Artikel

Maling Teriak Maling. Siapa Propagandis Rusia Sesungguhnya?

Oleh: Muhammad Taufik Rahman*

Stigma negatif paling kuat yang dilekatkan oleh lawan-lawan politik Prabowo Subianto saat ini adalah mereka disebut sebagai kelompok penyebar hoax. Stigma ini ini dinarasikan dengan cukup baik dan masif dari tingkat akar rumput hingga level pimpinan elitnya. Indikasi terbarunya bahkan dapat dilihat dari tuduhan terbuka yang dilemparkan oleh Jokowi sendiri, bahwa kelompok ‘penyebar hoax’ itu menggunakan ‘Propaganda Rusia’ yang disebut ‘Selang Pemadam Kebohongan’. Akan tetapi, seberapa kuat tuduhan ini dapat dibuktikan kebenarannya? Mari kita lihat.

Pertama, istilah ‘penyebar hoax’ sendiri pada dasarnya bisa dikategorisasikan sebagai black campaign atau kampanye hitam model ‘name calling’ yang memiliki asosiasi jelek, berbahaya, dan mengandung nuansa kebohongan. Apa pasal? Karena julukan ini dibuat dari generalisasi kasuistik. Dari komodifikasi atau pembesaran kasus-kasus kecil yang seluruhnya diasosiasikan pada kelompok pendukung Prabowo Subianto. Bukan berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan pada keseluruhan gejala strategis.

Kedua, tuduhan serius bahwa kelompok pendukung Prabowo Subianto menggunakan ‘Propaganda Rusia’ yang secara substansial mengandaikan penggunaan media sebagai alat pemancar kebohongan yang masif, kenyataannya tidak dapat dibenarkan karena tuduhan ini tidak disertai dengan bukti-bukti yang kuat. Istilah ‘Propaganda Rusia’ ini pun akhirnya menjadi paradoks; di satu sisi mengindikasikan bahwa ada orang lain yang secara terus-menerus melakukan kebohongan, tetapi di sisi lain, penuduhnya juga tidak bisa membuktikan bahwa tuduhan mereka benar. Tentu saja ‘benar’ dalam arti mereka memiliki bukti bahwa kebohongan di pihak lawan benar-benar diproduksi oleh kelompok Pro Prabowo.

Ketiga, ‘ukuran kebenaran’ dalam konteks ‘post truth’, dimana kebenaran saat ini sangat sulit dinilai secara hitam-putih, terukur dan objektif, memungkinkan semua orang membentuk kerangka kebenarannya masing-masing secara subjektif. Perbedaan dalam memahami kebenaran ini cenderung menjadi tajam jika afiliasi politik dilibatkan. Selama orang lain memiliki perbedaan pandangan politik satu sama lain, maka selama itu pula mereka dalam posisi yang salah.

Dalam konteks Pilpres RI 2019, ini berarti menyangkut semua hal. Lihat pernyataan Ketua PBNU beberapa waktu lalu, “Kalau menteri agama bukan dari NU, salah semua.”Pernyataan ini tidak ‘ujug-ujug’ keluar dari lontaran Said Aqil pribadi semata-mata, tetapi punya referensi kuat dengan kecenderungan dari berbagai kelompok NU menstigmatisasi ulama-ulama pendukung Prabowo sebagai antitesis. Perhatikan dengan baik bagaimana mereka mengaitkan HTI yang sudah bubar sebagai ‘hantu ideologisnya’ dalam perspektif menilai benar atau salah tindakan Prabowo Subianto dan pendukungnya. Kasus ini tentu hanya merupakan contoh kecil dari representasi NU yang besar. Tetapi saya ingin menunjukkan, jika strategi kampanye pilpres saja sudah menggunakan paradigma ideologis, maka selanjutnya semua hal akan diukur berdasarkan kepentingan kelompok-kelompok ormas semacam itu, bukan berdasarkan kepentingan representatif semua kelompok di Indonesia. Dari sini mudah saja melihat, tuduhan bahwa satu kelompok terlibat sebagai ‘penyebar hoax’ bisa jadi bukan karena mereka sudah benar-benar berbohong; tetapi mungkin saja karena mereka berbeda pandangan soal selera politik dan cara merebut pengaruh keagamaan.

Keempat, semua kampanye hitam tetap saja kampanye hitam meskipun itu disampaikan dengan cara dan beragam kemasan yang baik oleh orang yang memiliki reputasi tinggi sekalipun. Pelibatan term ‘penyebar hoax’ atau pengulangan tematik terkait dalam pernyataan-pernyataan politik yang ditujukan kepada lawan politik dapat dipandang sebagai bagian strategi kultural kampanye hitam yang secara tidak langsung memperkuat tuduhan bahwa kenyataannya seolah-olah telah terjadi. Padahal tidak sama sekali.

Pelibatan dan pengulangan term itu tidak akan pernah bisa membuktikan apakah kelompok lawan melakukan sebaran hoax atau tidak; tetapi tanpa disadari, justru menambah-nambahi kuantitas hoax dalam bentuk yang lain. Ini justru mengacaukan prospek kebenaran yang sebenarnya. Bagaimana mungkin memetakan sebuah kebenaran jika pada saat yang sama, anda terus-terusan berteriak bahwa orang lain pasti selalu menyebarkan hoax tanpa bisa menunjukkan buktinya? Jangan-jangan malah anda sendiri yang menciptakan kebohongan ‘bahwa orang lain sudah bohong’ supaya anda terlihat paling benar? Maling terik maling maksudnya. Nah, kalau ini yang sebenarnya terjadi, maka itulah esensi ‘Propaganda Rusia’ yang sesungguhnya: menyembur stigma secara intens bahwa orang lain menyebar kebohongan, tetapi justru anda sendiri yang sejatinya sedang menyebar kebohongan.

* Kooordinator Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia.

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0