Artikel

Jokowi dan NU

Oleh: M. Saleh Mude
Mantan aktivis PII Sulsel.

Hubungan baik Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) dengan petinggi organisasi massa (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) terbilang (sangat) baik dan komunikatif.

Jokowi termasuk presiden yang rajin mengunjungi pesantren-pesantren yang memiliki santri ribuan dan dominan dikelola oleh ulama-ulama atau kiyai-kiyai NU. Jokowi dalam beberapa kesempatan membuka dialognya yang interaktif dengan para santri dengan tebak-tebakan nama-nama ikan. Santri yang bisa menjawab semuanya, berhak mendapat sepeda baru, yang memang diidamkan dan cocok dipakai di lingkungan pesantren.

Puncaknya kedekatan Jokowi dengan kalangan Nahdliyin ditandai dengan pemilihan Bapak Prof. KH. Ma’ruf Amin, ulama mumpuni, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jauh sebelumnya, Jokowi telah dekat dengan petinggi NU seperti Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, dan berkoalisi dengan dau partai berbasis pemilih Nahdliyin, Muhaimin Iskandar dan Muhammad Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kedekatan Jokowi dengan petinggi NU, mendatangkan harapan besar untuk meraup suara mayoritas dari kalangan NU, yang pemilih muda atau milenialnya, lumayan besar jumlahnya dari pondok-pondok pesantren.

Di pesantren itu, ada adagium, “suara kiyai” adalah fatwa bagi setiap santri. Jokowi pasti percaya itu.

 

Tulisan ini akan melengkapi buku saya yang segera terbit, 10 Alasan untuk Sepuluh Tahun Pemerintahan Jokowi. Terima kasih.

Tanah Abang, 4 September 2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up