Artikel

Jokowi Memang Beda

Oleh Iswandi Syahputra

Dikabarkan Presiden Jokowi membeli satu unit motor chopper (Royal Enfield Bullet 350cc) bergaya chopper (biasa dibaca ceper, rendah). Motor yang awalnya merupakan motor asal Inggris, Royal Enfield Bullet 350cc tersebut, merupakan modifikasi oleh putra-putra Indonesia.

Menurut Bey Triadi Machmudin, Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Negara Presiden sebenarnya ingin meningkatkan brand value anak bangsa.

Mengacu pada pendapat tersebut, peristiwa ini lebih kurang mirip dengan alasan pengembangan mobil ESEMKA saat Jokowi masih menjabat Walikota Solo dan tengah merintis karirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta dan selanjutnya menjadi Presiden RI.

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Jokowi menjelang tahun politik 2019?

Mungkin saja peristiwa ini juga merupakan trik lama yang disusun tim kampanye politik Jokowi. Pada intinya, Jokowi orang biasa seperti kita. Jokowi adalah kita. Dia bukan tipe pejabat yang gemar koleksi Motor Gede mahal atau mobil koleksi mobil mewah yang lagi tren dipamerkan seorang pejabat tinggi negara saat ini.

Sekali lagi, apa sebenarnya yang sedang dilakukan Jokowi? Inilah yang saya sebut dengan Komunikasi Diferensiasi. Yaitu, komunikasi sebagai praktik penyampaian pesan untuk memasuki dan menduduki posisi diferen (berbeda) dalam ingatan publik. Jokowi memang beda, begitulah kira-kira sasaran yang ingin diraih dari ingatan publik.

Tentu saja ingatan itu membawa energi positif, secara politik ini merupakan modal. Jokowi belum berubah, Jokowi masih kita. Tapi lebih jauh dari itu, perbedaan yang ingin diraih ini juga dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap kebudayaan arus utama (mainstream).

Umumnya pejabat tinggi negara membeli Motor Gede (Moge), tapi justru sebagai pejabat tertinggi negara Jokowi membeli mobil ceper yang ceking, dengan spion aksesoris minim dan tampaknya tanpa lampu riting (Gambar 1 dan 2). Di sinilah perbedaannya, berbeda bukan saja kunci tapi berbeda adalah perlawanan.

Budaya Custom, Berbeda adalah Kunci
Jenis motor ceper atau sepeda lowroder (Gambar 3) sebenarnya bagian penampakan dari wujud custom culture atau sebut saja budaya populer.

Orang awam melihat motor ceper atau sepeda lowroder sebagai sebuah karya unik. Pemahaman lain di atas sedikit dari pemahaman awam tersebut yang dianut oleh para modifikator dari pelaku bengkel biasanya memahami motor kustom atau sepeda lowroder sebagai gambaran selera dan ambisi pemiliknya. Jadi dimulai dengan konsep yang ada di otak si pemilik untuk punya atau menciptakan motor dengan tampilan yang berbeda. Berbeda menjadi konsep kuncinya.

Custom sendiri dapat diartikan sebagai menurut pesanan. Karena barang yang dipesan menurut selera atau konsep pembeli, sudah pasti hasilnya berbeda dari produk lainnya. Pasti berbeda…

Custom atau Kustom berkembang menjadi gerakan kebudayaan pop.
Sehingga custom culture merupakan perkembangan lain yang terjadi di Amerika (ada yang merujuk juga di Inggris) pada era tahun 1950-an untuk menggambarkan seni sebagai produk perlawanan terhadap industri seperti kenderaan atau gaya seperti fesyen, atau gaya rambut yang mainstream. Jadi pahamkan, mengapa saya (dan Jokowi juga) suka pakai pomade untuk menata gaya rambut? Ada pesan perlawanan terhadap kebudayaan mainstream (arus utama, hal yang banyak dilakukan orang) dalam sehelai rambut yang dipoles pomade.

Pesan perlawanan ini sebenarnya ditujukan pada pemuja produk massal dari pabrik-pabrik kapitalisme yang gencar menggoda khalayak melalui berbagai produksi iklannya. Dalam konteks ini, saya fikir Jokowi ada dalam barisan ‘sekawanan minoritas’ yang sedang melakukan ‘perlawanan simbolik‘ terhadap ‘massa mayoritas’ hasil ciptaan budaya industri yang digerakkan oleh mesin kapitalisme.

Namun dalam konteks yang lebih luas, disadari atau tidak oleh Jokowi, disengaja atau tidak untuk kepentingan politik oleh tim Jokowi, memang Jokowi beda…

Masih ingat saat Jokowi goyang Maumere. Orang sekitar yang ikut menari umum berputar ke kanan, Jokowi malah muter ke kiri. Acara resmi seperti peresmian KA Bandara Soekarno-Hatta, semua orang pakai pakaian resmi, Jokowi malah pakai kaos yang tidak untuk acara resmi. Sementara ke sawah harusnya pakai pakaian tidak resmi, Jokowi malah pakai pakaian resmi.

Berbeda adalah kunci, dan ini menarik untuk dikaji. Ada misteri berbagai relasi dibalik penampakan perbedaan itu semua. Yang minat mengkaji, mari kita gelar diskusi…

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: