Artikel

Komparasi Habib Salim Versus AHY dan Peluang Munculnya Tokoh Baru Pendamping Prabowo

Oleh Said Salahudin

Sebagaimana telah saya prediksi sejak seminggu yang lalu, persaingan untuk posisi calon Wakil Presiden (cawapres) Prabowo Subianto akan diperebutkan oleh dua nama: Habib Salim Segaf Aljufri (PKS) dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Partai Demokrat).

Kedua partai itu tentu saja punya hak yang sama untuk mengusulkan kadernya masing-masing sebagai syarat dukungan kepada Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai calon Presiden (capres).

Oleh sebab itu, kedua nama tokoh tersebut menurut saya tidak perlu dipertentangkan oleh masing-masing pendukung partai. Tetapi jika sekedar ingin dibanding-bandingkan, itu wajar-wajar saja.

Prabowo sendiri pasti juga membutuhkan banyak masukan terkait kelebihan dan kekurangan Habib Salim dan AHY. Sebab sebelum memilih satu diantaranya, Prabowo harus betul-betul memastikan calon pendampingnya nanti bisa memberikan tambahan suara yang signifikan untuk dirinya.

Secara umum, saya sendiri melihat peluang Habib Salim dan AHY relatif berimbang. Masing-masing punya basis konstituen yang riil dan sama-sama berpeluang menggaet pemilih potensial guna menambah suara bagi Prabowo.

Jika perbandingannya merujuk pada hasil perolehan suara Pemilu legislatif (Pileg) 2014, maka AHY jelas lebih unggul daripada Habib Salim dengan asumsi pemilih Demokrat dan PKS memiliki konsistensi dan
loyalitas kepada partainya masing-masing.

Di Pileg 2014 dulu, Demokrat berhasil meraup 12,7 juta suara pemilih, sedangkan PKS hanya mampu menghimpun kurang dari 8,5 juta suara pemilih. Artinya, potensi suara yang berpeluang disumbangkan oleh AHY kepada Prabowo lebih besar daripada Habib Salim.

Tetapi perlu dicatat bahwa suara Demokrat dulu itu mereka peroleh saat SBY masih berkuasa. Sementara sekarang kan SBY sudah tidak lagi memegang kekuasaan. Jadi mungkin saja dukungan pemilih kepada Partai Demokrat dan PKS pada Pemilu 2019 nanti bisa berubah.

Komparasi AHY dan Habib Salim juga bisa dilihat dari peluang keduanya dalam menarik pemilih potensial. Setidaknya ada tiga faktor yang bisa dimajukan untuk memperbandingkan antara AHY dan Habib Salim. Pertama, dilihat dari latar belakang kedaerahan, Kedua, usia. Ketiga, latar belakang agama.

Walaupun lahir di Jawa, Habib Salim merupakan tokoh dari luar Pulau Jawa. Dia berasal dari Pulau Sulawesi seperti halnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sementara AHY adalah orang Jawa tulen.

Di dalam suatu pemilihan langsung, asal daerah seorang kandidat secara praksis masih sering dijadikan sebagai dasar pertimbangan oleh pemilih dalam memberikan suara. Disinilah Habib Salim bisa memetik poin. Pemilih dari luar Pulau Jawa bisa ia pengaruhi. Ini soal yang lumayan penting.

Sebagai contoh, pada Pilpres 2014, pasangan Joko Widodo (Jokowi) – JK, menang di Sulawesi Tenggara (Sultra). Padahal, provinsi tersebut merupakan salah satu lumbung suara terbesar PAN yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Gubernur Sultra pada saat itu merupakan Ketua PAN di sana. Mayoritas kepala daerah dan wakil kepala di kabupaten/kota di provinsi itu juga dijabat oleh para tokoh lokal PAN disana.

Nah, mengapa Prabowo-Hatta bisa keok di Sultra sedangkan cawapresnya adalah Ketua Umum PAN? menurut masyarakat di sana, salah satu penyebabnya adalah karena pemilih di Sultra lebih mementingkan faktor JK sebagai seorang tokoh dari Indonesia bagian timur dan latar belakang kedaerahannya sebagai orang Sulawesi.

Oleh sebab itu, jika Habib Salim yang dipilih untuk mendampingi Prabowo, maka dia berpeluang untuk menambah suara bagi Prabowo di sejumlah provinsi yang ada di Pulau Sulawesi dan provinsi-provinsi lain di wilayah Indonesia bagian Timur.

Di daerah asalnya Sulawesi Tengah (Sulteng), misalnya, Habib Salim berpeluang untuk membalas kekalahan Prabowo atas Jokowi di provinsi tersebut. Sebab, pada Pilpres 2014, Jokowi mengungguli Prabowo di provinsi tersebut.

Nah, latar belakang daerah Habib Salim itu tidak bisa disamai oleh AHY. Sebab jika Prabowo memilih AHY, pemilih di Pulau Jawa sudah diwakili oleh diri Prabowo sendiri yang juga berasal dari Jawa.

Artinya, dilihat dari faktor kedaerahan, Habib Salim cenderung lebih menjanjikan bagi Prabowo dibandingkan dengan AHY. Duet Prabowo – Habib Salim mengombinasikan unsur Jawa dan Non-Jawa, sedangkan jika Prabowo berpasangan dengan AHY, terkesan menjadi Jawa sentris.

Sementara jika Habib Salim dibandingkan dengan AHY dari peluang keduanya meraup suara pemilih berdasarkan faktor usia, maka AHY tampaknya akan mendapatkan perhatian lebih dari pemilih muda dibandingkan dengan Habib Salim.

Pemilih milenial sebagai pemilih potensial AHY yang jumlahnya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 35 juta orang boleh jadi akan lebih tertarik untuk memberikan suaranya kepada AHY ketimbang Habib Salim.
Walaupun tidak mungkin semua pemilih milenial akan memilih AHY, tetapi lewat jargon calon pemimpin masa depan, AHY bisa juga* disukai oleh sebagian pemilih senior. Jadi suara dari pemilih muda bisa ia caplok, pemilih non-milenial pun bisa ia pengaruhi.

Sehingga dari sisi peluang untuk menggaet suara pemilih muda, AHY saya kira cenderung lebih menjanjikan dibandingkan dengan Habib Salim yang usianya sudah cukup senior.

Namun demikian, Habib Salim tentu juga punya peluang untuk menggaet pemilih muda, terutama dari kalangan santri pondok-pondok pesantren. Tetapi ketertarikan pemilih kepada Habib Salim saya kira bukan disebabkan karena faktor usia, melainkan karena faktor kedekatannya dengan kelompok Islam.

Perbandingan ketiga, jika dilihat dari ‘backgound’ pemilih berdasarkan latar belakang agama, Habib Salim tampaknya lebih unggul dari AHY.

Sebagai orang yang memiliki nasab dengan Nabi Muhammad SAW, berlatar pendidikan doktor dari perguruan tinggi di Madinah, cucu dari seorang ulama ternama pendiri Al-Khairat, serta didukung oleh gerakan Islam politik semisal Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPFU), Habib Salim berpeluang besar untuk menggaet suara pemilih muslim.

Walaupun tidak semua pemilih muslim pasti akan memberikan suaranya kepada Habib Salim, tetapi dengan berbagai latar belakang keagamaannya itu dia jelas lebih unggul dari AHY dari aspek tersebut.

Dengan latar belakang Habib Salim itu, maka apabila Prabowo mengambilnya sebagai cawapres, pasangan tersebut merupakan perpaduan unsur Nasionalis-Relijius, betapapun istilah itu masih terus menjadi perdebatan.

Nah, kalau AHY yang jadi pasangan Prabowo, unsur nasionalisnya menjadi dominan. Jadi probabilitas untuk meraup suara pemilih dari kelompok muslim saya kira bisa diandalkan oleh Prabowo dari sosok Habib Salim, ketimbang AHY.

Dari setidaknya empat faktor perbandingan di atas itulah saya cenderung mengatakan Habib Salim dan AHY relatif berimbang.

Peluang Tokoh Lain

Selain PKS dan Partai Demokrat, jangan dilupakan juga bahwa PAN sebagai teman koalisi potensial Partai Gerindra juga punya hak yang sama untuk mengusulkan nama cawapres kepada Prabowo.

Walaupum selama ini PAN tidak cukup konsisten dalam mengusulkan nama cawapres, tetapi tidak mustahil pada acara Rapat kerja nasional (Rakernas) partai itu nantinya PAN justru membuat kejutan dengan memunculkan nama baru calon pendamping Prabowo.

Nama Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo mungkin saja akan dimajukan sebagai kandidat resmi yang diusulkan oleh PAN. Dua nama itu bisa saja diajukan oleh PAN dalam rangka mencari jalan tengah, sekaligus untuk memecah kebuntuan dari persaingan ketat antara Habib Salim dan AHY yang sangat berat untuk diputuskan oleh Prabowo.

Latar belakang Anies dan Gatot yang bukan berasal dari kader parpol manapun cukup argumentatif untuk bisa dijadikan sebagai alasan oleh PAN untuk menawarkan keduanya.

Jadi bisa saja PAN akan bilang kepada parpol-parpol calon mitra koalisinya: Sudahlah, kita ambil saja tokoh alternatif yang tidak berasal dari PKS, Demokrat, dan juga dari PAN sendiri agar cawapres Prabowo bisa lebih cepat diputuskan.

Jika benar PAN akan menawarkan dua nama itu, maka bagi Gerindra nama Anies sepertinya akan lebih disukai ketimbang Gatot. Sebab, relasi politik antara Anies dan Gerindra sudah terbangun sejak partai itu mengusung Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017.

PKS mungkin juga akan lebih tertarik dengan Anies ketimbang Gatot dengan alasan yang mirip dengan Gerindra. Tetapi sekali lagi, ini adalah prediksi jika PAN memang mengusulkan nama Anies atau Gatot, dan usulan itu dianggap menjadi solusi bersama oleh parpol-parpol koalisi dalam menentukan cawapres Prabowo.

Tetapi jika kondisi itu benar-benar terjadi, maka Demokrat saya kira lebih condong setuju kepada Gatot Nurmantyo. Sebab, sebagai orang yang pernah menjadi anak buahnya, SBY lebih mengenal dan cenderung lebih mempercayai Gatot ketimbang Anies.

Nama Gatot mungkin saja diusulkan oleh PAN karena di kubu petahana saat ini saya dengar kabar bahwa nama Moeldoko kembali menguat untuk dipasangkan dengan Jokowi.

Apabila kabar itu benar, maka mungkin saja nama Gatot ditawarkan oleh PAN dalam rangka mengimbangi bintang yang disandang oleh Moeldoko. Sebab, Prabowo itu kan cuma tiga bintangnya. Sedangkan bintang Moeldoko ada empat.

Nah, agar Prabowo tidak dikecilkan dengan urusan bintang-bintangan itu, maka diajukanlah nama Gatot Nurmantyo yang juga punya bintang dalam jumlah yang sama dengan Moeldoko.

Jika begitu konstelasinya, maka pada Pilpres 2019 nanti mungkin saja akan terjadi ‘perang bintang’ yang menjadi medan tempur bagi para Jenderal.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait