Artikel

Memahami Sejarah Cina di Batavia Masa Lalu untuk Mengerti Masa Kini

Oleh: Z.A. Maulani

NONPRI DALAM PEREKONOMIAN DI ZAMAN VOC

Peran masyarakat keturunan Cina dalam Ekonomi Keuangan dan Perdagangan bukanlah sesuatu yang baru. Kiprah keturunan Cina di bidang tersebut telah ada jauh sejak abad XVI dan XVII.
Leonard Blusse mengutip surat surat laporan VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) kepada para Direktur Kompeni “Tuan-Tuan Yang Bertujuhbelas” (Heren XVII) di negeri Belanda memberikan gambaran yang sangat rinci dan menjelaskan peran orang Cina generasi pertama dalam Ekonomi Keuangan dan Perdagangan di Batavia dan Nusantara pada umumnya.

Ketika Batavia jatuh ke tangan kompeni Belanda pada 30 Mei 1619 masyarakat Huaqiao (Cina Perantauan) generasi pertama telah memegang peranan yang cukup signifikan dalam kehidupan perekonomian di Batavia maupun Nusantara pada umumnya. Bidang kegiatan yang digeluti orang Cina perantauan pada masa itu telah sangat luas dan bervariasi. Kehadiran mereka di Batavia dan Banten, misalnya, bervariasi mulai dari kuli untuk menggali kanal-kanal yang tengah dibangun kompeni di kota Batavia, penebang pohon di hutan-hutan di luar kota untuk keperluan pembangunan kubu- kubu pertahanan dan tempat permukiman, di perkebunan-perkebunan gula sebagai pengrajin, maupun nelayan.

Beberapa diantara mereka telah memiliki kedudukan cukup berarti, beberapa orang dapat dipadankan dengan konglomerat masa kini, berhasil mendapatkan kontrak dari kompeni untuk penarikan pajak rumah-rumah judi yang dimulai diberlakukan sejak 1620, sebagai kontraktor pembangunan fasilitas umum, sebagai “makelar” resmi penyalur tenaga kerja, pemegang monopoli pembuatan garam, yang kemudian diperluas dengan monopoli pembuatan mata uang, dan yang terpenting, kompeni Belanda memberi kepercayaan dalam rangka memanfaatkan pengetahuan mereka tentang wilayah yang baru direbut Kompeni itu untuk menjadi perantara dengan penduduk pribumi.

Pertimbangan untuk menjadikan orang Cina menjadi pedagang perantara didukung oleh kenyataan bahwa mata uang picis (timah-hitam), chien (tembaga) dan Tael (perak) yang mereka datangkan dari daratan Cina merupakan alat pembayaran yang populer di Nusantara.

Di Batavia saja telah berhasil muncul beberapa orang “konglomerat” Pada masa itu. Salah seorang yang sangat terkenal bernama Sum Kong (sebutan lidah Belanda menjadi “Jan Con” — meninggal 1639), selain tokoh Su Ming-Kang (1580-1644) Kapiten Cina di Batavia.

Sum Kong, imigran generasi pertama yang datang dari Fujian. Core Business-nya berniaga lada hitam dari Banten. Selain mengumpulkan lada hitam, Sum Kong juga berkiprah dalam pembelian berbagai hasil bumi, seperti kamfer dari Borneo dan Sumatera, sarang burung, cula badak, intan dan batu-batu berharga, dan sebagainya. Dari perdagangan hasil bumi itu saja, pajak yang harus dibayarkannya kepada Kompeni pada 1 Maret 1622 mencapai 600 Tael.

Karier Sum Kong diawalinya ketika ia mendapatkan sebidang kebun kelapa di Batavia dari Kompeni pada 1 Agustus 1620.

Bisa dibayangkan betapa gigihnya Sum Kong, karena dalam tempo hanya 2 tahun (1620-1622) ia telah berhasil mengakumulasi kekayaan yang luar biasa. Tentu saja itu tidak akan mungkin dicapainya tanpa berkolusi dengan pejabat-pejabat Kompeni.

Untuk kepentingan berbagai usahanya itu, Sum Kong berhasil menjalin persahabatan dengan empat Gubernur Jenderal sejak dari Pieterszoon Coen sampai kepada Van Diemen.

Sejarah memberi tahu kita, betapa setelah tiga setengah abad berlalu, watak orang Cina sebagai pengejar untung belum berubah.

( *Z.A. Maulani, Alm mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara. Ditulis 1997*).

Selanjutnya

Artikel Terkait