Artikel

Makna “Imanan wa Ihtisaban”

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Bagi peradaban modern yang materaliastik, ibadah puasa mungkin dianggap aneh dan diabaikan. Tetapi itu sesuatu yang lumrah, karena peradaban materialisme (alhadlârah al-mâddiyyah) memang hanya percaya pada adanya jasad, menafikan ruh;  hanya percaya pada dunia yang ada sekarang saja, tidak mengimani adanya alam akhirat. Oleh karena itu, sudut pandang materialisme memang tidak akan sejalan dengan ibadah yang menekankan pengekangan syahwat meski hanya sebentar saja (dari fajar hingga maghrib, sebulan saja lamanya), demi mendidik pemiliknya untuk menggapai kualitas diri yang lebih baik secara lahir dan batin.

Sesungguhnya setiap individu di dunia modern sekarang ini ingin mencapai kualitas yang lebih baik dalam kehidupannya. Soal tubuh jasmani misalnya, setiap orang ingin hidup secara sehat, terhindar dari penyakit, sehingga bisa berumur panjang dan lebih lama menikmati hidup. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita “bermuamalah” secara baik dengan tubuh kita, memenuhi hak-hak tubuh dengan sebaik-baiknya? Secara biologis dan medis, sesungguhnya fungsi utama makanan yang kita asup secara umum hanya dua: (1) untuk kita tumbuh, dan (2) untuk kita bergerak. Bagi anak-anak dan remaja, apa yang mereka makan akan membantu mereka tumbuh dan bergerak. Sedangkan bagi orangtua, fungsi kedua saja yang dibutuhkan. Masalahnya adalah, jika makanan yang masuk ke perut kita tidak diatur, baik itu menunya, kandungannya, jadwal makannya, dsb, maka justru akan menjadi gangguan di dalam tubuh kita, lalu secara perlahan-lahan akan membuat tubuh kita lemah, tidak bisa bergerak, dan bahkan diam sama sekali (mati).

Para pakar kesehatan sepakat, bahwa segala penyakit bersumber dari apa yang masuk ke perut. Semakin banyak yang masuk ke perut, maka terbuka peluang datangnya penyakit. Sebaliknya, semakin sedikit yang masuk ke perut, semakin sehatlah seseorang. Islam meresepkan hidup sehat ketika Nabi SAW menganjurkan bahwa perut seseorang semestinya dibagi tiga ruang. Diriwayatkan dari al-Miqdam bin Ma’dikarib al-Kindi berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,  “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah anak Adam makanan (dalam redaksi Ibn Majah “suapan-suapan kecil”) yang menegakkan tulang punggungnya.  Jika harus lebih dari itu maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara.” (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Hakim).

Dan, ibadah puasa adalah tips atau cara bagaimana hidup sehat dengan manajemen perut yang baik, karena prinsip puasa adalah: memilih sedikit tetapi cukup (al-qalîl al-kâfî) dan menghindari banyak tetapi justru bikin penyakit (al-katsîr al-mu’dzî).

Nabi SAW sendiri memberi teladan ihwal anjuran itu. Beliau tidak terlalu terganggu dengan ada tidaknya makanan di rumahnya. Seringkali di pagi hari beliau bertanya kepada Aisyah Ra: “Adakah di situ yang bisa dimakan?” (atsamma mâ yuftharu bih)? Jika tidak ada, maka hari itu beliau meniatkan diri untuk berpuasa hari itu. Jika ada makanan, maka beliau akan memakannya (lihat, misalnya, HR Muslim, 3/160). Dan, yang menarik, beliau menjalani hari ketika beliau puasa itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Beliau tidak risau dengan hari-harinya, selalu setia menunggu rizki Tuhannya datang tanpa keraguan sedikit pun, karena yakin, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudian; sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6).

Puasa, tentu saja puasa yang baik, akan mendidik pelakunya untuk biasakan diri berjuang mengekang hafa nafsunya dan syahwatnya, agar jangan meniru hewan ketika makan. Ketika makan, hewan terkadang rakus, apa saja dilahap, dan makan sekenyang-kenyangnya. Allah menjadikan kita manusia, maka seyogianya kita bertingkah layaknya manusia, bukan seperti hewan, ketika makan. Kita selalu diingatkan, bahwa kekenyangan, konsumsi makanan yang terlalu banyak, hanya akan mengundang banyak gangguan di dalam perut kita, yang paling nyata  menyangkut pencernaan. Jika terus berlanjut, hal itu akan mengundang penyakit, dan wal akhir penyakit mengundang kematian.

Orang yang tak tahu perintah agama, yang tak paham makna dan manfaat puasa, tentu saja akan pilih bersenang-senang mengumbar syahwat perutnya laksana hewan. Tetapi, kata Allah, “Biarkan saja (di dunia ini) mereka makan, mereka bersenang-senang, biarkan mereka terbuai oleh angan-angan, pada saatnya mereka nanti akan mengetahui (akibatnya).” [QS al-Hijr: 3]. Juga firman-Nya yang lain, “Dan orang-orang kafir, mereka bersenang-senang dan makan-makan layaknya hewan ketika makan, dan neraka akan menjadi tempat mereka kelak.” (QS Muhammad: 12).

Sebaliknya, orang yang berpuasa menghindari bersenang-senang; ia tak pedulikan keroncongan di perutnya, desah keinginannya, dan tetap sabar karena semata-mata berharap balasan yang lebih baik di sisi Allah SWT, balasan yang hanya bisa didapat kelak saat berjumpa dengan-Nya: “Itulah hari di mana semua manusia dikumpulkan, dan itu adalah hari yang disaksikan.” (QS Hud: 103).

Ganjaran akhirat itulah yang dijanjikan Rasul SAW dalam hadisnya: “Siapa yang puasa Ramadhan didasari iman dan berharap ganjaran Allah, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lewat.” Kalimat atau frasas “îmânan wa ihtisâban”, mengandung makna bersungguh-sungguh, berjuang, tanpa mengharap pahala atau ganjaran kontan, tidak meminta balasannya sekarang (di dunia), karena balasan tersebut menjadi simpanan di sisi Allah, sebagaimana disinyalir oleh Alquran: “Itulah hari yang pasti terjadi maka barang siapa menghendaki, niscaya ia bisa memilih tempat kembali kepada Tuhannya.” (QS al-Naba’: 39).

Nabi juga menjelaskan, bahwa orang yang berpuasa akan mendapat kegembiraan pada saat berbuka, saat melepas dahaganya dengan seteguk minuman, saat menghilangkan laparnya dengan sesuap makanan. Itu kegembiraan di dunia. Lantas, apa dan bagaimana kegembiraan mereka di akhirat? Kegembiraan tersebut di antaranya bahwa mereka mendapati diri mereka di antara orang-orang yang sama-sama memiliki simpanan ganjaran, yakni orang-orang yang berpuasa, diliputi kesenangan dan nikmat Tuhan. Sementara, mereka yang sewaktu di dunia tidak berpuasa mendapatkan sebaliknya. Allah menggambarkan: “Penduduk neraka menyeru kepada penduduk surga, ‘limpahkan kepada kami sedikit air, atau apa pun (makanan) dari yang dirizkikan Allah kepada kalian’. Para penduduk surga menjawab: ‘Sesungguhnya Allah haramkan keduanya atas orang-orang kafir’. Yakni orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai senda-gurau dan kesenangan duniawi telah menyilaukan mereka.” (QS al-A’raf: 50-51).

Maka tetaplah dengan puasa kita, semangatah, îmânan wa ihtisâban. Tetaplah dengan ibadah yang memang bertentangan dengan filosofi materialisme di Barat dan Timur, filosofi atau cara pandang  yang hanya mengerti bumi sembari mangabaikan ‘langit’, mengerti jasmani menafikan ruhani, memahami dunia dan tak paham akhirat. Biarlah para ahli dunia itu mendapatkan apa yang mereka inginkan sekarang, itulah tujuan mereka. Sedangkan kita menjalankannya, karena kita tahu siapa Tuhan kita, kita mengikuti jalan dan syariat-Nya, dan kita menyimpan pahala di sisi-Nya yang akan kita petik kelak. Amien. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah pengajar di STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta dan PP Al-Hikmah Karangmojo, Gunungkidul, eksponen PII wilayah Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up