Artikel

Kisah Fiktif dalam Novel Bisa Saja Merupakan Kisah Nyata di Suatu Tempat yang Belum Kita Ketahui

Oleh: Kang Juki*)

Kehidupan ini sebenarnya merupakan sekumpulan keping puzzle dengan beragam kombinasi. Itulah sebabnya, meski kehidupan masing-masing orang berbeda, selalu ada sisi-sisi yang sama dalam tahapan perjalanan hidupnya. Hanya berbeda masa saat mengalaminya. Ibarat bermain puzzle berbeda memposisikan kepingan puzzle-nya sehingga secara keseluruhan menghasilkan gambar yang berbeda, meskipun ada beberapa bagian yang sama.

Lalu apa sebenarnya perbedaan kisah fiktif dan kisah nyata? Bukankah pada akhirnya perbedaan itu hanya terletak pada pengakuan pelakunya? Ada yang mengakui apa yang dialaminya sama dengan kisah dalam sebuah novel, hanya nama pelakunya berbeda. Namun pasti lebih banyak yang berkomentar, “Ah, kisah itu hanya khayalan pengarangnya belaka.”

Tapi tungggu dulu. Boleh jadi karena si empunya komentar seperti itu ternyata merupakan pembaca setia novel silat serial Wiro Sableng 212, karya Bastian Tito. Sebuah cerita dengan latar belakang beberapa abad lampau. Tentu teramat susah untuk bisa dipahami sebagai peristiwa yang bisa benar-benar terjadi pada masa kini.

Ada sejumlah latar belakang yang menggerakkan seseorang menulis novel. Sehingga kita juga tidak bisa menyamaratakan setiap novel hanya merupakan kisah roman picisan. Meski, seperti halnya syair lagu dalam dunia musik, kisah asmara dalam novel relatif paling menarik minat publik untuk membacanya. Sehingga sama-sama novel dengan kisah asmara, berbeda latar belakang pengarangnya, berbeda pula muatan nilai yang diselipkan dalam cerita. Bandingkan saja novel masa lalu seperti “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” (Hamka), “Siti Nurbaya” (Marah Rusli) dengan novel kontemporer “Cinta Sepanjang Amazon” (Mira W.), hingga “Ayat-ayat Cinta” atau “Ketika Cinta Bertasbih” (Habiburrahman El Shirazy).

Ketika membandingkan novel-novel tersebut, kita bisa sedikit tahu mengapa cendekiawan seperti Kuntowijoyo juga menulis novel. Atau sebaliknya ulama seperti Buya Hamka, bermula dari menulis novel berlanjut dengan menulis Tafsir Al Azhar.

Seorang novelis murni, hanya sekadar berbagi cerita. Menceriterakan peristiwa yang ada dalam imajinasinya dengan apa adanya. Berbeda dengan cendekiawan atau ulama. Akan selalu mencoba menyelipkan pesan-pesan bermakna dalam cerita yang ditulisnya.

Pesan-pesan sarat nilai dan makna dari cendekiawan dan ulama, memang bisa disampaikan melalui beragam media. Hanya, setiap media tentu punya segmen tertentu. Sehingga ketika novel yang menjadi pilihan dalam penyampaian pesan, karena ada segmen tertentu yang hendak dituju.

Ketika menulis novel “Silang Selimpat” yang menceriterakan bagaimana seorang Bupati Kebumen imajiner yang anti korupsi, jujur dan merakyat namun justru menghadapi penentangan dari luar maupun dari dalam lingkungan Pemkab Kebumen, sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan figur Bupati Kebumen impian. Apalagi novel itu diluncurkan pada 12 Januari 2015, saat suasana sudah diwarnai persiapan Pilkada Serentak 2015.

Namun respon pembaca ternyata bermacam-macam. Ada saja yang mengira saya menulis berdasarkan pengetahuan saya tentang perilaku pejabat Kebumen.

Terlebih ketika di Kebumen terjadi Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 15 Oktober 2016, yang berbuntut ditersangkakannya Sekda Kebumen AP. Terakhir menyusul juga ditersangkakan Bupati Kebumen MYF dan mantan calon bupati Kebumen KML yang menjadi kompetitornya dalam pilkada.

Orang Kebumen yang sudah membaca novelnya banyak yang kemudian mengomentari peristiwa tersebut, “Seperti dalam novel Silang Selimpat.” Padahal dalam sampul depan bagian atas sudah tertulis dengan jelas “Hanya Sebuah Novel”.

Jadi, meski salah satu penulis novel “Ghost Fleet”, Peter W. Singer secara tegas menyatakan bahwa karyanya adalah fiksi bukan prediksi, khususnya tentang Indonesia, orang yang tahu luar dalamnya Indonesia, bisa saja bukan hanya menganggap sebagai prediksi, malah akan menilainya sebagai kisah nyata (true story). Masalahnya, seberapa dalam pengetahuan tentang Indonesia dari para pembaca novel tersebut yang kemudian menanggapi pidato Prabowo?

*) Penulis novel “Pil Anti Bohong” (2011) dan “Silang Selimpat” (2015).

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up