Artikel

Mahfud MD, Dua Kali Gagal Nyawapres

Oleh A Zaini Bisri

Hubungan saya dengan Prof. Mahfud MD tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Kami hanya saling mengenal. Dengan bekal saling mengenal ini, beliau bersedia menjadi saksi dan sekaligus menyampaikan khotbah untuk pernikahan putra semata wayang kami di Bandung. Tepatnya di Masjid An-Nur, Kompleks Biofarma Bandung, Sabtu, 28 Maret 2015 silam.

Selain itu, saya juga pernah tampil bareng bersama beliau dan Taufiqurrahman Sahuri, waktu itu masih sebagai anggota Komisi Yudisial, sebagai narasumber dalam diskusi tentang peran pesantren dalam pemberantasan korupsi dalam rangka milad Ponpes Al-Hikmah Benda, Bumiayu. Selebihnya, saya hanya sering kontak dengan beliau lewat telepon. Itu pun dulu. Belakangan sudah sangat jarang berkomunikasi.

Ketika ada pemberitahuan bahwa beliau akan tampil dalam tayangan Indonesia Lawyer Club (ILC) di TvOne, dengan tema “Mahfud MD Buka Suara”, saya antusias untuk menyaksikannya. Saya sudah menduga ini pasti berkaitan dengan kegagalan beliau sebagai cawapres Jokowi.

Saya pun mengikuti tayangan tersebut dari awal sampai selesai pada Selasa malam, 14 Agustus 2018. Jarang saya mengikuti acara ini sampai selesai, karena terlalu lama dan biasanya berakhir sampai dinihari. Tapi kali ini saya menatap layar kaca dengan sepenuh hati, meski di lapangan depan rumah ada keriuhan lomba ibu-ibu dalam rangka 17-an.

Tadinya saya menduga Pak Mahfud akan menceritakan kronologi pencoretannya sebagai bakal cawapres secara sumir, tidak detail, hanya garis besarnya saja. Saya berprasangka baik bahwa beliau akan menjaga perasaan pihak-pihak yang bersinggungan dalam proses politik itu. Namun dugaan saya meleset. Beliau cerita blak-blakan, apa adanya, dan lengkap. Beliau buka rahasia proses sejak tanggal 1 Agustus 2018 ketika kali pertama diberitahu masuk nominasi cawapres terkuat Jokowi hingga drama deklarasi capres-cawapres pada Kamis petang, 9 Agustus 2018.

Mungkin saja Pak Mahfud dibujuk oleh Karni Ilyas, presiden ILC, untuk mau membuka semuanya. Kan beliau bukan orang asing bagi penggemar acara tersebut. Beliau salah satu narasumber tetap ILC. Selain itu, terbukti setelah video buka-bukaan Pak Mahfud viral di media sosial, rating ILC langsung melonjak. Lagipula, seperti anggapan sebagian orang, inilah momen Pak Mahfud menumpahkan kekecewaan atau ketersinggungannya dalam kejadian tersebut.

Sudah banyak berita, ulasan, dan analisis terkait kegagalan Pak Mahfud nyawapres dan drama politik yang menyertainya. Begitu pula penafsiran yang muncul. Saya tidak akan mengulangi ulasan maupun penafsiran yang bisa melebar ke segala arah. Saya hanya ingin melengkapi fakta saja.

Dua Kali Gagal

Tanpa diketahui banyak orang, Pak Mahfud sebenarnya sudah dua kali gagal nyawapres. Dua-duanya terjadi pada pilpres yang mengharu-biru. Beliau gagal nyawapres kali pertama pada Pilpres 2014 yang lalu. Saya mendapat info valid langsung dari salah seorang petinggi Partai Gerindra yang terlibat dalam lobi-lobi untuk mendapatkan figur cawapres Prabowo Subianto saat itu.

Menurut cerita dari petinggi Gerindra tersebut, menjelang masa pendaftaran Pilpres 2014, partai-partai Koalisi Merah Putih (KMP) berpandangan bahwa sosok Mahfud MD cukup kuat sebagai cawapres Prabowo. Setelah adanya kesepahaman itu, mulailah dilakukan pendekatan untuk “mendapatkan” Mahfud.

Satu tim KMP ditugaskan untuk melakukan lobi ke Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Mengapa ke PKB, bukan ke Mahfud langsung? Ya, karena saat itu Mahfud dianggap sebagai tokoh PKB. Lagipula, dengan persetujuan Muhaimin, pemilihan Mahfud akan makin memperkuat koalisi. KMP yang saat itu terdiri atas Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, PBB, ditambah Perindo, akan bertambah kekuatan dengan bergabungnya PKB yang ada di kubu seberang (Koalisi Indonesia Hebat – KIH). Saat itu KIH beranggotakan PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKPI.

Ditemui dan dibujuklah Muhaimin untuk “melepas” Mahfud. Namun, hingga lima kali pertemuan, Muhaimin tidak juga menyetujui Mahfud untuk menjadi cawapres Prabowo. Kata petinggi Gerindra itu, justru Muhaimin terus mengajukan dirinya sebagai cawapres Prabowo. Karena tidak dicapai kompromi, akhirnya KMP memilih Hatta Rajasa sebagai tandem Prabowo. Sementara Mahfud dijadikan ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta.

Keunikan

Saya melihat ada yang unik dari proses dan fakta politik menjelang Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Pada Pilpres 2014, KMP merupakan koalisi yang lebih gemuk dibanding KIH. Namun Prabowo didampingi cawapres yang relatif lemah. Hatta Rajasa dari PAN tidak punya basis dukungan politik yang besar.

Sebaliknya, KIH lebih ramping dari KMP. Jokowi mendapat tandem Jusuf Kalla yang relatif kuat. Selain dikenal sebagai politikus senior Golkar, JK punya dukungan politik cukup besar. Basis dukungan JK meluas dari berbagai kalangan muslim. Dan, tentu saja, modal utama kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 adalah sosok Jokowi yang merupakan antitesis dari presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini, proses dan fakta politik yang nyaris sama, tapi dengan dampak yang berkebalikan, terulang menjelang Pilpres 2019. Koalisi Jokowi sebagai petahana lebih gemuk dari koalisi Prabowo sebagai penantang. Koalisi Jokowi terdiri atas 6 partai parlemen ditambah 3 partai nonparlemen (PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, Hanura, PKPI, PSI, Perindo). Sementara Koalisi Prabowo hanya terdiri atas Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. Itu pun, kata sebagian pengamat, Demokrat belum sepenuh hati. Sedangkan PBB, katanya juga, sedang patah hati.

Namun, sosok Prabowo kini dipersepsi sebagai antitesis Jokowi. Cawapres Prabowo, Sandiaga Salahuddin Uno, juga dianggap berpotensi mendulang dukungan massa yang lebih besar dari cawapres Jokowi, KH Ma’ruf Amin. Sandi diprediksi akan didukung pemilih milenial, kalangan emak-emak, kaum profesional, dan masyarakat menengah ke bawah yang merasakan beban ekonomi. Sedangkan Kiai Ma’ruf lebih mengandalkan dukungan pada kalangan NU struktural dan pemilih moderat.

Jadi tidak keliru kalau dikatakan pertarungan ulang Jokowi versus Prabowo akan ditentukan oleh sosok cawapres masing-masing. Tapi juga tidak salah kalau disebut sosok Jokowi dan Prabowo, dalam persepsi publik saat ini, ikut menentukan hasil pilpres nanti. Dan, satu lagi, kejadian Mahfud MD jangan-jangan merupakan sebuah pertanda. Dia gagal menjadi cawapres Prabowo dan Prabowo kalah. Kini dia gagal menjadi cawapres Jokowi dan Jokowi bakal kalah?

Saya tidak bermaksud menyenangkan hati pendukung Prabowo dan menyuramkan hati pendukung Jokowi. Politik sangat dinamis dan Pak Mahfud bukan malaikat. Justru dengan menyebut “pertanda” itu, kubu Jokowi tetap diuntungkan. Mereka bisa melakukan antisipasi dan menyiapkan strategi kampanye yang tepat. Beda dari kubu Prabowo pada 2014 lalu. Mereka belum mendapatkan pertanda itu.

Wallahu a’lam.

A. Zaini Bisri, wartawan senior.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait