ArtikelFeatured

Jalan Tobat Erwin Aksa

Oleh : Miftah H. Yusufpati (Penulis Wartawan Senior di Jakarta)

Partai Beringin ndoyong alias tak tegak lagi. Erwin Aksa, salah satu kader Partai Golkar, hengkang sebagai penyangga. Ketua DPP Golkar “diberhentikan” setelah melepas dukungannya kepada calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo – Ma’ruf Amin (Jokma). Keponakan Wapres Jusuf Kalla ini terang-terangan bergabung ke 02, kubu capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno (Padi). Banyak pihak menerjemahkan, masuknya Erwin ke kubu 02 sebagai jalan tobat yang benar. Kok?

Hengkangnya Erwin tidak bisa dianggap enteng. Selain tajir, Erwin adalah tokoh kuat pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Erwin adalah Direktur Utama Bosowa Corp. eks Ketua Umum HIPMI (2008-2011). Dia menjabat Ketum di HIPMI menggantikan Sandi (2005-2008). Karena itu, tidak usah kaget, jika langkah Erwin ini bakal diikuti para pengusaha muda lainnya. Bukan hanya itu, Erwin juga akan membawa gerbong anak-anak muda Golkar ke 02.

Masuknya Erwin dalam barisan 02 secara terang-terangan bagaimana pun telah menjadi vitamin bagi Padi dan pendukungnya, sekaligus menggembosi barisan Jokma. Langkah Erwin seperti mengiris kekuatan Jokma. Langkah terang-terangan itu diambil Erwin pada saat sentimen negatif sedang melanda pasangan ini menyusul operasi tangkap tangan (OTT) atas M. Romahurmuziy alias Rommy, Ketua Umum PPP. Rommy adalah anggota Dewan Penasehat di Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokma. Lantaran itu, kasus Rommy menjadi pukulan telak bagi kubu 01.

Memang, Erwin adalah karib Sandi. Selama ini, ia mendukung Sandi secara diam-diam. Banyak pihak menduga, Erwin mencari moment yang pas untuk mendeklarasikan diri sebagai pendukung 02. Nah, saat itu tiba. Saat elektabilitas Padi meroket dan elektablitas Jokma menukik.

Jangan berpikir bahwa orang sekelas Erwin mengambil tindakan dengan mendasarkan pada hasil survei lembaga yang dibayar petahana, macam LSI Denny JA, atau yang lainnya itu. Erwin, dan juga banyak pengusaha, mempunyai lembaga survei atau setidak-tidaknya menyewa lembaga survei sendiri. Mereka butuh lembaga survei yang kridibel, untuk kepentingan bisnis mereka. Lebih jauh lagi, sebagai pimpinan parpol, Erwin tentu saja punya angka-angka hasil survei yang sesungguhnya. Bukan hasil survei polesan lembaga survei untuk menaikkan elektabilitas sang bandar.

Lalu, jangan pula berpikir, Erwin loncat tanpa ada yang mendorong. Soal siapa dia, nanti juga akan ketahuan. Kini spekulasi memang sudah berseliweran. Ada yang menduga sang paman, Daeng Jusuf Kalla, merestui langkah zig zag Erwin. JK adalah guru bagi kader Golkar soal urusan loncat kanan loncat kiri dalam politik. Pada Pemilu 2004, saat Golkar mengusung Wiranto-Shalahudin Wahid, JK memilih berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Dia melawan Golkar dan menang, Pada 2014 lalu, JK rela berpasangan dengan Jokowi pada saat Golkar mengusung Prabowo-Hatta Radjasa. JK menang lagi. Dan dia memang piawai.

Selanjutnya, JK mendukung pasangan Anis Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta. Erwin, pun berada dalam kubu yang sama. Konon, Putra Aksa Mahmud, Bos Bosowa Grup, ini ikut membiayai pasangan ini.

Tidak ada yang kebetulan dalam politik. Semua sudah diskenariokan. Jalan tobat Erwin juga sudah tertulis rapi dalam skenario itu. Cerita sedang berlangsung, menjadi tidak elok jika dibuka semua.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up