Artikel

Kesempatan Jadi Pahlawan bagi Generasi Milenial

Oleh: T. Taufiqulhadi

Setiap anak muda memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan. Pahlawan dalam arti yang sebenarnya, tentu saja. Menjadi pahlawan tidak perlu menunggu perang. Memang perang di masa lalu telah menghadirkan para pembela negara. Karena ancaman terhadap negara saat itu adalah berbentuk musuh dari luar, maka harus pula disikapi dengan perang fisik.

Sekarang  walau tidak ada musuh yang kelihatan, ancaman terhadap negara tetap ada. Ada ancaman dalam bentuk perang melalui cyber, ancaman narkoba, dan ancaman kerusakan lingkungan.

Berkaitan dengan lingkungan, generasi milenial sekarang tetap bisa menjadi pahlawan. Kuncinya adalah jangan ada sikap acuh tak acuh.

Saya contohkan, di sebuah lokasi kebakaran hutan di Riau, seseorang melihat  awal titik api dari puntung rokok. Tapi orang tersebut tidak memadamkan waktu api masih kecil. Akhirnya api itu membesar dan melahap puluhan hektar hutan dan rumah penduduk. Karena acuh tak acuh, orang tersebut tidak sempat menjadi pahlawan. Padahal orang tersebut memiliki kesempatan menjadi pahlawan, pahlawan bagi kampungnya dari lahapan api yang dahsyat.

Dalam konteks peredaran narkoba, anak muda sekarang bisa menjadi pahlawan asalkan mereka mau bersikap kritis. Sekali lagi tidak bersikap acuh tak acuh. Para bandar narkoba itu, dalam rangka mencari mangsa, mereka menyebar ke pelosok-pelosok desa dan kelurahan. Maka seharusnya, jika kita melihat ada orang mencurigakan hadir di lingkungan kita, segeralah melaporkannya ke perangkat desa. Siapa tahu orang baru itu adalah pengedar atau bandar narkoba. Maka jika kita tidak bersikap acuh tak acuh, kita telah membantu lingkungan kita. Kita bisa menyelamatkan warga desa dari bahaya narkoba. Di situ kita telah mejadi pahlawan.

Cyber atau dunia maya dengan  berbagai kontennya telah membawa dampak bagus bagi kita. Tapi dampak buruknya pun sangat banyak. Melalui dunia cyber kita dapat mengakses lautan informasi yang bermanfaat untuk kehidupan kita. Tapi melalui dunia ini juga kita menghadapi mudharat yang sama besar dengan kebaikannya. Salah satunya adalah kontennya hoax di medsos.  Konten hoax ini sangat negatif karena isinya mengadu domba antara orang yang satu dengan yang lainnya. Mengadu domba antara etnik yang satu dengan etnik yang lainnya. Mengadu domba antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Atau konten negatif berupa pornografi yang dapat merusak masyarakat.

Kita dan generasi muda pada khususnya, harus kritis terhadap konten cyber di masyarakat. Jangan kita biarkan konten hoax merajalela. Persoalannya kadang-kadang kita pun tidak paham mana berita yang benar dan  mana hoax atau palsu. Untuk itu, kita tidak menjadi sasaran serangan dari dunia cyber, anak muda harus memiliki cakrawala yang luas. Cakrawala yang luas bisa didapatkan dengan belajar yang rajin dan banyak membaca buku.

Jadi, kita pun bisa menjadi pahlawan di bidang cyber dengan menyelamatkan diri sendiri dan masyarakat dari konten cyber yang hoax. Kita bisa menyelamatkan masyarakat dari praktik adu domba dan provokasi melalui berita palsu di media sosial. Dan jika hal itu sudah bisa kita lakukan, kita sudah bisa menjadi pahlawan. Hal itu bisa kita capai apabila kita tidak acuh tak acuh terhadap maerajalelanya berita hoax di cyber. Kita harus peduli.

Dengan demikian, sekali lagi, saya tegaskan bahwa saat ini kita masih punya kesempatan menjadi pahlawan. Jangan menunggu ada perang untuk menjadi pahlawan. Jika kita peduli pada masalah-masalah yang muncul di masyarakat, lalu kita mampu memberikan solusi maka ita sudah bisa menjadi pahlawan.

T. Taufiqulhadi, anggota Komisi III DPR RI dan Ketua Komite MAN 13 Jakarta.

(Pesan dalam tulisan ini disampaikan saat menjadi pembina upacara Peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2017 di MAN 13 Jakarta).

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up