Artikel

Kuntowijoyo dan Ekologi Tegal Madura*)

Oleh: Muhammad Nuruddin Roni

Kuntowijoyo melihat struktur sosial, budaya dan karakter masyarakat Madura dipengaruhi oleh Ekohistorikal. Sedang ekologi wilayah Madura didominasi oleh Ekologi Tegal. Tipe ekologi tegal inilah yang membuat pertanian di Madura menjadi unik dan mempunyai kekhasan tersendiri. Ekologi tegal ini juga memengaruhi struktur sosial masyarakat, dan nantinya akan berpengaruh terhadap jalannya sejarah.

Tegal sangat bergantung kepada curah hujan, hal inilah yang membuat tanah di Madura tidak cocok ditanami padi. Kebutuhanpun tidak dapat dipenuhi. Selain tegal ada jenis tanah yang lain yaitu: sawah basah dan tadah hujan. Namun yang dominan di Madura adalah tegal.

Pada tahun 1830 tebu mulai ditanam di Madura, menyusul kemudian tembakau mulai ditanam pada tahun 1860. Kedua tanaman tersebut yang nantinya mendominasi pertanian di Madura, sehingga bahan pangan pokok semakin jarang dijumpai. Hal itu diperparah lagi dengan dibukanya hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman. Akibatnya tanah di Madura semakin tidak subur karena kadar air yang sangat rendah.

Ekologi tegal, menurut Kunto. telah membuat pola permukiman tersendiri yang unik. Permukiman biasanya dibuat di dekat tegal. Yang menempatipun hanya terbatas kalangan keluarga pemilik atau penggarap tegal. Hal itu membuat pola permukiman di Madura lebih menyebar dan tidak terkonsentrasi di beberapa lokasi saja.

Permukiman penduduk terdiri dari dusun-dusun kecil yang biasa disebut Tanean Lanjeng. Jarak antar dusun satu dengan dusun lainnya cukup jauh, menyulitkan adanya komunikasi sosial. Karena ekologi tegal inilah banyak masyarakat Madura kemudian bermigrasi ke Jawa, di antaranya Jawa Timur, tujuannya untuk mencari tanah yang lebih baik. Kebetulan tanah Jawa yang dipilih juga masih berdekatan dengan sifat ekologi tegal Madura, seperti daerah tapal kuda Jatim, mulai Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Daerah ini juga dikenal sebagai Pandulungan karena penduduknya berasal dari keturunan Madura.

Sementara itu organisasi produksi tradisional, menurut Kunto. lebih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan. Pembayaran upeti merupakan dasar yang membentuk masyarakat, kelas negara: raja, kaum bangsawan, para birokrat dan pembantu raja didukung oleh masyarakat melalui penyerahan upeti yang berbentuk barang dan jasa.

Tetapi setelah ada gangguan kaum kapitalis, yang kebanyakan orang Cina, sistem upeti akhirnya runtuh. Karena kaum kapitalis seperti memotong upeti yang mengalir dari tanah apanage kepada kerajaan atau para bangsawan. Sedangkan kolonialisasi di Madura, menurut Kunto, telah membuat kelas yang baru dengan perbedaan yang sangat mencolok dari kelas orang asing dan pribumi, serta perbedaan antara kelas negara dengan orang kebanyakan.

Kelas negara dibagi menjadi: sentana atau bangsawan, mantri atau birokrat dan  abdi atau para pembantu. Antara kelas-kelas tersebut secara tidak langsung timbul hubungan dan persaingan. Usahawan pribumi bersaing dengan usahawan asing. Pimpinan keagamaan: mantri, kyai, dan haji melawan kekuatan kolonial Belanda.

Penanaman tebu di Madura menimbulkan konflik. Di satu sisi pihak kolonial dan kapitalis diuntungkan karena tebu adalah komoditas yang memberikan laba yang besar. Di lain sisi kebutuhan pokok berupa bahan pangan semakin berkurang. Muncullah pemberontakan petani di abad XIX.

Selain perkebunan tebu, ada pula sumber penghasilan masyarakat Madura lainnya, yaitu sebagai penggembala lembu dan produsen garam. Lembu/sapi di Madura merupakan jenis khusus, bentuknya agak kecil dengan kulit berwarna merah.

Setelah munculnya gangguan kapitalis, tak lama kemudian muncul ide-ide nasionalis dari elit yang baru, yaitu kaum terdidik. Disusul munculnya Sarekat Islam yang berlandaskan agama dan memunculkan mobilisasi massa yang responsif. Pada tahun 1913 SI memobilisasi massa untuk melakukan kekerasan massa di Pulau Sapudi. Selanjutnya pada tahun 1918 timbul perlawanan untuk menentang pungutan pajak. Suatu sejarah baru bagi Madura, yang semula tidak responsif menjadi responsif terhadap kebijakan kolonial Belanda.

Gerakan kultural seperti Madurasa juga berkembang di Madura, mereka menerbitkan majalah: Madoeratna, Pangodhi dan Posaka Madoera. Selain itu juga ada gerakan politik seperti Madoerezen Bond (Sarekat Madura). Organisasi ini memerjuangkan pendidikan, memajukan pertanian, industri, agama, perdagangan dan budaya.

Selanjutnya Kunto mengatakan, bahwa gerakan keagamaan juga banyak muncul di Madura. Antara lain: Al-Irsyad, Cahaya Islam, Nahdlatul Watan, dan masih banyak yang lainnya. Pada tahun 1926, muncul organisasi sosial keagamaan yang bernama Nahdlatul Ulama atau NU. NU menggantikan peranan SI yang menurut orang-orang NU, SI adalah organisasi yang terpengaruh Ahmadiyah dan Wahabi.

Berkembangnya NU tidak lepas dari peran para kyai dari Bangkalan. Kultur NU cocok untuk Madura sehingga mudah diterima dan politik konservatifnya NU menarik elemen tradisional, kyai. Kyai sangat besar pengaruhnya di masyarakat sehingga memudahkan gebrakan dan perubahan di masyarakat.

Perkembangan selanjutnya terjadi kebangkitan kaum bangsawan, menyusul banyaknya penyalahgunaan gelar raden ario dan panji. Hal ini memunculkan pertentangan antar bangsawan tahun 1930. Hingga akhirnya gelar ario dan panji distandarisasi pada tahun 1930 dan 1936. Setelah itu muncul organisasi yang menyatukan kaum bangsawan tersebut. Salah satunya Bangsawan Bond yang menuntut dikembalikannya kerajaan-kerajaan pribumi di Madura.

*) Direview dari buku karya Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850~1940″.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait