasjo, karakter tulisan Nasjo dinilai kasar dan brutal.

Persamaan Nasreddin Hodja masa lalu dengan Nasrudin Joha masa kini adalah sama-sama memberikan nasehat dan kritik kepada penguasa dan rezim. Gaya anekdot yang disampaikan Nasreddin Hodja kepada khalifah mungkin saat itu adalah gaya yang tepat mengingat seorang khalifah sangat mudah untuk diluruskan jika bersalah.

Sekedar sebagai contoh adalah pidato politik Umar Bin Khathab sesaat setelah dibait sebagai khalifah. “ Wahai kaum muslimin, aku dipilih memimpin kalian, bukan karena aku terbaik diantara kalian. Jika aku berbuat baik, maka dukunglah aku, jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Kebenaran itu amanah, sementara kebohongan adalah pengkhianatan. Yang terlemah diantara kalian adalah terkuat bagiku, hingga aku kembalikan haknya. Jangan pernah meninggalkan jihad, sebab merupakan kehinaan. Patuhilah aku, selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Jika aku mendurhakai Allah dan RasulNya, maka tidak ada kewajiban patuh kepadaku. Dan sekarang, marilah kita melaksanakan sholat, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian semua”.

Sementara Nasrudin Joha (Nasjo) zaman now berada dalam rezim diktator yang bebal dan menolak dinasehati. Dari berbagai tulisan Nasjo, nampaknya dia sangat anti kezaliman. Rezim sekarang dalam pandangan dia adalah rezim diktator, zolim dan anti Islam. Pembubaran ormas Islam, kriminalisasi ulama dan perilaku bohong dan curang selalu menjadi sorotan Nasrudin Joha dalam setiap goresan penanya.

Tidak selalu salah jika ada orang yang menganggap tulisan Nasjo kasar dan brutal, meski kadang anggapan itu soal subyektifitas juga. Namun alih-alih Nasjo dibenci masyarakat, yang terjadi justru banyak yang mendukung Nasjo. Beberapa dukungan yang kini justru muncul misalnya : Kami Nasjo, Nasjo mewakili hati nurani kami, Nasjo adalah kami, jika anti kezoliman adalah Nasjo, maka Nasjo adalah aku. Meski ada juga yang bercanda, seperti penulis hijraher unik Doni Riw dengan istilah Nasjo adalah nganu dalam tulisannya berjudul Nasjo versus Nasbung, Tulisan versus Culekan.

Gaya literasi Nasjo memang unik dan cukup holistik. Narasi perlawanan yang dia suarakan nampaknya mewakili berbagai kalangan yang hidup dalam rezim kekuasaan di Indonesia bahkan dunia. Saya juga tidak tahu, kapan Nasjo lahir. Andai ia sudah ada sejak zaman Soekarno dan Soeharto, mungkin dia juga akan lantang melawan rezim. Kebetulan dia hadir di dalam rezim sekarang, maka suara lantangnya tumpah hari ini, mewakili suara rakyat yang merindukan keadilan dan kesejahteraan.

Tak tanggung-tanggung, tokoh-tokoh Nasional seperti Jokowi, Wiranto, LBP, SBY, Nusron Wahid, Rumahurmuzi, Hendropriyono, Prabowo, Ahok, Setnov, Amien Rais, AHY, Tito Karnavian dan lainnya menjadi sasaran nasehat dan kritik Nasjo. Partai-partai politik seperti Golkar, PDIP, Nasdem, Demokrat, PPP, Hanura, Gerindra, PKB dan lainnya juga diajar untuk berfikir dan sadar akan langkah-langkah politiknya. Tak ketinggalan negara seperti China dan Amerika juga mendapat kritik tajam sebagai negara penjajah negeri-negeri muslim. Nasjo… nasjo.

Narasi Nasjo bukan hanya mengarah pada satu aspek persoalan berbangsa dan bernegara. Meski secara esensi, gaya narasi lebih kental dengan nuansa politik, namun Nasjo juga banya menulis tentang (dari) ekonomi, pendidikan, budaya, militer, sosial, agama, hingga bilik-bilik rumah tangga. Nasjo membangun argumentasi dan analisa yang rasional dan mudah dicerna.

Literasi nakal Nasjo juga secara gamblang melawan berbagai sistem politik ekonomi yang mendzalimi rakyat. Dengan tegas Nasjo anti kapitalisme, neokolonialisme, liberalisme, demokrasi, sekulerisme, nasionalisme, pluralisme, materialism dan tentu saja komunisme dan ateisme. Baginya, sistem ideologi ini adalah sesat dan menyesatkan.

Secara diksi, pilihan kata tulisan Nasjo sangat mewakili rakyat jelata yang berfikir praktis dan sederhana. Sesekali diksi Nasjo juga bisa mewakili sastrawan. Secara narasi, pemikiran Nasjo bisa mewakili suara kaum politisi dan aktivis pergerakan. Secara esensi, tulisan Nasjo bisa mewakili kegundahan kaum intelektual, budayawan, ulama terhadap kondisi bangsa yang kian karut marut ini.

Mungkin bagi Gus Muwaffiq, yang konon (katanya) mencari sosok Nasjo justru akan kesulitan menemukannya, sebab kian hari makin banyak orang yang justru mengaku dirinya sebagai Nasjo. Bisa dibayangkan jika ada 100 juta rakyat mengaku dirinya Nasjo, karena merasa terwakili isi hatinya, bagaimana Gus Muwaffiq mau mencarinya. Bahkan saya juga yakin, bahwa Gus Muwaffiq juga anti terhadap kedzliman dan penjajahan, bedanya hanya soal intepretasi saja.

Jika ada istilah, “suara golkar suara rakyat”, mungkin istilah ini akan kalah pamor dengan istilah baru “suara Nasjo suara rakyat”. Secara diksi, narasi dan esensi, nampaknya suara Nasjo mewakili mayoritas rakyat negeri ini yang rindu akan keadilan, kesejahteraan, persatuan, kemanusiaan, kedaulatan, kemerdekaan, keadaban, dan yang anti terhadap kezoliman, penjajahan, kebohongan, kecurangan, pengkhianatan, diskriminasi, dan kediktatoran.

Tanpa sadar Nasjo telah membuat garis polarisasi yang tajam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Narasi Nasjo telah mampu menggelombangkan kesadaran dan keberanian bangsa Indonesia melawan berbagai bentuk ketidakadilan kekuasaan dan pengkhianatan atas rakyat. Aksi 212 bela Islam yang menghadirkan 7 juta rakyat Indonesia adalah salah satu bentuk gelombang kesadaran dan kebangkitan umat. Mungkin tahun depan, dengan narasi Nasjo, aksi bela Islam akan tembus 15 juta rakyat.

Jadi kapan membongkar identitas Nasjonya ?. Nah itu dia, saya hanya bisa menganalisa diksi, narasi dan esensi. Mungkin saya juga sama dengan Gus Muwaffiq, akan kesulitan mencari orangnya, sebab makin dicari, makin banyak yang ngaku sebagai Nasjo. Terus piye iki….., Doni Riw saja sampai bingung dan menyimpulkan Nasjo adalah nganu hehe…..

Jadi kesimpulannya, membongkar identitas Nasjo adalah membongkar diri kita sendiri. Jika kita adalah orang yang anti penjajahan, anti kezoliman, anti pengkhianatan dan anti kebohongan, maka kitalah Nasjo itu. Gampang kan nyari orangnya, langsung bisa ketemu. Tapi jika kita adalah orang yang pro kedzaliman, pro penjajahan dan pro kebohongan, maka Nasjo bukanlah kita. Hidup adalah pilihan, mau jadi Nasjo atau melawan Nasjo, wes sak karepmu…….

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up