ArtikelFeatured

Imam Nahrawi Mundur, Siapa Menyusul?

Oleh M. Nigara
Wartawan Olahraga Senior

SEKALI LAGI, ini adalah kali kedua Menpora mundur sebelum masa tugasnya berakhir. Tahun 2011, Andi Malarangeng, juga mundur setelah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka terkait kasus Sentul.

Kamis (19/9) Imam Nahrawi juga mundur dari jabatannya. KPK sehari sebelumnya menetapkan politisi asal PKB itu sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi dari KONI. Jumlahnya juga sangat besar Rp 26 miliar.

Lepas dari kasusnya yang sama sekali tidak patut kita contoh, tapi sikap keduanya untuk mundur dari jabatan, sangat bagus. Sikap yang patut ditiru oleh pejabat lain, termasuk wakil presiden dan presiden. Dengan posisi mundur, maka hukum akan berjalan jauh lebih fair. Itu juga yang dilakukan oleh pejabat-pejabat di negara-negara lain.

Sebagai contoh, Pada 2010 misalnya, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama mengundurkan diri lantaran gagal memenuhi janjinya saat kampanye pemilu untuk memindahkan sebuah pangkalan militer Amerika Serikat keluar dari wilayah Okinawa.

Di Taiwan, karena sungguh fatal, pemadaman listrik massal ini berbuntut mundurnya Menteri Ekonomi Taiwan Lee Chih-kung yang merasa bertanggung jawab.

Kalau saja ada sikap seperti itu di Indonesia, mungkin kita bisa melihat Gubernur Propinsi Riau, Bupati, Menteri Lingkungan Hidup, atau …. hmmmm malah Presiden mundur untuk kasus kebakaran di lahan gambut yang sudah demikian parah.

Tapi, harapan itu sama seperti berharap ada bintang jatuh lalu doa kita terkabul. Jangankan mundur, kalimat yang muncul di publik adalah menyalahkan pihak lain. Padahal dulu saat debat capres, dia bilang di eranya tak ada lagi kebakaran hutan, meski itu jelas tidak benar.

Lalu, ada menterinya yang bilang, kebakaran karena kubu sebelah yang kalah, tak ikhlas, lalu membakar. Tuduhan yang jelas fitnah dan ingin melempar tanggung jawab.

Ada lagi kepala staf presiden yang malah meminta rakyat ikhlas karena kebakaran itu berasal dari Allah. Tapi untuk menutup defisit APBN, rakyat dibebankan dengan kebijakan menaikan berbagai kewajiban.

Sementara menteri lingkungan hidup (dulu kehutanan) yang seharusnya paling bertanggung jawab, senyap. Sang menteri seperti sedang bersembunyi dalam gua. Duh…

Kualat
Kembali ke Imam Nahrawi. Apa yang dihadapinya saat ini tak terlepas dari sikapnya yang dinilai agak berlebihan terhadap KONI dan PSSI. Imam menjadi menpora pertama yang memperlihatkan arogansinya pada kedua lembaga itu. Sejak ia menjabat, tak sekali pun ia datang di acara-acara KONI. Padahal sejarah jelas memperlihatkan bahwa KONI sangat berjasa pada bangsa dan negara.

Di saat Belanda melakukan agresi kedua, 1948, Presiden Soekarno dan para tokoh nasional memilih olahraga untuk memperlihatkan keberadaan Indonesia. Mereka menggelar PON. Dan kegiatan itu pula yang menandakan kelahiran KONI.

Begitu juga dengan PSSI. Imamlah menpora pertama yang membekukan organisasi olahraga tertua di tanah air. PSSI merupakan organisasi ke-4 yang berani menyatakan Indonesia, 15 tahun sebelum kemerdekaan. Dan, PSSI pula yang digunakan oleh Soeharto saat terjadi kasus Timor Timur.

Untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita dengan Portugis tidak ada masalah, maka tahun 1976 dikirimlah 31 pemain nasional untuk melakukan pelatihan di Brasil selama lebih dari setahun. Tim itu kemudian dikenal sebagai PSSI Binatama. Mengapa Brasil? Karena di dunia hanya tiga negara yang menggunakan bahasa Portugis: Portugal, Timor Timur, dan Brasil.

Imam tidak perduli semua itu. Ia tunjukkan bahwa dialah penguasa keolahragaan di tanah air sesuai UU SKN, no-3/2005. Bahkan Imam juga seolah menikmati perseteruan antara KONI dan KOI.

Jadi, jika akhirnya ia terjerat, maka semua itu adalah buah karyanya sendiri. Atau orang bisa juga menyebutnya kualat.
Sesuai pepatah lama: siapa menanam, maka dia akan menuai. Sayangnya buah yang dituainya adalah bencana. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Dan semoga peristiwa ini membuat kita, para pelaku olahraga sadar akan perannya. Dan sadar untuk menyatu. Ya, bersatu menghadapi segala tantangan dari luar. Bersatu agar pemerintah tahu bahwa kita adalah satu.

Jangan lagi atas nama apa pun, atas kepentingan siapa pun, kita biarkan olahraga diseret kepolitik praktis. Apalagi kepentingan rezim. Napas dan falsafah olahraga jelas, persahabatan dan sportivitas.

“Membangun olahraga, membangun bangsa!” begitu pekik Bung Karno saat PON 1948 digelar.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up