ArtikelFeatured

Membaca Tanda, Siapakah Presiden Pilihan Langit?

Oleh : Supriyatno Yudi

Hiruk pikuk kampanye sudah dilalui (hampir selesai). Ribuan huruf sudah tercurahkan dalam adu kata-kata. Dialektika, logika, pro-kontra, berkecamuk dalam perang pemikiran. Argumen tiap saat membuncah meligitimasi analisis. Kini, saatnya mengistirahatkan akal sebagai panglima. Agar pilihan akhir benar-benar sempurna.

Waktunya sekarang berdialog dengan tanda-tanda dari Tuhan. Saatnya bercakap dengan suara langit. Karena membaca dan berpikir dengan akal bukanlah panglima. Einstein pernah berujar “The Intuitive Mind Is a Sacred Gift and the Rational Mind Is a Faithful Servant” (Pikiran Intuitif Adalah Karunia Suci dan Pikiran Rasional Adalah Hamba yang Setia).

Ucapan Einstein ini selaras dengan epistemologi sufistik: akal hanya prajurit dari nafsu atau hati (qolbu). Jika lebih mementingkan cinta, suka, dan benci maka ia sedang menjalankan perintah nafsu. Jika ia bertindak atas nama pertimbangan benar-salah, maka akal sedang berjuang menjalankan perintah hati. Tentu saja hati yang suci, bukan yang tertutupi.

Pertimbangan kedua kenapa akal tidak dikedepankan, karena banyak kejadian, peristiwa, dan tanda yang tidak bisa dicerna oleh akal. Sepanjang kontestasi kandidat Pilpres ini kita sering menjumpai peristiwa kebetulan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal.

James Redfield dalam novelnya, Celestine Prophecy, menjelaskan bahwa di setiap peristiwa kebetulan selalu ada pesan atau pertanda. Ferdinand de Saussure lebih rinci menjelaskan bahwa di dalam sebuah TANDA itu ada PENANDA dan PERTANDA. PENANDA merupakan bentuk meterialistik yang bisa diindera, seperti peristiwa atau kejadian alam. Sedangkan PERTANDA itu adalah ide, nilai, atau pesan yang membuat tanda menjadi berharga.

Maka, temukanlah pesan yang ada di dalam setiap peristiwa ‘kebetulan’ itu. Ini selaras dengan ajaran Islam: “dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)….” (al-An’aam: 59); dan “… Allah mengatur urusan (makhluk-Nya).” (ar-Ra’d: 2).

Dengan kata lain peristiwa yang dianggap ‘kebetulan’ oleh manusia sebenarnya bukanlah kebetulan, namun berada dalam Sunnatullah dan kehendak Allah. Untuk itulah, di dalam peristiwa itu selalu ada pesan. Terutama dari Sang Maha Pencipta.

Tugas kita adalah menangkap pesan itu. Untuk kemudian dibaca secara komprehensif, baik secara objek maupun cara mengetahui. Lantas bagaimana membaca pesan langit? Iqra’. Bacalah ayat-ayat qauliyah (Al-Quran), dan ayat-ayat kauniyah (ayat atau tanda berupa ciptakan Allah, berupa benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini)

Atau dalam pendapat lain yang lebih detail, menjelaskan bahwa membaca secara komprehensif itu terhadap tiga hal: al-masthur (Al-Quran), al-manzhur (aturan atau hukum alam dan ayat-ayat semesta), dan al-mansyur (aturan atau hukum masyarakat dan ayat-ayat jiwa).

Untuk masuk ke wilayah epistemologi atau cara mengetahui seperti ini tentu tidak bisa akal sebagai panglima. Namun harus dimulai dari keimanan. Iman yang ada dalam hati yang bersih. Bukan hati yang kotor dan tertutupi. Jika hati kotor maka rusaklah seluruh tubuhnya (HR. Bukhari-Muslim). Namun saya yakin kita semua adalah pemilik hati yang bersih.

Dengan kebersihan inilah hati bisa bekerja (rasionalitas hati) mencerna tanda atau pesan dari langit dengan baik. Kebersihan hati juga lebih menjamin objektivitas atau independensi dari gangguan akal yang sudah taut nilai. Berikut akan dipaparkan deretan tanda dan peristiwa kebetulan yang muncul selama perhelatan Pilpres ini.

Tanda di Kubu 01

Banyak tanda dan peristiwa kebetulan yang terjadi pada kegiatan pasangan Jokowi-Ma’ruf. Pertama, adalah tanda alam. Pada 4 Febuari 2019, di Pamekasan acara istighosah relawan Jokowi-Maruf diterjang puting beliung. Sejumlah kaca gedung pertemuan pecah, triplek runtuh, dan lampu mati. Khofifah Indar Parawansa pun dikabarkan menangis.

Pada 31 Maret 2019, dua kejadian alam menimpa kubu 01 di dua tempat berbeda. Tenda acara lomba melukis bersama Puan Maharani di Solo ambruk diterpa hujan dan angin kencang. Di Makassar, Lapangan Karebosi, acara kampanye akbar yang dihadiri Jokowi sejak awal sudah diguyur hujan. Meski acara tetap dilanjutkan namun tak berlangsung lama. Panggung pun kemudian ambruk diterpa puting beliung.

Tanda yang kedua adalah peristiwa yang menimpa pengisi acara. Pada kampanye Jokowi di Banjarmasin, 27 Maret 2019, Iriana terjengkang di atas panggung. Dalam rekaman video yang beredar, Jokowi sempat menoleh ke arah Iriana, namun ia tetap melanjutkan aksi selfie dan membiarkan Iriana yang terjengkang.

Sehari setelah peristiwa itu, 28 Maret 2019, vokalis Hijau Daun terjatuh di atas panggung kampanye 01 di Kabupaten Mesuji. Tiga hari berselang, 31 Maret 2019, giliran Inul Daratista yang terjengkang di atas panggung, ketika bernyanyi di acara kampanye Jokowi Ma’ruf di Sulawesi Selatan.

Berikutnya adalah tanda ketiga, berupa respon alam dan manusia terhadap kandidat. Pada 30 Januari saat menghadiri panen raya Tambak Udang di Muara Gembong, Bekasi, tangan Jokowi berdarah. Ia dipatil udang. Selang tiga hari, pada 2 Februari 2019, ia bertemu pendukungnya dan diberi gelar ‘jancuk’. Sepekan kemudian, pada 10 Februari 2019, saat berpidato di acara deklarasi dukungan untuk dirinya, Jokowi dipatuk microphone.

Tanda keempat adalah sesuatu yang keluar dari capres. Banyak sebenarnya tanda yang keluar dari gerak laku Jokowi. Setidaknya ada tiga yang cukup kuat: 1) Ia berbohong soal tidak memakai dana saat Pilgub DKI, di depan orang (Prabowo) yang membiayainya; 2) Ia menyuguhkan data yang salah dan menyerang pribadi Prabowo saat debat; dan 3) Jokowi marah saat berkampanye di Yogyakarta dengan berteriak “Saya akan lawan!”

Tanda kelima berupa blunder yang dilakukan cawapres, Ma’ruf Amin (MA). Ada empat blunder yang cukup kuat: 1) Di Pondok Pesantren Nurul Islam pada 27 September 2018, MA berujar bahwa “pada bulan Oktober akan diluncurkan mobil nasional bernama Esemka.” 2) MA menggunakan istilah budek dan buta, saat berpidato di acara deklarasi dukungan ormas di Cempaka Putih, Jakarta Timur, 10 November 2018; 3) Di kediaman pribadinya di Menteng pada 13 November 2018, MA menyebut Jokowi merupakan salah satu santri dari Situbondo; dan 4) Pada 6 Februari 2019, MA mengungkapkan bahwa dirinya akan memberantas buta Qur’an di Sumbar.

Tanda keenam adalah pertanda (pesan/citra) kandidat: 1) Jokowi menjadi imam sholat meski makhraj dan tajwidnya salah; 2) Narasi kebohongan. Setiap ucapan lawan, bahkan rakyat dianggap bohong dan menyerang; 3) Narasi kelas. Rakyat dibelah dalam kelas-kelas, dibenturkan antar ormas, mazhab, agama, dan proletar-kapitalis.

Tanda ke tujuh adalah dinamika figur pendukung: 1) Romy Romahurmuziy (figur dalam lingkaran terdekat) dan Bowo Sidik Pangarso (amplop cap jempol untuk serangan fajar) ditangkap KPK; 2) La Nyalla Mataliti dan Yusril Ihya Mahendra menyerang Prabowo, malah dihujat publik; 3) Tuan Guru Bajang dan Yusuf Mansur bersaksi atas bacaan quran dan puasa Jokowi direspon negatif publik.

Tanda di Kubu 02

Pertama, tanda alam. Tegal, 11 Februari 2019, kedatangan Sandiaga di Desa Herjosari disambut sorak gempita. Bukan hanya menyambut cawapres, tapi juga, bersamaan dengan kedatangan Sandi, ada cincin pelangi mengelilingi matahari tepat atas kepala mereka. Tanda alam kedua adalah adanya penampakan awan mirip lafadz Allah saat kampanye akbar 02 di GBK , 7 April 2109.

Tanda kedua sesuatu yang terjadi pada pengisi acara. Jika Jokowi di Yogyakarta marah dengan ucapan yang memekik, Prabowo terlihat emosional juga di atas panggung saat berkampanye di Yogyakarta. Ia menggebrak podium beberapa kali.

Ketiga, tanda berupa respon alam dan manusia terhadap kandidat. Setiap acara kampanye 02 selalu ramai. Antusiasme terlihat. Hadirin bahkan berlomba memberi sumbangan. Kandidat dilempar uang. Spanduk rakyat yang dibuat manual dari barang bekas bertebaran. Di Serang, saat melintas menuju tempat kampanye Prabowo dicegat, dihadiahi durian.

Tanda keempat adalah sesuatu yang keluar dari Capres. Prabowo sering berkata yang berujung pada diskursus yang akhirnya mencerahkan. “Gaji tukang parkir lebih besar dari gaji dokter” ujat Prabowo. Kemudian terungkap fakta honor per tindakan untuk dokter yang menangani pasien BPJS hanya Rp 2.000. Sedang Sandiaga selalu mengeluarkan perkataan yang menyejukkan dan mempersatukan.

Tanda kelima berupa blunder yang dilakukan BPN. Hasyim Djojohadikusumo dianggap membuat blunder dengan mengungkapkan jatah menteri untuk PAN dan PKS.

Tanda keenam adalah pertanda (pesan/citra) kandidat: 1) Prabowo tak pernah mengekspose kegiatan ibadah, dan berujar bahwa “ia tak pantas menjadi imam sholat, yang jadi imam harus lebih tinggi ilmunya.” 2) Narasi yang diusung 02 adalah persatuan dan merangkul. Sandiaga tak segan menyalami pendukung 01 yang mengintimidasinya ketika sedang kampanye ke daerah.

Tanda ke tujuh adalah dinamika figur pendukung: 1) Puisi Neno Warisman menjadi kontroversi; 2) Rocky Gerung semakin menggema dengan gerkan akal sehat; 3) Perizinan acara dan dukungan dipersulit dan di intimidasi.

Makna Tanda

Membaca tanda alam, sepertinya alam kurang bersahabat dengan kubu 01. Begitupun tanda yang dibawa manusia. Acara 01 seringnya sepi meski dengan berbagai pengerahan dan dana besar. Pemberian gelar jancuk pun tetap bermakna negatif, meski sudah diberi arti lain.

Sebaliknya, alam lebih bersahabat dengan 02. Bahkan alam menampilkan keindahan menakjubkan (cincin pelangi matahari) ketika Sandiaga berkegiatan di Tegal. Betul bahwa fenomena puting beliung dan cincin matahari adalah hal biasa, namun ia akan memiliki makna tersendiri ketika berelasi dengan waktu, tempat, dan kegiatan.

Lautan dan gelombang manusia pada saat kegiatan 02 pun memberikan energi yang positif. Antusiasme tergambar. Meski dikabarkan dibeberapa tempat dihalang-halangi dan intimidasi.

Kebohongan (bahkan bohong di depan orang yang membiayainya di pilgub DKI), salah data, menyerang personal Prabowo dan kemarahan Jokowi di Yogyakarta adalah tanda ia telah kehilangan marwah sebagai pemimpin. Dalam kosmologi Jawa, Jokowi kehilangan wahyu langit. Atau dalam budaya Bali, Jokowi telah kehilangan taksu. Daya tarik Jokowi di 2014 memudar.

Sebaliknya Prabowo yang diam saat diserang secara pribadi oleh Jokowi saat debat, telah melekatkan Prabowo pada pribadi yang baik. Beradab baik. Bahkan dalam kacamata filsafat kepemimpinan Jawa, Prabowo telah mendapat pulung untuk memenagkan Pilpres.

Prabowo pun marah saat di debat berikut dan marah saat berkampanye di Yogyakarta. Anehnya ini pun direspon positif publik. Kemarahan Prabowo dinilai wajar karena membela negara, dan marah negara yang dikuasai asing. Artinya kemarahan Prabowo demi negara, sedangkan Jokowi demi ‘Saya‘.

Sedangkan kiai Ma’ruf tampaknya serupa dengan Jokowi. Ia kehilangan kharisma sebagai ulama ketika terjebak dalam beberapa blunder yang bernuansa kebohongan (Esemka akan dilaunching, Jokowi santri); berkata kasar (budek dan buta); dan meremehkan kemampuan orang Sumbar dalam membaca Al-Quran.

Berbeda dengan Sandiaga mengaku sebagai santri, ia tampil dengan ramah dan tawadlu. Ia pun tampil merangkul semua golongan masyarakat, bahkan dengan pendukung kompetitor.

Bagaimana dengan pendukung? Pendukung 02 tampaknya lebih menarik simpatik publik. Tertangkapnya Romy dan Bowo Sidik, serta pendekatan kekuasaan yang dilakukan pendukung 01, cenderung menjauhi energi publik. Sedangkan adab dan ketertiban pendukung 02 seperti kegiatan tidak merusak taman, sampah dibersihkan setelah acara semakin mengkapitalisasi energi perubahan.

Ada tanda yang kurang produktif dari 02, seperti jatah menteri bagi PKS dan PAN. Namun, ini masih dianggap sebagai bentuk kejujuran dan fairness dalam kekuasaan. Masih dinilai wajar. Begitupun dengan kontroversi puisi Neno Warisman, kalah dengan energi penyadaran Rocky Gerung.

Gerakan massa (berupa antusiasme kehadiran di acara, sumbangan, bantuan logistik, dan spanduk rakyat) adalah tanda terbesar yang sulit dirasionalisasi. Orang datang berebut tidak dibayar, ekonomi susah malah turut menyumbang, spanduk pun mereka yang buat dengan bahan seadanya. Dalam sejarah kontestasi politik baru kali ini tangan publik di atas tangan kandidat.

Tidak masuk di akal? Ya, jika dilihat dari kelaziman. Namun, jika kembali kepada rasionalitas hati, maka inilah tanda terbesar langit. Tuhanlah yang Maha Membolak-balikan hati manusia. Dialah yang menggerakan hati jutaan orang. Hanya Dia yang mampu.

Jika bahasa langit sedemikian jelas, maka tanda mana lagi yang akan kau dustakan?

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up