ArtikelFeatured

Marahnya Jokowi dan Prabowo

Oleh : Zeng Wei Jian

Di Stadion Kridosono Yogyakarta, Jokowi dan Pak Prabowo merilis intense emotional message. High pitch. Marah.

Serupa tapi tak sama. Jokowi marah karena merasa dirinya difitnah, direndahkan, dan dihujat. Dia ngga tahan. Dia ingin lawan. “Ingat sekali lagi, akan saya lawan!” ancamnya.

Intonasi Pak Prabowo meninggi saat bicara seputar antek-antek asing dan kinerja buruk BUMN. Dia gregetan.

Everyone has a breaking point. Kesabaran ada batasnya. Marahnya Jokowi bersifat self-centered. Pak Prabowo bicara nation-wide.

Dalam psikologi, Jokowi’s wrath masuk kategori “Hasty and sudden anger” karena ditrigger oleh impulse for self-preservation.

Sedangkan ekspresi Pak Prabowo disebut “Settled and deliberate anger” reaksi yang dihasilkan oleh perceived deliberate harm atau unfair treatment by others.

Sudah 70 tahun Indonesia Merdeka. Tapi rakyatnya miskin. Asing mengeksploitasi sumber daya alam. Pejabat korup. Tebang pilih hukum.

Anger becomes righteous when you use it to defend the rights of another, without nursing any selfish motive,” kata Dada J. P. Vaswani.

Jokowi marah karena rakyat protes. Dia merasa kritik dan protes adalah hinaan, hujatan dan fitnah.

Anger is designed to protect the self, and, in doing so, results in a greater willingness to take risks,” kata Lerner & Keltner.

Demi protect the self, Jokowi akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya rakyatnya sendiri.

To protect the law and the nation, Pak Prabowo juga akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya pihak asing, exploiters, komprador dan koruptor lokal.

Ada konsensus di antara ahli psychology. Actually, anger is a good emotion that sometimes is misunderstood or irrationally misused.

Jokowi’s irrational misused of anger tampak mengerikan. Bila dikasi kekuasaan lebih, dia berpotensi menjadi tirani. Just like Nero.

Semua protes rakyat yang diinterpretasi Jokowi sebagai fitnah dan hujatan berlangsung selama 4,5 tahun. Artinya, tidak ada evalusi diri dan internal correction. Ngga ada perubahan. Jokowi tetap melakukan apa yang menjadi sumber gugatan.

Listen Jokowi, As Aristotle has said, “You are what you repeatedly do.”

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: