ArtikelFeatured

Islam Melawan Kecurangan

Oleh : Alfaqir Emsoli Hat (Muballigh Indonesia)

Islam menaruh perhatian sangat penting terhadap prilaku kecurangan. Betapa pentingnya masalah ini sehingga dalam Al – Qur’an trdapat surah khusus yg membicarakan prilaku orang-orang curang, yakni Surah Al-Mutaffifin (QS. 83).

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (QS. 83:1).

Surah Al-Mutaffifin (Orang – Orang Curang) ini termasuk surah Makiyyah (diturunkan di Makkah). Ini artinya, perintah memerangi kecurangan tersebut, termasuk dakwah Islamiyah periode awal Nabi saw sebelum hijrah ke Madinah.

Umumnya surah – surah Makiyyah berbicara masalah mendasar tentang akidah (tauhid), keimanan terhadap ke-Esa-an Allah, sebagai dakwah mendasar yang mengikis habis sistem penyembahan berhala (paganisme) yang berlaku di masyarakat Arab waktu itu. Sedangkan surah-surah yang berkaitan dengan akhlak, muamalah, sistem kemasyarakatan, pergaulan, perdagangan, umumnnya diturunkan di Madinah (Surah Madaniyyah).

Pertanyaannya, mengapa Surah Al-Mutaffifin ini diturunkan di Makkah? Padahal kalo melihat pesan intinya tentang ancaman bagi perilaku kecurangan para pedagang pasar, ini sepertinya lebih pas diturunkan di Madinah. Mengapa dakwah ancaman “Perilaku Curang” diturunkan pada periode awal sama dengan dakwah “Tauhid”?

Pertama, penentuan tempat turunnya surah itu merupakan hak mutlak dan kehendak Allah. Selanjutnya, kita hanya bisa menangkap tafsir pesan bahwa diturunkannya surah tentang kecurangan pada periode awal dakwah Islamiyah tersebut merupakan isyarat bahwa urusan kejujuran manusia dianggap modal dasar dalam membangun hubungan sosial dengan sesamanya (hablum minannas). Bangunan ini terdapt di atas fondasi kokoh yg disebut akidah (hablum minallah).

Membangun kejujuran sosial itu sama pentingnya dengan membangun kejujuran invidual antara manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Dengan demikian, perintah dasar agama adalah membangun kejujuran (akhlak): jujur kepada Tuhan dan jujur kepada sesama manusia. Komitmen jujur ini terpatri dalam kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah Muhammad ar Rasulullah“. Secara jujur kita katakan bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Kejujuran itu akhlak yang sangat mulia. Karena itu tugas utama kenabian adalah “membereskan akhlak manusia”. Kata Nabi, “Sesungguhnya aku diutus untuk membenahi akhlak”.

Rusaknya akhlak manusia di samping akan merusak hubungan dengan sesamanya juga akan merusak hubungan dengan Tuhannya. Manusia sering berbohong cenderung tidak jujur kepada Tuhannya. Dia melanggar janjinya dengan sesamanya sekaligus melanggar janji denganTuhannya.

Perilaku curang merupakan bentuk kerusakan moral yang dapat merusak tatanan kehidupan manusia. Meskipun konteks curang yang disebutkan pada Surah Al-Mutaffifin tersebut dalam masalah perdagangan (mengurangi takaran), tapi hal itu tidak berarti mentolelir kepada kecurangan yang lain. Kecurangan dalam politik justru lebih berbahaya dibanding kecurangan lainnya.

Pemilu apa pun rawan kecurangan. Pilkada, pileg, pilpres semua rawan kecurangan. Siapa pun bisa berlaku curang. Tapi umumnya kecurangan dilakukan oleh yang punya kekuatan. Masyarakat Arab yang digambarkan dalam surah Al Mutaffifin tersebut, yang melakukan kecurangan takaran adlh kelompok pedagang besar. Mereka para kafilah yang punya kekuasan tidak ingin kekuasaan itu tergusur. Karena itu, praktek kecurangan mereka lakukan untuk mempertahankan kekuasaan kafilahnya. Dan Islam datang untuk memerangi segala bentuk kecurangan itu.

Pemilu 2019 sudah di depan mata. Karena itu, tugas kita bersama, terutama umat Islam, untuk mengawal dan mengawasi pemilu tersebut agar betul-betul bersih dari praktik kecurangan. Semoga Allah senantiasa memberi kedamaian untuk Indonesia.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: