ArtikelFeatured

Ketika Para Eyang Kehabisan Akal Sehat

Oleh M. Nigara (Mantan Sekjen PWI)

SAYA memang bukan pendiri PAN. Bahkan bukan juga kader yang bergabung dengan partai berlambang matahari bersinar itu dari awal. Saat reformasi bergerak, saya masih memimpin harian Berita Buana, Sinar Pagi, tabloid GO, dan Nusa Bali kumpulan media milik Bakrie Media Nusatama. Tapi, koran saya menjadi salah satu pendukung gerakan reformasi terdepan.

Bergabung ke PAN baru 2001-02, lewat sahabat saya DR. Imam Wibowo Msc dan Bang Sabri Saiman, tokoh pergerakan dari Tanjung Priok. Tapi sejak 2014 hingga kini saya tidak tercatat lagi sebagai anggota, ya hanya simpatisan saja.

Meski demikian, sejak itu saya nyaris tak pernah lepas dari Prof. DR. Muhammad Amien Rais, MA. Dan lima tahun terakhir, hampir setiap hari menimba ilmu gratis dari sang lokomotif reformasi ini.

Khusus pergulatan tentang pecapresan kali ini, saya mengikutinya nyaris tanpa jeda. Detik demi detik, pergeseran demi pergeseran politik, tokoh demi tokoh, para alim ulama, bahkan tokoh sentral Habib Rizieq Shihab, saya dan ustadz Sambo selalu berada di sisi Pak Amien. Artinya, saya paham betul mengapa akhirnya mantan Ketua Umum PAN ini sungguh-sungguh berlabuh dan menaruh harap besar pada Prabowo Subianto untuk bisa memperbaiki keadaan dan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kita tidak punya pilihan. Mas Prabowolah satu-satunya tokoh di antara kita yang masih terus menjalankan sunatullah untuk perbaikan negeri ke depan. Saya dan kita semua juga masih menjalankan sunatullah, tetapi yang paling dalam adalah dia (Prabowo),” tukas Pak Amien di kediaman HRS, Makkah Al-mukharamah, Ramadhan yang lalu.

Jadi, ketika tiba-tiba CTW, sahabat saya yang kader dan caleg PAN dari dapil Jabar, mengirim WA terkait rencana dari lima pendiri PAN: Goenawan Muhammad, Albert Hasibuan, Abdillah Toha, Toeti Hertati, dan Zumrotin, untuk meminta Pak Amien mundur dari segala aktivitas politik praktis dengan tudingan membawa-bawa agama dan keluar dari pakem PAN yang mereka rancang.

Sungguh, saya sama sekali tidak terkejut. Saya justru tertawa sambil (maaf, berpikir lain). Kok, tiba-tiba quinted yang mengaku sebagai pendiri PAN membuat surat seperti itu?

Bagi saya ini benar-benar lucu. Mengapa? Sejak 2002 hingga 2018, saya tak sekali pun bertemu dengan keempat orang itu. Ya, hanya Abdillah Toha saja yang sempat saya lihat, meski demikian, kontribusi apa pun untuk PAN, maaf, tidak pernah terlihat. Bahkan sekedar nasehat pun, tidak pernah tersirat. Kalau GM, tetap membayar iuran partai hingga 2014, itu pun tidak membuat dia berhak menuding Pak Amien demikian.

Kalau salah satu alasannya Pak Amien (memilih Prabowo) ingin mengembalikan kekuasaan orde baru, saya jadi bertanya, kok sempit sekali wawasan wartawan sebesar GM? Coba deh selami baik-baik, apakah Pak Ciputra orang yang memodalinya bukan bagian dari orde baru? Atau, sepahit apa sih orde baru menindasnya? Rasanya ada, tapi tidak seperti sekarang. GM tetap bisa eksis, bisa kaya karena majalah yang dipimpinnya (meski pernah dibredel) tetap bisa terbit lagi dan malah tambah eksis. Tetap terjaga kehormatannya dan tetap dapat iklan. Lalu, apa pahitnya buat GM?

Selain itu, kalau quinted ini melarang Pak Amien mendukung Prabowo, seperti kata mas Drajat, yang otoriter itu siapa? Pak Amien atau para tokoh itu? Di samping itu, kelima orang ini meski tidak terdaftar sebagai timsesnya, tapi jelas ada di barisan toko sebelah. Kata beberapa teman wartawan senior, maaf, mereka itu cebong juga. Jadi, mereka lupa tidak bisa bersembunyi seperti di zaman orde baru.

Yuk kita lihat para personil toko sebelah. Saya sengaja tidak menyebut satu persatu, tapi mayoritas mereka adalah tokoh-tokoh yang tak lepas dari orde baru. Mereka secara kasat mata juga sempat menikmati orde baru. Bisa kaya, bisa terkenal, bisa memiliki banyak media cetak dan elektronik, bisa jadi tokoh, ya karena orde baru. Lalu, mengapa sekarang quinted ini menuding Pak Amien sekeji itu?

Saya jadi teringat pada obrolan para alumnus SMA yang Sabtu (22/12) mendeklarasikan dukungan untuk Prabowo-Sandi, toko sebelah panik. Orang panik, pasti melakukan apa saja. Ibarat orang yang akan tenggelam, apa saja ditarik untuk dijadikan pegangan.

Kepada khususnya Bang Albert dan GM, kita sana-sama wartawan meski mungkin para senior ini lebih hebat dari saya. Apa jawaban abang-abang ketika ditanya: “Kok ada belasan juta umat berkumpul (reuni Akbar 212), tidak terjadi apa pun, tidak diberitakan media-media mainstream?”

Lalu, ada petani di Jawa Timur diberi traktor, lalu begitu tokoh yang memberinya pulang, traktor-traktornya ditarik kembali? Begitu juga, ketika korban gempa di Lombok ingin mencairkan dana bantuan yang tertera di buku tabungan, ternyata tidak bisa dicairkan karena dananya tidak siap? Dan, apa komentar abang-abang wartawan besar itu, melihat presiden malah asyik berpose di pinggir laut sementara rakyat yang menderita terkena dampak tsunami Selat Sunda justru ditemui oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan?

Sudahlah, jika kalian ada di sebelah, tak usah mencampuri rumah tangga orang. Hitunglah dengan baik dan buatlah isu yang lebih menarik serta masuk akal. Atau, hmmmm …. jangan-jangan Eyang kakung dan eyang putri memang kehabisan akal ya? Hehehe mohon maaf lho eyang.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait