Artikel

Krisis Etika Berbangsa

Oleh Aswar Hasan

Politik tanpa etika akan melahirkan sinetron demokrasi. Demikian kata Mahfud MD mantan ketua Mahkamah Konstitusi. Lebih lanjut Mahfud mengatakan, Bahwa setelah reformasi, bukannya bangsa ini tambah baik, hukum dan politik tetap bisa dibengkokkan menjadi instrumen untuk mencapai atau melanggengkan kekuasaan. Bahkan, hukum dengan segenap institusinya juga tak mampu meredam kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan berupa korupsi dan praktik kotor politik lainnya.

Politik sudah cenderung dipraktikkan dengan minim kesantunan. Praktiknya sudah semata alasan kekuasaan bukan lagi sebagai proses untuk mewujudkan kebaikan bersama. Akibatnya, terjadi distrust yang menimbulkan disorientasi.

Pada gilirannya, disorientasi itu membuka ruang terjadinya pembangkangan politik ekonomi dan kebudayaan. Karakter kita sebagai bangsa beradab semakin tercerabut dari akar sejarahnya. Pancasila sebagai format dan bingkai nilai hanya menjadi kumpulan slogan yang sebatas diwacanakan atau sekadar menjadi retorika politik.

Pergantian pemimpin dan perubahan sistem pun tidak banyak menolong perbaikan bangsa ini. Karena masalahnya bukan semata pada perubahan sistem dan pergantian pemimpin, tetapi pada perbaikan etika moral berbangsa yang melahirkan karakter nasional sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Karenanya, perubahan sistem hukum dan ekonomi serta politik sekali pun, tidak akan banyak menolong, karena kerusakan ada pada fundamental yang substantif pada bangsa ini, yaitu kerusakan pada moral etik.

Kejatuhan rezim Orba bukan semata krisis ekonomi tapi karena krisis moral etik elit politik, hingga ke tataran masyarakat. Ekonomi hanyalah menjadi pemicu krisis yang kemudian menjadi krisis multi aspek.

Ketika rezim berganti dengan melakukan reformasi, tanpa menyentuh aspek terdalam yang rusak, yaitu moral etik, maka Orde Reformasi pun tidak banyak menolong. Bahkan Rezim Jokowi sekalipun belum bisa dianggap berhasil. Revolusi mental masih sebatas wacana. Pembangunan yang digalakkan dengan slogan kerja, kerja dan kerja, hanya menyentuh aspek etos tanpa etik. Karenanya hal mendasar untuk perbaikan bangsa ini ke depan adalah perbaikan moral etik.

Kerusakan moral etik yang terjadi di tubuh bangsa ini, sudah sedemikian massif. Terjadi pergeseran nilai akibat transaksi informasi global dan pola pikir pragmatis, instan dan materialistik. Akibatnya, etika tidak lagi menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku.

Drama kehidupan yang disaksikan di pentas politik, hukum dan ekonomi, hampir semuanya lebih mementaskan aktor dengan perilaku miskin etika. Sampai-sampai tokoh intelektual Franz Magnis Suseno menyatakan bahwa etika politik itu hanya academic exercise, yang menarik dalam konteks akademis di ruang kuliah. Wallahu a’lam bishawwabe.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya