Artikel

Kalau Oposisi Ingin Menang? Pilihlah Figur yang “Ditakuti” Jokowi

Oleh: Supriyatno Yudi

Pasang-memasangkan capres-cawapres semakin seru. Tarik-menarik. Dinamis. Baik di tubuh koalisi, maupun persaingan sesama kader satu partai. Di sisi lain, operasi menjebloskan agar lawan mendapatkan pasangan yang lemah pun turut dilancarkan. Seperti apakah pergerakannya?

Sebagai inkumben, Jokowi pun tak lepas dari dinamika cawapres. Maklum masing-masing partai pendukung mengajukan calon. Masih belum diputuskan, menunggu pergerakan lawan, dan kalkulasi magnet suara cawapres.

Namun, tampaknya kubu Jokowi lebih memilih jalan aman dengan memilih kembali JK sebagai cawapres. JK relatif bisa diterima semua partai pendukung. Rencana mengumumkan cawapres di hari terakhir pendaftaran adalah bagian dari Jokowi menjaga keutuhan partai pendukung.

Bukankah JK sudah dua periode? Benar, namun gugatan di MK adalah jalan yang kemungkinan besar melenggangkan JK kembali mendampingi Jokowi. Tidak mungkin kan JK turut menggugat kalau belum dapat lampu hijau dari Jokowi? “Kalau gak bakal dicawapreskan, ngapain pula JK menggugat,” begitu logika sederhananya.

Meski begitu tampaknya Jokowi tetap masih memantau pergerakan lawan untuk menentukan cawapres. Begitu lawan melengkapi formasi, Jokowi akan memilih cawapres yang sepadan atau bahkan lebih unggul dari lawan.

Hanya sampai di situ? Tentu tidak. Dengan segala kekuasaan yang dimiliki Jokowi bisa ‘berperan’ besar dalam mengintervensi formasi lawan. Kok bisa? Tentu sangat bisa. Bagi Jokowi bukan perkara sulit memepengaruhi kubu lawan agar memutuskan calon yang mudah dikalahkan.

Menyusupkan satu dua orang ke tubuh oposisi tentu hal mudah bagi Jokowi. Termasuk melalui atau membuat ‘oknum’ elit partai koalisi oposisi menjadi agennya. Bukan tidak mungkin pula, ia ‘menempatkan’ orang di acara Ijtima’ Ulama beberapa hari lalu.

Namun, membuktikan itu semua adalah sulit. Untuk itu, mari kita lihat dari yang tampak dan kasat mata saja.

1. Penentuan capres-cawapres harus dibangun di atas kesepahaman bahwa pemilihan itu untuk bisa memenangkan kontestasi. Bukan karena persoalan suka-tidak suka.

2. Jokowi tentu ingin menang mudah. Opsi pertama yang dilakukan adalah menjadikan Prabowo sebagai cawapres dirinya. Namun upaya itu gagal.

3. Berikutnya adalah mendorong Prabowo menjadi capres. Karena Ia merasa sudah pernah mengalahkan dan tahu cara mengalahkan Prabowo.

4. Siapa yang ditakuti Jokowi? Adalah orang yang dia “benci”, atau yang “dia singkirkan”. Persis seperti ucapannya Imam Syafii, ketika menjawab ulama mana yang harus diikuti? Ia menjawab Ulama yang paling dibenci kaum kafir/munafik.

5. Figur pertama adalah Anies Baswedan. Lihat saja baik di media sosial maupun media konvensional serangan terhadap Anies Baswedan tidak berhenti. Bahkan beberapa bulan terakhir makin kencang. HIngga ada tragedi demonstrasi meminta Anies tetap di menjadi gubernur, namun demosntrans mengenakan kaos Bobby-Kahiyang. Dengan mudah publik menduga demonstrasi itu adalah pesanan istana.

6. Figur berikutnya Ahmad Heryawan. Prestasi Aher mengkilap. Operasi hukum tampaknya sulit diarahkan ke Aher. Hingga masa jabatan berakhir dia bersih, khusnul khatimah. Sadar akan itu yang dilakukan Jokowi adalah perbanyak kunjungan ke Jabar. Tercatat rata-rata dua kali dalam sepekan. Ini tentu untuk menyingkirkan gemerlap keberhasilan Aher. Pencitraan yang diharapkan adalah pembangunan Jabar adalah keberhasilan Jokowi.

7. Figur ketiga adalah Ustadz Abdul Somad. Ceramah Somad dimana-mana diganggu. Mulai dari pelarangan BUMN dan instansi pemerintah menjadikannya penceramah, persekusi, hingga ancaman pembunuhan.

8. Figur yang terakhir adalah tokoh KMP. Masih ingat kedigdayaan KMP ketika menguasai parlemen? Anis Matta adalah figur sentral yang berstrategi dan memainkan kemenangan sehingga kursi strategis parlemen dikuasai KMP.

9. Sebagai presiden, Jokowi tentu harus membalikan keadaan. Kalau tidak pemerintahanya akan terganggu berat. Operasi belah bambu dilakukan di tubuh Golkar dan PPP. Sedangkan strategi yang sama tentu saat itu sulit ditembakkan ke PKS. Cara yang mudah adalah mengganti sang motor. Anis Matta dilalahnya (kebetulan) dilengserkan dari kursi presiden PKS.

10. Dari keempat orang ini yang belum memiliki pengalaman di pemerintahan adalah Abdul Somad. Kalau Somad maju harus dipasangkan dengan salah satu dari tiga orang ini.

11. Kalau dengan Prabowo secara elektabilitas bagus. Namun saat debat ketika soal teknis pemerintahan bisa dilibas Jokowi. Begitupun jika terpilih, pasangan ini butuh penyesuaian lama untuk mengendalikan birokrasi.

12. Nah, pasangan ideal yang bisa mengalahkan Jokowi sebenarnya adalah Anies-Aher atau sebaliknya Aher-Anies. Ghirah persatuan umat akan kuat. Secara Retorika dan pengetahuan keduanya akan mampu mengimbangi bahkan mengalahkan Jokowi. Karena dua orang ini memiliki kemampuan verbal yang bagus, berwawasan luas, dan tahu detail pemerintahan. Ingat Prabowo gelagapan ketika debat ditanya Jokowi soal TPID. Aher dua periode menjadi gubernur dan pernah menjadi anggota legislatif. Inovasi kebijakan Aher juga sudah diakui, termasuk mendaptkan penghargaan KPK.

13. Bagimana dengan Anies B-Anis M? oke juga, tapi tidak sekuat Anies-Aher. Sedangkan Anis-Aher tidak mungkin karena satu partai.

14. Nah bagaimana kalau sekarang Prabowo yang menguat sebagai capres? Tentu ini sudah satu poin kemenangan bagi Jokowi.

15. Langkah Jokowi berikutnya adalah menyodorkan cawapres Prabowo selain empat orang di atas. Karena UAS sudah menolak, berarti selain tiga orang di atas.

16. Kalau sampai kejadian Prabowo menggandeng AHY tentu ini lebih baik bagi Jokowi. Karena pasangan ini sejenis: sama-sama militer, Jawa, dan nasionalis.

17. Bagaimana kalau Prabowo-Salim Segaf? Kata Amien Rais pasangan ini masih “kurang nendang”. Tapi lebih baik ketimbang Prabowo-AHY.

18. Pilihan yang mungkin jika Prabowo tetap maju harus didampingi oleh figur yang memiliki unsur: umat, berpengalaman di pemerintahan dan birokrasi, dan memiliki basis massa yang kuat. Pilihannya adalah Aher, Anies, atau Anis.

19. Mari kita lihat akankah Prabowo menjatuhkan pilihan pada salah satu dari tiga orang tersebut? Ataukan ia memilih menjadi King Maker? Catur masih belum selesai.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up