Artikel

Jasa Setnov untuk Bangsa Indonesia

Oleh : Kang Juki

Publik seketika dibuat gaduh saat mendengar kabar kecelakaan tunggal yang dialami Ketua DPR RI Setya Novanto, biasa disingkat Setnov, usai untuk kedua kalinya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Kegaduhan itu tentu lebih didominasi sikap antipati ketimbang simpati. Wajar, sebelumnya saat untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai tersangka, Setnov mendadak menderita komplikasi penyakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Ajaibnya semua penyakitnya lenyap begitu Setnov memenangkan gugatan pra peradilannya.

Sebagai umat Islam, boleh saja kita ikut larut dalam kegaduhan, mencibir peristiwa kecelakaan tunggal yang dialami Setnov. Namun jangan sampai menghilangkan keyakinan kita akan kebenaran firman Allah SWT, “… Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.” (QS. Ali Imran:191).

Kalimat sebelumnya yang mendahului dalam ayat tersebut adalah, “… dan memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam …” Kita tentu memahami di antara langit dan bumi banyak makhluk. Sementara selama pergantian siang dan malam, banyak peristiwa terjadi. Berarti kita harus yakin tidak ada satupun makhluk yang diciptakan dan tiada satu pula peristiwa yang terjadi dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya, tak terkecuali kecelakaan tunggal yang dialami mobil yang dinaiki Setnov.

Lalu apa manfaat peristiwa kecelakaan tunggal yang dialami Setnov, bagi bangsa Indonesia?

[read more=”Selengkapnya”]

Pertama sejenak meredakan kegaduhan antara pendukung Ahok dan pendukung Anies. Belum juga sampai 100 hari Anies dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, kegaduhan dengan pendukung mantan terus saja terjadi. Terakhir walk out-nya Ananda Sukarlan saat Anies berpidato dalam peringatan HUT ke-90 Kanisius.

Tampaknya hanya dalam kasus Setnov, pendukung Ahok dan pendukung Anies tidak memiliki perbedaan pendapat. Sehingga bisa kita lihat trending topic yang mencuat di twitter pasca kecelakaan Setnov antara lain adalah #SaveTiangListrik

Kalau peristiwa-peristiwa selanjutnya terkait Setnov terus menuai kegaduhan, masyarakat yang umumnya pendek ingatan mudah-mudahan cepat melupakan kegaduhan pilkada DKI yang sudah lewat, sehingga segera menghilangkan sekat pembatas pendukung Ahok dan pendukung Anies.

Kedua inilah momentum yang tepat untuk memperbaiki perilaku kita dalam berbahasa Indonesia. Salah satu media online menulis berita bahwa sebenarnya mobil yang dinaiki Setnov menabrak tiang lampu bukan tiang listrik. Kekeliruan yang terkesan sepele, mengingatkan kita pada kekeliruan lain yang karena dianggap sepele tapi dipakai terus menerus jadi dianggap benar. Dalam istilah orang Jawa “salah kaprah bener ora lumrah”.

Di tepi kanan-kiri sepanjang jalan memang ada bermacam tiang, ada yang tempat membentangnya kabel listrik, kabel telepon, atau lampu penerangan jalan umum (PJU). Beda fungsi membuat beda pula model tiangnya, namun kita terlanjur terbiasa menyebutkannya dengan satu nama, tiang listrik. Padahal ternyata dalam kecelakaan yang menimpa Setnov, tiang lampu PJU yang ditabrak.

Berkebalikan dengan itu, saat aliran listrik terputus karena suatu gangguan banyak orang yang menyebutnya dengan mati lampu. Padahal lampunya normal saja, hanya aliran listriknya yang terputus, membuat lampunya tidak menyala.

Masih ada beberapa kekeliruan berbahasa Indonesia lain yang dianggap sepele dan terlanjur biasa seperti penulisan kata rubah (seharusnya ubah), sekedar (mestinya sekadar), nampaknya (yang benar tampaknya) dan kata-kata lain yang bisa dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Yang menganggap kekeliruan itu sepele mungkin belum pernah mengalami kekeliruan penulisan hanya satu huruf, ya hanya satu huruf, tapi akibatnya bisa fatal. Penjahit ditulis penjahat, jelas beda jauh maknanya. Begitu pula malu dengan maju dan lain-lain. Apa artinya teriakan kita, “Saya Indonesia, Saya Pancasila,” kalau kita masih memiliki kebiasaan keliru dalam berbahasa Indonesia?

Mudah-mudahan saja kesadaran dan selanjutnya kemauan untuk mengubah kebiasaan berbahasa yang keliru itu semakin menemukan momentum untuk terus bergulir. Apalagi kegaduhan terkait Setnov terus berlangsung seiring gugatan pra peradilan yang kembali diajukan pengacara Setnov. Polemik penggunaan kata dan istilah bakal kembali berkembang.

Dua manfaat dari peristiwa kecelakaan tunggal mobil yang dinaiki Setnov, mungkin hanya contoh yang cepat muncul dan bisa dirasakan. Bukan tidak mungkin masih ada manfaat lainnya, menjadikan Setnov berjasa kepada kita semua.

Sebagai bangsa yang tahu berterima kasih, sudah sepatutnya kita mendoakan Setnov yang telah berjasa, agar bisa lekas pulih dari luka akibat kecelakaan yang dialaminya. Selanjutnya kita berharap Setnov masih mau unjuk jasa kepada kita, yaitu memberi contoh untuk taat hukum, mengikuti dengan baik proses hukum yang berjalan terkait statusnya sebagai tersangka.

Sudah selayaknya kita berdoa, kalau akhirnya nanti Setnov harus dihukum, mudah-mudahan hukumannya bisa mengurangi siksa akibat dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkannya kelak di akhirat. Sebagai orang yang sempat disebut namanya dengan gelar Kyai Haji (KH) Setya Novanto saat beberapa waktu lalu mengunjungi pesantren, tentunya Setnov memahami masalah hukuman di dunia dan siksa akhirat.


Kang Juki adalah penulis novel “Pil Anti Bohong” dan “Silang Selimpat”.

[/read]

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up