Artikel

Kotak Kosong Cawapres

Oleh Ahmad Kaylani

Dua anak muda sudah lama bersaing dalam ratusan baliho raksasa. Di mana pun anda mendarat di bandara, selalu ada gambar yang sangat mencolok mata. Gambar besar anak muda yang menjabat Ketua Umum sebuah Partai Politik seperti menggoda. Cak Imin dengan wajah cabinya dan dengan senyum sumringah berkata. “aku siap menjadi Cawapres Jokowi”.

Dari Bandara Adi Sumarmo Solo, wajah yang masih “kekanak-kanakan” seperti tak mau kalah. Bisa jadi dialah Ketua Umum Partai yang paling muda dari partai (yang sudah) tua. Searah jalan menuju rumah kediaman Jokowi di Graha Saba, Sumber, saya menghitung ada tiga Baliho pria ini dengan syal ala pejuang intifadah Palestina yang dililitkan di leher. Dialah Gus Romy atau Muhammad Rumahurmuziy.

Meski tidak se-vulgar Cak Imin, pesan yang disampaikan Gus Romy di depan rumah Jokowi di Solo jelas. “Aku siap menjadi Cawapres Jokowi”.

Keduanya memang tengah bersaing secara terbuka dan terang-terangan. Dari mana uang untuk membuat Baliho sebanyak dan sebesar itu? Yang pasti bernilai ratusan juta bahkan milyaran. Dalam politik jangan tanya berapa jumlah dan darimana asal uangnya. Entah dari malaikat atau syetan, sejauh tak ada yang bersuara, semuanya oke oke saja. Politik memang sering dianggap ruang penuh gegap-gempita, namun eksekusi sering di ruang sepi dan tanpa suara. Jika ada gegap-gempita, tunggulah saat sunyi. Di situ keputusan akan dilahirkan.

Cak Imin dan Gus Romy bukan politisi konfliktual dan oposisional. Anak-anak NU pasca Gus Dur seperti sulit menjadi oposisi dan menjauh dari kekuasaan. Ada semacam dendam di masa lalu di mana tersingkir dari kekuasaan sangat menyakitkan. Bahkan kini seperti ada arus bah dari pinggiran, anak-anak NU berusaha menggenangi kekuasaan. Sejauh tidak melanggar syahadat, rukun sholat, rukun Islam-rukun iman: sisanya adalah “pintu-pintu kekuasaan yang harus dimasuki”. Cak Imin dan Gus Romy adalah dua di antaranya.

Banyak yang nyinyir. “Mengapa level Ketua Umum partai hanya kampanye untuk jadi orang kedua? Buat apa Baliho besar-besaran dipajang sementara yang memilihnya bukan rakyat tetapi Calon Presiden yang kadang tak berkenan untuk dipaksa? mengapa tidak kampanye untuk menjadi calon presiden?

Politik sejatinya penuh dengan kalkulasi. Politik juga bukan soal hitam-putih. Politic is an art of possibilities. Gerakan dua politisi ini dengan memajang wajah senyum sumringah juga tentang ini. Tentang bukan apa yang tengah mereka lakukan tetapi tentang apa yang akan terjadi kemudian.

Jika Golkar ikut serta memasang Baliho, dengan kata-kata yang masih malu-malu; JOGO atau Jokowi-Golkar di sisi gambar Ir. Airlangga Hartarto, Sang Ketua Umum Golkar, maka Cawapres sudah menjadi semacam “gerakan politik” penciptaan opini yang sangat mempengaruhi opini dan pilihan publik.

Lalu entah akan ada berapa lagi Ketua Umum Partai yang melakukan hal yang sama. Atau berapa lagi “tokoh-tokoh” ditampilkan sebagai Cawapres. Strategi untuk “membunuh” bibit penantang atau Capres alternatif yang bisa merusak strategi “penciptaan kotak kosong” yang dilakukan oleh Incumbent. Incumbent vs Kotak Kosong yang sukses diciptakan di beberapa daerah, adalah cara yang paling mudah dan pastinya tidak murah untuk menjadi pemenang.

Dan jika itu yang terjadi, maka demokrasi yang tengah tumbuh akan lumpuh. Kaum oposisi yang berusaha menegakkan demokrasi akan dikirim ke ruang konsentrasi. Tagar tidak lagi #2019GantiPresiden tetapi #2019gantidemokrasi #2019matinyaoposisi

Saat itu Baliho Cak Imin dan Gus Romy tak akan dicabut dan tak ada yang berani merobohkannya. Keduanya sudah menjadi pemilik negeri ini. Tidak harus menjadi Wapres. Menjadi Menteri cukuplah.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up