ArtikelFeatured

Kunjungan Gus Yahya ke Israel dan Revisi Tafsir Qur’an Terkait Ayat-ayat Yahudi

Rangkuman

  • Di hadapan ribuan audience, sama sekali tidak keluar kritik terhadap tindakan Israel kepada orang-orang Palestina. Yang terkesan justru eufimisme dan polesan diplomasi. Tidak ada impresi posisi yang “deniable” sama sekali.

Oleh: Ikhsan Kurnia
(Penulis dan Pengamat Ipoleksosbud)

Sebelumnya saya sudah menulis artikel berjudul “Gus Yahya Dan Manuver Israel”, yang menjelaskan tentang siapa (apa) AJC (American Jewish Committee) sebagai pihak pengundang Gus Yahya dalam AJC Global Forum 2018 di Israel.

Tadinya saya sudah senang mendengar bahwa Gus Yahya akan membatalkan kuliah umumnya. Berikut ini adalah surat Gus Yahya kepada Menteri Luar Negeri sebagaimana dikutip dari Kumparan (9/6/2018):

Bu Menteri Yth.,

Mohon ijin untuk memberi penjelasan tentang ini:

1. Sebagaimana panjenengan tahu, saya menerima undangan ini sudah lama, dan ini menyangkut kredibilitas semua upaya yang telah saya lakukan bertahun-tahun;
2. Saya punya pesan untuk saya sampaikan seluas-luasnya secara global, dan ini platform yang akan memberi saya kesempatan untuk itu;
3. Saya punya pemikiran tentang Yahudi yang ingin saya sampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi, dan ini satu-satunya kesempatan untuk melakukannya tanpa di-frame atau distigma sebagai “anti-semitis”;
4. Rencana pidato saya di AJC forum sudah dibatalkan, tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain: Dr. Ali Al Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al Aqsha; Mohammed Dajani Daoudi, ulama; para patriarch Katolik, Kristen Ortodoks Yunani dan Lutheran; H. E. Hazem Khairat, Duta Besar Mesir; kalangan intelektual di Universitas Hebrew; dan lain-lain;
5. Saya akan disiplin menjaga posisi “deniable”; kalau tindakan saya merugikan kepentingan Negara atau sekedar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini dari Negara; kalau ada benefit, mari di-follow up agar menjadi keuntungan nyata.

Demikian, Bu Menteri. Mohon maaf bahwa saya telah membuat kesulitan.

Namun, saya sungguh kaget, setelah mengecek di website AJC, rupanya Gus Yahya tetap memberikan kuliah umum sesuai yang direncanakan. Silahkan buka tautan situs AJC. Di sana dijelaskan sebagai berikut:

At AJC Global Forum 2018 in Israel, Yahya Cholil Staquf, who, as General Secretary of the Nahdlatul Ulama Supreme Council and Director of Religious Affairs of Bayt ar-Rahmah, heads the world’s largest Muslim organization, discusses the importance of interreligious dialogue and the quest for improving Muslim-Jewish ties in a conversation with Rabbi David Rosen, AJC International Director of Interreligious Affairs.”

Saya kemudian menonton video kuliah umum yang berdurasi 14.35 menit tersebut. Saya tonton dan dengarkan baik-baik, bahkan mencatat beberapa poin penting dari kuliah umum tersebut. Dari mulai menit pertama hingga menit terahir saya menanti-nanti bagian yang “dijanjikan” oleh Gus Yahya, sebagaimana dalam suratnya kepada Menteri Luar Negeri yang mengatakan bahwa beliau memiliki pemikiran tentang Yahudi yang ingin disampaikan dengan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi. Bahkan, beliau juga berjanji akan disiplin menjaga posisi “deniable”.

https://youtu.be/bn0bswYyGZY

Namun, setelah menonton video tersebut sampai selesai, saya sama sekali tidak menemukan impresi tersebut. Di hadapan ribuan audience, sama sekali tidak keluar kritik terhadap tindakan Israel kepada orang-orang Palestina. Yang terkesan justru eufimisme dan polesan diplomasi. Tidak ada impresi posisi yang “deniable” sama sekali.

Tentu, saya bisa memahami suasana kebatinan (psikologis) Gus Yahya yang berada di tengah-tengah lautan audience orang-orang Israel. Forum tersebut tampak begitu prestisius dan megah. Bagi orang Indonesia (apalagi Jawa) yang memiliki budaya “ewuh pakewuh” (merasa ngga enakan), nyaris tidak mungkin melontarkan kritik tajam dan terbuka dalam forum semacam itu. Sebuah kondisi yang seharusnya orang sekelas Gus Yahya sudah memprediksi hal tersebut. Tapi mengapa beliau tetap hadir?

Bahkan, saya merasakan impresi dimana moderator Rabbi David Rosen terlalu “menggiring” (untuk tidak mengatakan “menjebak”) Gus Yahya untuk menyampaikan sesuatu yang dapat dijadikan legitimasi penguatan hubungan antara Islam dan Yahudi. Seolah-olah tujuan mereka mengundang Gus Yahya adalah hanya ingin mendapatkan statement yang mengkonfirmasi bahwa antara Islam dan Yahudi dapat menjalin hubungan dan bekerjasama satu sama lain. Dan ini bisa dikapitalisasi oleh Yahudi.

Bahkan moderator Rabbi David Rosen di akhir wawancara menggarisbawahi statement Gus Yahya tentang “rahmah” (compassion and caring about others), yang menurutnya sebagai solusi atas hubungan antara Islam dan Yahudi. Ditegaskan lagi oleh David Rosen bahwa dalam agama Yahudi juga ada istilah ar-rahaman dan ar-rahamin. Dia mengatakan “It is indication how close we are in spirit in term of religious tradition and heritage” (Ini merupakan indikasi seberapa dekat spirit kita dalam hal tradisi dan warisan keagamaan).

Secara normatif tentu ajaran tentang rahmah (kasih sayang) adalah nilai yang baik dan universal serta dimiliki oleh semua agama. Namun bagi Yahudi, terminologi tersebut sudah menjadi diksi ideologi politik (related with liberalisme dan pluralisme). Jika nilai-nilai cinta dan kasih sayang tersebut benar-benar dimanifestasikan, tentu tidak akan ada pembantaian terhadap rakyat Palestina. Apa yang disampaikan oleh Gus Yahya, saya sangat yakin, tidak akan mengubah sikap politik Israel kepada Palestina.

Sungguh mengherankan, di satu sisi kaum Yahudi terkesan selalu menyuarakan kebebasan, toleransi, kasih sayang dan kemajemukan, namun di waktu yang sama mereka yang paling nomor wahid dalam menghianatinya. Mereka menanamkan ideologi inklusivisme kepada agama Islam, di waktu yang sama mereka adalah agama yang paling eksklusif. Padahal mereka konon memiliki terminologi ar-rahaman dalam ajaran agamanya.

Yang juga menarik dalam forum tersebut, untuk menegaskan adanya titik temu antara Islam dan Yahudi, Gus Yahya mengatakan bahwa tafsir terhadap Quran dan Hadis tentang Yahudi dapat diinterpretasi ulang, karena menurutnya, teks-teks wahyu tersebut berhubungan dengan konteks realitas yang bersifat partikular.

Saat ditanya oleh moderator (saya kutip verbatimnya): Is it possible to interpret certain text in Quran which are not always complementary to Jews or certain hadith which sometimes can be very problematic? Is it possible to interpret the way that is not going to remain obstacle to relationship between Muslim and Jews?

Gus Yahya menjawab: It is not just possible but it is a must, because every verse of Quran was revealed in connection with the certain particular context of reality that time. And also the prophet Muhammad PBUH when he said something, he said it in relation with the particular happening the time. So the Quran and the Hadith are boosted basically the historical document that contains the guidance of morality in responding to particular situation. When the reality changed, then the manifestation of the spirit of morality should be changed also.

Mendengar jawaban tersebut, semoga saya tidak salah menyimpulkan bahwa teks-teks Quran dan Hadis yang terkait dengan agama Yahudi, menurut Gus Yahya, dapat diinterpretasikan ulang sesuai dengan perubahan realitas (historis) manusia. Ayat-ayat tentang Yahudi yang selama ini kita fahami sebagai kritik atas karakter dan perilaku mereka, apakah mau ditafsirkan ulang secara liberal kemudian menempatkan mereka sebagai teman kita?

Tadinya saya ingin “merevisi” kritik saya terhadap Gus Yahya jika memang beliau berani memberikan kritik jujur kepada Israel terkait Palestina. Tapi, yang saya dapatkan justru sebaliknya. END.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait