Artikel

Jangan Ada Dusta di Bulan Mulia

Oleh: Sabrur R Soenardi
Alumnus PPWI Petanahan Kebumen dan PPs UIN Sunan Kalijaga, Eksponen PII wilayah Yogyakarta Besar

Akhirnya datang (lagi) juga si tamu agung itu, Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Marilah bersyukur, karena tidak setiap kita bisa berjumpa Ramadhan, meski sangat berharap dan begitu merindukannya. Coba bayangkan andai kita adalah bagian dari 400-an lebih petugas penyelenggara Pemilu serentak yang meninggal itu. Betapa rugi, karena dipanggil Allah hanya beberapa hari menjelang datangnya bulan suci nan mulia ini. Kita hanya bisa doakan, semoga Allah berikan pahala terbaik bagi mereka yang telah menjadi pahlawan demokrasi, dan kita yang masih hidup tentu harus lebih banyak bersyukur. Dengan cara apa? Dengan banyak beribadah, terutama di bulan Ramadhan ini. Mari kita giatkan beribadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Khusus di bulan Ramadhan, ibadah sunnah diganjar sebagai ibadah fardhu oleh Allah, sedangkan ibadah fardhu pahalanya diberikan secara berlipat-lipat. Subhanallah.

Hanya saja, ada satu hal yang perlu kita sadari dan waspadai bersama. Yakni, jangan sampai semua ibadah wajib dan sunnah kita di bulan Ramadhan menjadi mubazir belaka, tiada guna, rusak, dan tak dianggap sama sekali di hadapan Allah, alih-alih, bahkan ibadah puasa kita tidak mendapat hasil apa pun kecuali lapar dan dahaga. Masya Allah. Apakah penyebabnya? Satu di antaranya ini: berkata dan berbuat dusta. Nabi Saw bersabda: “Siapa yang tidak bisa mencegah diri dari berkata dusta, atau justru berbuat dusta, maka Allah tidak butuh dengan yang dilakukannya; menahan diri dari makan dan minum,” (HR Al-Bukhari).

Maka hati-hatilah dengan apa yang kita katakan, apa yang kita tulis (khususnya di era media sosial seperti sekarang ini). Jangan sampai ada dusta dalam ucapan dan perbuatan kita, khususnya selama Ramadhan ini. Sebab, bisa jadi kita celaka karenanya. Dusta bisa menjadi penyebab jauhnya hidayah Allah kepada kita. Alquran mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang melampau batas dan suka berdusta,” (QS Ghafir: 28). Di ayat lain, orang-orang yang berdusta diancam oleh laknat Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ali Imran: 61, “…. kemudian mari kita bermubahalah, kita minta kepada Allah agar timpakan laknat kepada orang-orang yang berdusta.

Kebiasaan berdusta tidak hanya membuat kita susah di dunia, tetapi juga di akhirat. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya dusta mengarahkan pelakunya kepada dosa, sedangkan dosa itu mengajak pelakunya menuju neraka. Seorang pendusta akan selalu berdusta sehingga ditulis di sisi Allah bahwa ia pendusta,” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud Ra). Hadis ini seakan-akan menunjukkan, bahwa seseorang yang menyepelekan sikap dan tindakan dustanya, maka kemudian ia jadi sering berdusta, gampang sekali berdusta, sehingga sampai-sampai Allah mencapnya sebagai pendusta. Kalau sudah Allah yang mencapnya sebagai “pendusta”, maka apa saja yang ia lakukan, kapan dan di mana pun ia berada, ia identik dengan kedustaan. Kebiasaannya berdusta itu yang akan menuntunnya kepada dosa, lalu dosa itu akan menuntunnya menuju neraka.

Memang, tak dipungkiri, neraka banyak diisi oleh kaum pendusta. Allah menyatakan bahwa orang munafik itu di dasar neraka (QS Al-Nisa’: 145), dan bahwa orang munafik dikumpulkan bersama orang-orang kafir di dalam neraka (QS Al-Nisa’: 140). Siapa orang munafik itu? Satu di antara cirinya adalah: suka berdusta. Nabi Saw bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia khianat,” (HR Bukhari, dari Abu Hurairah Ra). Di hadis yang lain beliau juga berkata: “Ada empat hal, yang jika keempat hal ada pada diri seseorang, maka ia munafik tulen; jika sebagian saja dari keempat hal itu ada padanya, maka orang tersebut terjangkit sebagian sifat munafik, kecuali dia meninggalkannya: jika diberi amanah dia khianat, jika berkata dia dusta, jika berjanji ia mengingkari, jika berselisih ia curang,”(HR Bukhari Muslim dari Abdullah Ibn ‘Amr Ibn al- ’Ash).

Nabi bersabda: “Siapa yang mengaku bermimpi tentang suatu mimpi yang tidak ia alami, maka dia pada hari kiamat akan disuruh untuk mengikat dua butir gandum, padahal ia tidak akan pernah bisa melakukannya,” (HR Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas). Di hadis lain, sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya orang yang paling dusta di antara pendusta adalah yang ketika seseorang mengatakan tentang apa yang dilihat oleh kedua matanya, padahal ia tidak melihatnya,” (HR Bukhari, dari Watsilah Ibn al-Asqa’, secara marfuk).

Samurah Ibn Jundub meriwayatkan, kata Nabi Saw, bahwa kelak di hari kiamat ada seseorang yang bibirnya, hidungnya, dan keduanya matanya, pindah ke belakang (tengkuk). Orang, kata Nabi Saw, saat di dunia setiap pagi sejak keluar dari rumahnya selalu berkata dusta, sampai-sampai kedustaannya itu memenuhi cakrawala (HR Bukhari, dari Thuwail Ra, lewat jalur Samurah Ibn Jundub).

Di era media sosial seperti sekarang, kita harus selektif saat menerima atau menyebarkan suatu berita. Bisa-bisa, jika tak hati-hati, kita bisa saja termakan hoaks. Jika kita ikut menyebarkannya, dan ternyata itu hoaks belaka, maka tentu saja kita ikut berdosa. Apalagi jika itu menyangkut pribadi seseorang, maka kita telah menzaliminya, memfitnahnya, dan dosa kita tan akan pernah diampuni oleh Allah kecuali setelah orang tersebut memberi maaf kepada kita. Na’udzu billah, semoga kita terhindar dari menjadi penyebar dan penerima hoaks.

Itulah kenapa, Nabi Saw mewanti-wanti supaya kita jangan gampang latah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Artinya, jika kita menerima suatu berita, kabar, terlebih dulu lakukanlah konfirmasi, tabayyun, untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Kata Nabi Saw, “Cukuplah seseorang bisa dikatakan pendosa ketika ia menceritakan setiap hal yang ia dengar,” (HR Muslim).

Berita yang belum jelas validitasnya, masih abu-abu, masih remang-remang, akan membuat kita tergiring ke opini negatif atau prasangka buruk. Padahal, prasangka buruk itu adalah berita terdusta. Rasul Saw bersabda, “Jauhilah olehmu berprasangka, karena prasangka itu pembicaraan terdusta, [akdzab al-hadits]” (Muttafaq ‘alaih).

Nasihat atau peringatan tentang menjauhi dusta ini terutama sekali harus diperhatikan oleh setiap orang yang memegang tampuk kekuasaan atau pemimpin. Pemimpin harus selalu menjaga lisannya, agar yang terucap hanyalah kebenaran; menjaga sikap dan perilakunya, agar sesuai dengan fakta dan realitasnya, bukan karena pencitraan atau kamuflase demi membohongi rakyat. Jika seorang pemimpin gemar berdusta, maka dia akan celaka. Di dunia dia tidak akan dihargai oleh rakyat, di akhirat tidak dipedulikan oleh Tuhan. Nabi Saw pernah bersabda, bahwa di antara tiga orang yang kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah, salah satunya adalah “pemimpin yang gemar berdusta” [malik kadzdzab] (Bukhari, no 5143).

Semoga di bulan puasa ini, dan selamanya, kita terhindar dari berkata dan berbuat dusta. Amin. Wallahu a’lam.(*)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up