Artikel

Kenapa Harus Pakai Kekerasan?

Oleh: Himawan Sutanto (Kader Partai Demokrat, Caleg DPRD DKI Jakarta, Dapil 4 nomor 8 Jakarta Timur).

Pagi itu seperti biasanya, Novel Baswedan berjalan kaki menuju rumahnya setelah sholat subuh di Masjid Al Ikhsan. Namun ada yang berbeda hari itu, dua orang yang berboncengan di satu motor mengikutinya. Motor itu berjalan pelan saat berada di dekat Novel. Lalu, orang yang di belakang menyiramkan cairan yang belakangan diketahui sebagai air keras. Cairan itu mengenai wajah Novel dan dia sempat lari menghindar, lalu dua orang itu kabur dengan motornya. Kejadian tanggal 11 April 2017 yang menimpa Novel Baswedan telah membuat matanya harus dioperasi ke Singapura. Penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini pun harus dilarikan ke Singapura untuk menjalani penyembuhan di bagian wajah dan matanya. Sampai penghujung tahun 2018 mau berakhir, luka-luka di wajah Novel sudah mulai sembuh. Akan tetapi polisi tak juga berhasil menemukan pelaku penyerangan.

Belum selesai kasus Novel Baswedan, kekerasan kembali terjadi kepada ahli IT Hermansyah. Pada 11 Juli 2017 Hermansyah dan istrinya Irina keluar dari rumah mereka di kawasan Depok menggunakan mobil pribadi  menuju Jakarta, sementara pengemudinya adalah Hermansyah sendiri. Perjalanan hanya berkeliling kota Jakarta dan dilakukan semata-mata mencari waktu berdua karena Hermansyah cukup sibuk di luar rumah.

Dalam perjalanannya pulang di jalan tol, mobil Hermansyah dipepet oleh mobil lain. Karena mobilnya disenggol, Hermansyah mengejar mobil tersebut dan berhasil menghentikan mobil yang ugal-ugalan. Hermanyah belum keluar dari mobil untuk menemui pemilik mobil yang menyenggol mobilnya, Hermansyah diserang dari belakang oleh orang tak dikenal dan dibacok . Hermansyah menderita luka di leher dengan luka yang cukup parah. Luka juga dialami di bagian tangan, dahi, dan telinga. Setelah melihat korban bersimbah darah, para pelaku kabur. Kemudian istrinya yang membawa mobil ke rumah sakit Hermina Depok.

Dari dua kasus di atas kita bisa membaca, bahwa kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam bentuk kekerasan sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak. Atau seperti kekerasan yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.

Perilaku kekerasan semakin hari semakin tampak, dan sungguh sangat mengganggu ketentraman hidup kita. Jika hal ini dibiarkan, tidak ada upaya sistematik untuk mencegahnya, tidak mustahil kita sebagai bangsa akan menderita rugi oleh karena kekerasan tersebut. Kita akan menuai akibat buruk dari maraknya perilaku kekerasan di masyarakat baik dilihat dari kacamata nasional maupun internasional.

Belum juga selesai kasus yang menimpa Novel Baswedan dan Hermansyah, kita dikejutkan dengan kekerasan baru dengan korbannya aktivis perempuan, yakni Ratna Sarumpaet. Kejadian ini terjadi pada tanggal 21 September 2018 lalu di Bandung, tapi tak banyak yang tahu. Di bandara Bandung, Ratna dimasukkan ke dalam mobil, dikeroyok oleh orang yang tak dikenal, lalu ditekan untuk tidak melaporkannya. Hal itulah yang membuat Ratna ketakutan dan trauma. Ratna tak berani melaporkan karena merasa takut dan trauma, sehingga tidak mengabarkan kepada siapa pun.

Dalam kasus Ratna Sarumpaet, cara pandang kita harus lebih tertuju pada aktivitasnya sebagai aktivis demokrasi yang kritis terhadap kepemimpinan bangsa ini. Ditolaknya Ratna Sarumpaet bicara dalam forum-forum diskusi di berbagai daerah adalah indikasi terhadap pembungkaman dengan cara-cara orde baru. Kekerasan yang dialami Ratna Sarumpaet tidak saja berarti serangan fisik terhadap dirinya, tetapi juga meliputi semua bentuk tindakan atau aktivitas Ratna selama ini.

Kekerasan dan kekuasaan diperlukan untuk mencapai penghentian sikap kritis seseorang yang dengan lantang mengkritik pemerintahan yang sedang berkuasa. Hal ini sangatlah gamblang dapat diartikan ‘pembungkaman’ sudah terjadi di era pemerintahan pasca reformasi. Pertanyaannya adalah kenapa kekerasan selalu menjadi cara untuk melakukan pembungkaman ? itulah yang selalu mengusik kita terus menerus akan realitas bangsa ini. Akan tetapi, aksi bully terhadap korban marak di sosial media, ini menunjukkan realitas masyarakat yang sakit karena adanya polarisasi dukungan politik yang muncul dewasa ini.

Dilihat dari kasus tersebut di atas, menunjukkan bahwa kekuasaan yang ‘rapuh’ akan selalu terlihat ketika penguasa memusatkan kekuasaan, baik pada level infrastruktur maupun suprastruktur politik. Secara suprastruktur, penguasa secara langsung memegang hegemoni atas partai politik. Hal ini juga berpengaruh pada fungsi kontrol legislatif di DPR yang berkurang. Akibatnya, kekuasaannya sebagai kepala eksekutif tidak mendapat kontrol dari legislatif, pada akhirnya rakyat juga yang menjadi korbannya. Masih diam saja saat kekerasan untuk membungkam suara kritis dilakukan?

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up