Artikel

Jangan Jadikan Ibadah dan Dzikir Seperti Candu

Oleh: Kang Juki
Pegiat media sosial

 

“Die Religion ist der Seufzer der bedrängten Kreatur, das Gemüth einer herzlosen Welt, wie sie der Geist geistloser Zustände ist. Sie ist das Opium des Volks.” (Agama adalah desah napas keluhan dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi masyarakat).

Kutipan tersebut berasal dari tulisan Karl Marx dalam karyanya, “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right” yang mulai ditulis pada tahun 1843 namun tidak diterbitkan hingga waktu kematiannya.

Yang kemudian lebih populer adalah potongan kalimat bagian depan dan belakangnya, agama itu candu. Barangkali yang mempopulerkan potongan kalimat tersebut melihat praktek kehidupan yang kontradiktif dalam kehidupan orang beragama, seperti halnya pecandu dan pengguna narkoba. Saat mereka menggunakan bisa berperilaku berbeda dengan kesehariannya.

Di kalangan umat Islam fenomena seperti itu terindikasi dari adanya beberapa ungkapan, seperti: STMJ atau Shalat Taat Maksiat Jalan, malam berkhalwat siang jadi penjahat, dan lain sebagainya. Yang menyolok ketika ada yang ditersangkakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian menampilkan diri sebagai figur ahli ibadah, disimbulkan dengan peci dan sajadah, atau ahli dzikir ditunjukkan dengan tasbih yang dipegangnya. Kalau figur seperti itu kemudian divonis bersalah melakukan korupsi oleh Pengadilan Tipikor, bagaimana publik akan memandang persoalan dzikir dan ibadah?

Umat Islam pasti menolak pendapat bahwa agama itu candu, tapi apakah penolakan itu diikuti pengamalan yang benar terhadap ajaran Islam?

Kalau ada seorang muslim yang tergolong ahli ibadah atau ahli dzikir, tapi masih juga melakukan korupsi atau perbuatan dosa lainnya, baik yang merugikan orang lain atau tidak, tidakkah sebenarnya dia telah memposisikan ibadah dan dzikirnya seperti candu?

Dalam surat Ar Ra’du ayat 28, Allah Swt berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Selanjutnya, An Nawwas bin Sam’an menceriterakan bahwa ketika ditanya seseorang tentang kebajikan dan dosa, maka Nabi Muhammad Saw menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam jiwamu dan kau tidak mau orang-orang mengetahuinya.” (HR Tirmidzi no. 2311 dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin Al Bani).

Sehingga ketenangan yang didapat melalui dzikir kepada Allah Swt semestinya menjadi ruh dalam beraktivitas. Tidak akan melakukan perbuatan dosa yang mempunyai karakter menggelisahkan jiwa, atau kebalikannya dari dzikir. Jadi terasa aneh manakala dalam diri seorang melekat dua perilaku sekaligus, di satu sisi ahli ibadah atau ahli dzikir di sisi lain aktivitas kesehariannya masih bergelimang dosa.

Ingatnya kepada Allah hanya ketika berdzikir, namun saat beraktivitas sama sekali tidak mampu mengingat Allah, mengingat perintah yang harus dipatuhi dan larangan yang harus dihindari. Jika demikian halnya, ibadah dan dzikirnya hanya untuk kompensasi dari kegelisahannya berbuat dosa, bukan menghindarkannya dari perbuatan dosa. Meski tidak sama, tapi hampir mirip dengan para pendosa yang untuk mengatasi kegelisahannya dengan mengonsumsi narkoba dan sejenisnya sebagai pelarian.

Kalau kita marah dengan ungkapan agama itu candu, sudah seharusnya marah pula kepada orang yang memperlakukan agama seperti candu. Konsekuensinya, mari kita seimbangkan aktivitas keseharian agar tidak bersifat kontradiktif dengan ibadah dan dzikir yang kita jalani. Ramadhan memberi kesempatan kita memperbaiki diri. Belum terlambat untuk membenahi.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up