Artikel

Induk Segala Keburukan

Oleh: Sabrur R Soenardi*

Dari Utsman Ibn ‘Affan ra, ia menyatakan: “Jauhilah khamar (minuman keras), karena khamar itu merupakan induk segala keburukan (biang kerusakan).” Kemudian ‘Utsman bercerita:

Dahulu kala, di antara orang-orang sebelum kalian, ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang sangat khusyuk dan alim. Ia disukai oleh seorang pelacur. Pelacur tersebut kemudian mengutus pembantunya untuk menyampaikan pesan: “Kami mengundang engkau untuk suatu kesaksian.”

Ahli ibadah itu pun pergi bersama pembantu tersebut. Ketika dia sudah sampai dan masuk ke rumah sang pelacur, segera pelacur itu menutup rapat semua pintu rumahnya, dan tak ada orang lain. Mata sang ‘abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik dan menggoda, dengan pakaian yang menantang. Di tangan pelacur itu ada secawan khamar dan dekatnya ada bayi yang masih kecil.

Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tetapi aku mengundangmu agar memilih di antara tiga hal: engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini. Kalau engkau menolaknya, maka saya akan menjerit dan berteriak, ‘ada orang memasuki rumahku!’”

Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Karena dosa besar yang merugikan orang lain. Membunuh apalagi. Aku jelas tidak mau, juga dosanya teramat besar dan merugikan orang lain. Aku pilih minum khamar, karena dosanya terkecil daripada yang lain, dan dampak buruknya hanya pada diriku sendiri.”

Lalu ia memilih untuk meminum khamar seteguk demi seteguk hingga akhirnya ia mabuk. Setelah mabuk hilanglah akal sehatnya yang pada akhirnya ia berzina dengan pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu.

Beberapa waktu lalu kita semua dibuat terhenyak tiada tara. Tiga remaja di wilayah Indonesia Timur (dua di antaranya masih usia kanak-kanak) memperkosa seorang gadis kecil (6 tahun) tetangga mereka sendiri, lalu membunuhnya. Polisi langsung meringkus ketiganya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yambise sampai menyempatkan diri mengunjungi lokasi kejadian dan bertemu dengan ketiga pelaku. Ketika ditanya oleh Bu Menteri kenapa bisa melakukan perbuatan keji itu, mereka menjawab bahwa awalnya karena mereka minum miras, kemudian mabuk, lalu memerkosa gadis kecil itu dan akhirnya membunuhnya.

Demikianlah, sekali lagi, pola purba sejak zaman umat-umat sebelum kita terulang. Yakni, bahwa ada keterkaitan antara minuman keras dengan pemerkosaan plus pembunuhan. Jika kita buka lembaran yang lain, hal yang sama persis juga terjadi beberapa waktu lalu, yakni kasus Rejanglebong. Sama persis. Bahkan lebih parah, karena pelakunya 14 orang, yang separuh masih kanak-kanak juga. Yang ironis, ini sebenarnya fenomena gunung es. Kasus-kasus yang terungkap itu hanya yang bisa terdeteksi oleh media. Sedangkan yang tidak terlaporkan mungkin justru lebih banyak.

Islam adalah agama yang memuliakan akal. Sebab, hanya manusia yang berakal sehatlah yang akan bisa memahami dan menerima aturan. Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa pena itu diangkat dari tiga jenis manusia: anak kecil sampai ia dewasa, orang gila sampai ia waras, dan orang tidur sampai ia bangun. Kenapa? Karena ketiga manusia ini, dengan kondisi masing-masing itu, tidak memiliki akal yang sehat, sehingga tak mungkin diberlakukan aturan kepada mereka. Satu contoh saja, misalnya, Alquran melarang orang yang dalam keadaan mabuk untuk mengerjakan salat (QS al-Nisa’: 43).

Saking pentingnya aspek akal ini, Islam menetapkan bahwa “memelihara akal” atau hifz al-‘aql adalah satu di antara lima tujuan penetapan syariah (empat yang lain adalah: memelihara agama [hifz al-din], memelihara keturunan [hifz al-nasl], memelihara jiwa[hifz al-nafs], dan memelihara harta benda [hifz al-mal]). Oleh karena hanya akal sehat yang bisa menerima aturan (syariah), maka akal harus dipelihara.

Agar akal terpelihara sedemikian rupa, maka syariah melarang hal-hal yang berpotensi merusak akal. Nash baik dari Alquran maupun hadis secara tegas mengharamkan khamar atau miras ini. Alquran surat Almaidah: 90 berisi perintah kepada kaum Mukmin agar menjauhi khamar, karena meminum khamar merupakan kekejian dan termasuk perbuatan setan. Sebuah hadis sahih menyatakan, Nabi SAW bersabda, “Setiap yang memabukkan itu khamar, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (HR al-Jama’ah). Sahabat Umar bin Khattab mengatakan bahwa disebut khamar itu karena merusak akal (al-khamru ma khamara al-‘aql). (HR Bukhari no 5266, Kitab al-Asyribah).

Kisah lelaki saleh Bani Israel di atas seperti menyiratkan sebuah pesan, bahwa minuman keras atau khamar adalah pangkal segala kejahatan. Klausul ini bahkan kemudian dibakukan oleh Kajari (Kepala Kejaksaan Negeri) Biak Numfor, Papua, tahun 2016 lalu, dengan statemennya bahwa, “Delapan puluh persen pidana umum disebabkan oleh minuman keras.” Kesimpulan ini bukan asal-asalan, tetapi berdasar kasus-kasus kejahatan yang ia tangani, bahwa pidana-pidana umum seperti kejahatan seksual, KDRT, pembunuhan, dan lain-lain, sebagian besar (persisnya: 80%) pelakunya berada dalam pengaruh alkohol.

Merujuk ke fakta ini sudah seharusnya negara mengambil langkah tegas: melarang peredaran minuman keras dengan alasan apa pun. Sebab, miras itulah yang menjadi pangkal penyebabnya. Sayangnya, negara dalam hal ini lembek dalam mengambil kebijakan, alias tidak tegas. Alasannya klise dan klasik, misalnya: merugikan dunia pariwisata/perhotelan, mengurangi pendapat negara dari cukai miras (6 trilyun/tahun), bertentangan dengan adat di kawasan tertentu, dll. Perenungan pentingnya adalah: apalah arti sektor pariwisata untung besar, pendapatan negara meningkat, tetapi generasi penerus kita hancur karena ketergantungan pada miras?

Yang lucu dan aneh, yang diambil negara justru langkah tambal sulam yang tidak signifikan, misalnya dengan menambah atau memperberat hukuman atas kejahatan-kejahatan yang nota bene disebabkan oleh pengaruh miras tersebut (sebut saja kasus Rejanglebong dan Papua). Dalam peraturan terbaru (misalnya UU Perlindungan Anak No 17 Th 2016), ada tambahan masa hukuman, kebiri, bahkan hukuman mati, bagi pelaku pemerkosaan terhadap anak-anak yang menimbulkan luka/sakit permanen, apalagi sampai kematian. Padahal, yang jadi masalah, kembali pada wawasan di muka, mungkinkah seseorang akan takut dengan ancaman penjara, kebiri, bahkan mati sekalipun, ketika pikirannya sudah berada dalam pengaruh minuman keras? Bukankah itu sama saja menakut-nakuti dengan ancaman hukuman ini itu kepada: anak kecil, orang tidur, dan orang gila? Wallahu a’lam.

* Penulis adalah alumnus Ma’had al-Wathaniyah al-Islamiyah, Karangduwur, Petanahan, Kebumen, eksponen PII Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up