Artikel

K.H. Ma’ruf Amin Menjadi Cawapresnya Jokowi, Mengapa Tidak?

Oleh: Said Salahuddin, Pengamat Politik Pemilu

Meningkatnya kesadaran beragama yang dibarengi dengan kesadaran berpolitik umat Islam dalam beberapa tahun terakhir menjadi fenomena yang menarik perhatian banyak pihak, tidak terkecuali bagi Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan parpol pendukungnya.

Sejumlah Aksi Bela Islam (ABI) yang diikuti jutaan massa sejak 2016, Kemenangan telak Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang didukung ulama pada Pilkada DKI Jakarta 2017, dan kemunculan da’i sejuta ‘viewer’ semisal Ustad Abdul Somad (UAS) yang kerap menyuarakan pentingnya umat Islam aktif berpolitik di tahun 2018, telah memberi efek yang signifikan terhadap meningkatnya kesadaran berpolitik pemilih muslim, sebagai pemilih terbesar dalam pemilihan umum.

Menariknya, di dalam Peserta ABI, Pemilih Anies-Sandi, dan Pengikut UAS itu melebur pula kelompok ‘opisisi’ dan masyarakat yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan Jokowi. Elemen-elemen itu pada akhirnya mengkristal menjadi semacam persekutuan. Mereka bersekutu mengkritisi pemerintah dan parpol-parpol pendukungnya.

Sederet fenomena yang muncul secara konsisten tersebut sudah barang tentu menimbulkan kerisauan bagi Jokowi. Jika elemen-elemen itu kompak menjadi penentang pemerintah dan kekompakan itu terjaga sampai dengan Pemilu 2019, maka Jokowi bisa kerepotan menghadapi calon penantang yang didukung oleh elemen-elemen tadi.

Nah, dari sinilah kemudian Jokowi dan parpol-parpol pendukungnya memutar otak mengatur strategi untuk menghadapi kelompok tersebut. Maka didapatlah formula yang dipandang efektif, yaitu dengan memecah kelompok yang bersekutu. Mengambil tokoh Islam berpengaruh sebagai cawapres Jokowi menjadi salah satu caranya.

Tetapi pertanyaannya siapa tokoh Islam yang dinilai memiliki pengaruh kuat, suaranya didengar umat, dan pada tingkat tertentu bahkan ikut berperan dalam serangkaian Aksi Bela Islam? Di sinilah ditemukan sosok K.H. Ma’ruf Amin.

Kyai Ma’ruf dianggap ideal untuk mendampingi Jokowi sebab ia adalah pimpinan tertinggi pada lembaga yang menaungi ormas-ormas Islam, yaitu MUI. Dia juga petinggi NU sebagai ormas Islam terbesar. Suaranya sering dijadikan rujukan oleh para ulama. Dalam hal ini jelas suara Kyai Ma’ruf lebih didengar dibandingkan dengan TGB, misalnya.

Kyai Ma’ruf juga tidak mendapatkan resistensi dari parpol-parpol pendukung Jokowi, sebab selama ini ia cenderung menjaga jarak dengan kelompok oposisi. Pendek kata, Kyai Ma’ruf dipandang mampu menggaet suara umat Islam dan diyakini tidak akan merecoki urusan ‘sharing power‘.

Saya memang mendengar nama Kyai Ma’ruf masuk dalam daftar cawapres Jokowi. Tetapi dari tiga daftar yang dibuat oleh parpol pendukung Jokowi, yaitu ‘long list‘, ‘short list‘ dan daftar prioritas, saya tidak tahu nama Kyai Ma’ruf terseleksi sampai pada daftar yang mana.

Yang jelas Kyai Ma’ruf punya peluang untuk mendampingi Jokowi. Tetapi saya menduga kepastian beliau menjadi cawapres akan sangat bergantung pada peta koalisi yang dibangun oleh pihak ‘oposisi’. Jika karakter tokoh yang dijadikan sebagai capres-cawapres oleh pihak ‘oposisi’ adalah figur yang dekat dengan para ulama, maka disitulah peluang Kyai Ma’ruf untuk mendampingi Jokowi menjadi semakin terbuka.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait