Artikel

KARENA SATU ORANG

Ingkar janji, mencaci, memaki, mengumpat dan menghina itu keburukan yang sangat nyata, apalagi dilakukan oleh pejabat negara. Semua keburukan itu bisa disaksikan, sangat nyata, nyata senyata-nyatanya

Oleh : Iswandi Syahputra

Karena satu orang, hari-hari ini rekatan persaudaraan dan persahabatan manusia Indonesia terganggu. Satu saudara sesama muslim bisa bermusuhan dengan saudara lainnya, bahkan ada yang rela mati tidak disholatkan karena membela seseorang.

Satu sahabat mencurigai sahabatnya yang lain, juga karena gara-gara satu orang. Kehidupan sosial tidak semakin membaik, karena kita kehabisan lem untuk merekatkan yang renggang dan berbeda dalam kehidupan sosial ini.

Beberapa teman secara diam-diam kemudian meminta pendapat saya tentang situasi terakhir. Karena agama saya Islam, secara deduktif saya berpendapat sesuai ajaran Islam yang saya yakini seyakin-yakinnya begini:

(1) Dalam Islam itu jelas, antara yang *HAQ*(benar) dan *BATHIL* (salah). Jangan ragu sedikitpun, jangan ragu, jangan pernah meragu sedikitpun.

“Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan (antara yang haq dan yang bathil). (QS Ath-Thariq : 13).

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (QS Al-Baqarah : 2).

Dan kita dipandu agar tidak mencampur antara yang haq dan yang bathil

“Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya”,(QS. Al-Baqarah : 42).

Ingkar janji, mencaci, memaki, mengumpat dan menghina itu keburukan yang sangat nyata, apalagi dilakukan oleh pejabat negara. Semua keburukan itu bisa disaksikan, sangat nyata, nyata senyata-nyatanya.

Bagi saya, kesaksian ini sudah cukup menunjukkan sesuatu itu BAIK atau BURUK. Sudah jelas mana yang Haq dan Bathil karena demikian nyata, bukan wacana, opini, isu atau rumors. Kalimat buruk itu sangat nyata…

Perumpamaan ini mungkin dapat memberi gambaran:

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim : 26)

Pokok poin (1) ini jelas, menunjukkan sungguh telah nyata yang *Haq* dan *Bathil*. Mempermainkan Al-Qur’an, itu sungguh kebatilan yang sangat teramat sungguh nyata.

“Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan (antara yang haq dan yang batil). Sekali-kali ia bukanlah gurauan”. (QS Ath-Thariq : 13-14).

[nextpage title=”Hal penting”]

Hal ini penting karena tidak banyak orang yang dapat membedakan yang haq dan bathil. Mengapa? Masuk poin (2)…

(2) Hanya saja, yang bathil (salah) sudah ditakdirkan memang mampu menarik perhatian dan memikat hati.

Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu.” (QS. Al-Ma’idah : 100).

Karena itulah terkadang sesuatu yang bathil sering sekali selalu menang atas yang haq. Ini terjadi karena para pemangku agama dan kaum terdidik lainnya ikut mendukung kebathilan itu. Jangan heran, karena Allah memang telah menyatakan suatu yang buruk itu selalu menyilaukan dan memiliki kemampuan memikat hati, tidak terkecuali agamawan dan kaum terdidik.

Demikian juga dengan beberapa intelektual muda muslim yang tampil dengan argumen yang terlihat seperti ‘mempesona’, padahal itu cuma tipu muslihat belaka. Rasulullah SAW sudah mengingatkan hal ini.

“Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda yang pemahamannya sering salah paham. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyyah” (maksudnya: suka berdalil dengan Al Qur’an dan Hadits). Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu perangilah mereka (luruskan pemahaman mereka).” (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari 3342).

Lantas, karena berbagai hal tersebut, bagaimana jika keburukan (bathil) tersebut itu menang atas kebaikan (haq)? Kita masuk poin (3)…

(3) Jika seseorang yang nyata telah berbuat bathil tapi tetap terpilih menjadi pemimpin, apakah itu tanda kemenangan yang bathil atas yang haq? Iya! Kemenangan yang bathil atas yang haq tapi itulah kemenangan palsu. Kemenangan itu adalah ujian bagi orang beriman.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Alankabut :2 )

Ujian bagi orang beriman itu pasti akan membawa hasil. Sebab itu sudah janji Allah bahwa kebathilan pasti akan lenyap. Sejarah mengajarkan mulai dari Fir’aun hingga Hitler yang memimpin secara bathil, terjungkal dengan cara menyakitkan. Gusti ora sare… Tuhan tidak tidur, Dia sudah berjanji akan melenyapkan kebathilan.

“Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap” (QS. Al-Israa : 81)

Sampai disini, saya mantep… Siapapun yang terpilih dalam Pilkada sebagai pemimpin nanti, ini sebenarnya petarungan antara yang haq dan bathil. Kalau yang haq menang, inilah janji Allah:

“Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap” (QS. Al-Israa : 81)

Jika yang bathil menang, inilah ujian bagi orang beriman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Alankabut :2 )

Siapapun yang menang atau kalah, tidak ada masalah. Semua sudah diatur dan dapat dibaca dalam Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Kalau kalah, jangan bersedih. Kalau menang jangan sombong. Done? Belum, wait… Tapi karena satu orang ini persaudaraan umat muslim bahkan satu keluarga jadi terganggu. Bagaimana dengan hal ini? Oke, masuk poin (4)…

(4) Berteman dan bersaudara itu bisa abadi di dunia dan akhirat karena dasar iman dan takwa. Saling menyeru kepada kebaikan, mencegah pada keburukan dan mengajak pada keimanan.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf (kebaikan), dan mencegah dari yang munkar (keburukan), dan beriman kepada Allah”. (QS Ali Imran : 110).

Jika ada teman, sahabat atau saudara kita, ajaklah mereka pada kebaikan, larang berbuat keburukan agar kualitas keimanan makin meningkat. Jika tidak mau, ya sudah biarkan saja. Gugurlah kewajiban kita untuk saling mengingatkan.

Jika pertemanan, persahabatan atau persaudaraan tidak didasarkan pada iman dan taqwa, dalam Al-Qur’an memang sudah dijelaskan bahwa:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”_(QS. Az-Zukhruf : 67)

Beres bukan? Jika hidup berpegang teguh pada agama dan kitab suci, Insya Allah semua ada solusinya. Itulah sebabnya saya sangat marah jika Al-Qur’an sebagai kitab suci dihina dan dijadikan bahan gurauan. Semua kitab suci, harus kita hormati… tanpa terkecuali. Agar jelas, siapa yang menghina kitab suci (apapun) itulah KEBATHILAN yang sangat nyata… (th)*

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up