Artikel

Mazhab Capres

Oleh: M. Saleh Mude

Mantan aktivis PII Sulsel

 

Pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) adalah pesta demokrasi lima tahunan dan terakbar di tanah air yang akan dihelat 13 April 2019.

Untuk pilpres, duo (dua) tokoh (anak) bangsa yang kembali bertarung ulang pada pilpres 2019: Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi). Keduanya kini memiliki tim sukses, relawan, pendukung dan calon basis pemilih fanatik. Sejarah akan mencatat siapa jawara dan pecundang.

Prabowo, lahir 17 Oktober 1951, 67 tahun, keturunan ningrat. Prabowo adalah mantan bos Kopassus (TNI), sudah tiga kali memegang tiket pilpres, belum pernah juara. Tahun 2009, sebagai cawapres ibu Megawati Soekarnoputri. Tahun 2014 maju sebagai capres menggandeng Hatta Rajasa, dan kini ketigakalinya, berpasangan Sandiaga Uno.

Sementara Jokowi, lahir 21 Juni 1961, 57 tahun, anak rakyat biasa. Jokowi adalah mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Jokowi menjadi pemenang pilpres 2014 berpasangan M. Jusuf Kalla. Jokowi kini sebagai petahana (incumbent).

Siapa pemenangnnya? Sejarah akan mencatat corak, gaya, dan pengaruh antara Prabowo atau Jokowi. Jika Prabowo terpilih akan lahir ideologi atau mahzab pemikiran baru, Prabowoisme atau Prabowonomics. Begitu pula jika Jokowi berlanjut menjadi presiden sepuluh tahun, bakal muncul kosa kata baru Jokowisme atau Jokowinomics dari pendukung dan pengikut setianya.

Penambahan dan pelabelan istilah “isme, nomics, atau mahzab” di belakang nama seorang tokoh itu lumrah dalam sejarah pemikiran oleh pendukung berat dan pengikut fanatiknya. Kita sudah kenal misalnya istilah Soekarnoisme, Soehartoisme, Habibienomics, Kallanomics, atau mahzab Hanafi, Syafii, Hambali, Syiah, dan lain-lain.

Tanah Abang, 11 September 2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait