Artikel

Langkah Efisiensi Dirut PLN Perlu dicontoh Menteri Keuangan

Oleh: Defiyan Cori (Ekonom Konstitusi)

Langkah kebijakan prioritas yang akan diambil oleh Direktur Utama (Dirut) PLN yang baru Zulkifli Zaini dengan menyatakan bahwa perusahaan listrik tersebut akan melakukan efisiensi secara besar-besaran untuk menghemat anggaran korporat dalam melakukan operasional sangat patut untuk diapresiasi. Zulkifli Zaini yang baru sebulan menjabat sebagai Dirut PLN setelah beberapa bulan dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirut telah menemukan apa yang perlu dikerjakan terlebih dahulu dan prioritas dengan cepat.

PLN adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan juga perusahaan negara terbesar diantara yang lain dalam harta kekayaan (asset) ini, yaitu sejumlah Rp 1.537 Triliun dan pelanggan 75,70 juta Rumah Tangga per Tahun 2019. Tentu saja, langkah manajerial Dirut PLN Zulkifli Zaini yang menyampaikan bahwa kesehatan neraca keuangan perusahaan merupakan salah satu poin penting agar dapat melaksanakan mandat pemerintah harus dijaga dan dikawal kebijakannya.

Benarlah adanya, bahwa tidak ada perusahaan (bahkan negara) yang mampu melaksanakan mandat atau program pembangunan kecuali keuangannya baik. Oleh sebab itu, para direksi maupun komisaris PLN khisusnya dan BUMN pada umumnya secara kolektif harus menupayakan agar keuangan PLN sehat neracanya, sehat aliran kas nya (cash flow).

Sementara itu, total utang PLN per akhir kuartal I 2019 mencapai Rp394,18 Triliun, dan angka ini melonjak 1,7 persen dibanding posisi utang akhir Tahun 2018 yang sebesar Rp387,44 Triliun. Adapun, sejumlah Rp160,74 Triliun dari total utang diantaranya merupakan pinjaman yang diakumulasi sejak Tahun 2015.

Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN ini kembali menambah utang dan memperoleh kredit senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun dari sindikasi delapan bank asing pada bulan Nopember 2019.
Para kreditur meliputi DBS Group, Korea Development Bank, MUFG Financial Group, Oversea-Chinese Banking Corp, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, United Overseas Bank, Bank of China (Hong Kong) dan Cathay United Bank. Beban utang yang besar ini adalah pekerjaan yang tidak ringan bagi Dirut PLN, tapi dengan skala prioritas yang tepat, maka suatu masalah akan segera teratasi.

Selain menjaga neraca keuangan, maka PLN juga dituntut untuk mengatasi permasalahan keluhan pelanggan soal tarif listrik yang terjangkau bagi masyarakat konsumen hingga permasalahan gangguan jaringan dan pemadaman listrik.

Jelas harapan masyarakat, sangat tinggi terhadap jajaran dewan manajemen PLN yang baru ini, sehingga harus mampu mencari terobosan-terobosan mendasar, kreatif dan inovatif, termasuk dalam menghadapi berbagai perubahan dan preferensi masyarakat atas kebutuhan energi alternatif.

Namun demikian, dengan meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan negara yang baik (good corporate governance/GCG), langkah efisiensi adalah sesuatu yang patut dicontoh oleh Menteri Keuangan dalam mengelola keuangan negara yang masih besar pasak daripada tiang atau membuat APBN 2020 kembali defisit.
Selamat bekerja Pak Zulkifli Zaini untuk menyehatkan BUMN supaya negara juga menjadi kuat.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: