Artikel

Membaca Gestur Debat Kedua Pilgub DKI

Dari gestur terbaca, malam ini bukanlah panggung milik Agus-Sylvi tapi milik paslon dua dan tiga.

 

Oleh: In’amul Mustofa

Debat yang ditunggu oleh masyarakat Jakarta, alhamdulillah berjalan lancar dan memuaskan.

Beberapa catatan gestur yang teramati dari ketiga pasang paslon. Ada kejutan namun juga masih landai.

Agus Yudhoyono memulai pembukaan dengan langkah kaki agak berat dan pandangan awal condong ke bawah. Pembukaan dengan salam, tapi saat menutup lupa salam. Babak pertanyaan pertama Agus mencoba untuk cermat dengan menulis hal-hal yang ditanyakan. Langkah ke depan sudah diikuti dengan dinamika tangan. Bahkan pada sesi tanggapan Agus mulai berjalan dari sisi dalam, tatapan ke depan kadang lebih banyak ditunjukkan pada paslon nomer dua.

Sesi tanya jawab Agus membuat pertahanan dengan sedekap tangan yang kuat pada posisi duduk. Penggunaan waktu, Agus hampir bisa tepat. Sayang ternoda oleh Sylvi di pertengahan yang melantur. Pun juga ada gestur jempol ke bawah yang ditunjukkan oleh Sylvi.

Secara keseluruhan gestur paslon nomer satu agak sedikit nervous. Performanya turun bila dibandingkan saat debat sebelumnya. Makin terlihat saat Sylvi out of control.

Sedang paslon dua memulai dengan pembukaan penuh percaya diri, ambil posisi dan tidak bergeser sedikitpun kakinya. Sesi awal dengan pertanyaan pembuka, Ahok sibuk buka kertas data, seperti mencari sesuatu. Meski akhirnya yg menjawab terlebih dahulu adalah Djarot.

Kadang mata Ahok bertebaran ke sana kemari. Namun diikuti dengan frase atoau kalimat dengan intonasi lebih pelan. Di pertengahan pasangan dua juga mentertawakan kelalaian waktu yang digunakan oleh Silvy.
[nextpage title=”Dari gestur yang tampak”] Dari gestur yg tampak paslon dua mencoba tampil lebih baik dan bisa disebut berhasil. Ahok bisa lebih terkendali, frase lebih pelan dan jelas. Bahkan ketika di provokasi paslon tiga, Anies. Ahok tidak menanggapi.

Sedang gestur pada paslon tiga Anies-Uno, memulai dengan cantik yakni salam Imlek, tersenyum dan gerak tangan yang selalu terbuka. Namun kadang juga menunjuk paslon tertentu, terutama paslon dua. Senyum Anies di pertengahan sudah diikuti dengan tarikan ujung sisi kanan kiri cenderung ke bawah. Uno di awal dengan pandangan pindah-pindah durasi pendek dan cepat. Berbeda saat sudah di pertengahan , Uno bisa menyapa hadirin dengan satu sapuan mata.

Secara kasat mata anis bisa tampil maksimal, hanya tarikan bibir yang agak ke bawah ini yang bisa memberi kesan arogan. Paslon tiga memang yamg paling ofensif dibanding paling lain, mengambil posisi untuk menyerang.

Dari gestur terbaca, malam ini bukanlah panggung milik Agus-Sylvi tapi milik paslon dua dan tiga.


In’amul Mustofa, pengamat politik

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up