ArtikelFeatured

Her; Bagaimana Hidup Didampingi Artificial Intelligence?

Oleh: Delianur

Setelah membuat gerah agamawan karena menyatakan dukungan terhadap komunitas LGBT, Univeler kembali membuat gerah platform digital. Perusahaan multinasional bermarkas di London dan Rotterdam ini, menyatakan tidak akan lagi memasang iklan di platform digital seperti facebook, twitter dan google sampai akhir tahun. Pangkalnya karena platform digital tidak bisa membendung maraknya content kebencian sosial dan membuat polarisasi politik.

Platform digital sendiri memang sedang menjadi primadona pemasangan iklan Pada tahun 2017, Unilever menghabiskan budget sampai 9,5 millliar dollar amerika untuk iklan. Seperempat dari anggaran itu, 2,4 milliar dollar, adalah iklan digital. Group M, perusahaan agensi iklan terbesar dunia, mengungkapkan bahwa pada tahun 2017, dari Rp 1,3 quadtrilian (100 milyar dollar amerika) iklan digital dunia, sekitar 84% mengalir ke Google dan Facebook. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Diperkirakan sekitar 80% perputaran iklan di Indonesia, diambil facebook dan google hingga membuat media konvensional megap-megap.

Keputusan Unilever ini jelas membuat platform digital kelimpungan. Terlebih Coca Cola juga melakukan hal serupa. Setelah Unilever mengeluarkan pernyataan resminya, beberapa hari yang lalu (26/06), saham facebook turun 4,6% pada perdagangan sesi awal dan kembali turun 8,3% di akhir sesi perdagangan saham.

Keluhan Unilever ini, mengingatkan kembali pada peristiwa digital ad misplacement Youtube. Iklan-iklan Johnson-Johnson, Coca Cola, Walmart, dan Toyota, tiba-tiba muncul di video Youtube yang menayangkan konten merusak seperti pedofilia, pornografi dan pesan anti-semitis. Bahkan merek-merek tersebut muncul di video eksekusi penggal kepala ISIS.

Banyak kalangan menilai bahwa peristiwa tersebut menunjukan bahwa algoritma Youtube dan analisis Big Data memang cerdas. Bisa mengidentifikasi bahwa penonton video-video diatas adalah orang-orang yang berpotensi membeli produk yang diiklankan. Namun Algoritma Youtube hanya cerdas, tapi tidak berperasaan. Sehingga membuat produk-produk diatas berasosiasi dengan konten negatif.

Ketika melihat fenomena diatas, banyak orang bersorak bahwa inilah kelebihan manusia dibanding Algoritma dan Artificial Intelligence (AI) yang sedang menjadi trend. Algoritma dan AI mungkin bisa menyaingi dan mengungguli kecerdasan otak manusia, namun mereka tidak mempunyai perasaan seperti yang dimiliki manusia.

Pertanyaannya, benarkah AI dan Algoritma tidak bisa mendesign munculnya perasaan seperti manusia?

Yuval Harari yang kerap membicarakan teknologi informasi sebagai masa depan manusia tidak pernah meragukan kecerdasan AI. Lebih dari itu, berdasar beberapa temuan, Harari berkesimpulan bahwa kecerdasan AI akan melebihi kecerdasan manusia.

Dalam buku keduanya, “Homo Deus; A Brief History of Tomorrow” menyingung Deep Blue. Sebuah rancangan komputer buatan IBM tahun 1996 yang bisa mengalahkan juara dunia catur Garry Kasparov. IBM tidak hanya membekali Deep Blue dengan aturan-aturan dasar catur, tetapi juga instruksi-instruksi detail berkaitan dengan strategi catur.

AI rintisan IBM ini terus berkembang. Sepuluh tahun kemudian, Google menciptakan perangkat lunak AlphaGo untuk mengajari diri bagaimana memainkan Go. Sebuah permainan papan strategi Cina kuno. Go dianggap permainan sangat rumit dan berada diluar jangkauan AI. Namun pada Maret 2016, AlphaGo berhasil mengalahkan Lee Sedol, Juara Go Korea Selatan dengan sekor 4-1. AlphaGo membuat langkah-langkah tidak lazim dan strategi-strategi orisinal yang mencengangkan. Setelah melihat jalannya pertandingan, pakar Go meyakini bahwa manusia tidak lagi bisa mengalahkan AlphaGo dan keturunannya.

Dalam 21 Lesson for the 21st Century, Harari mengungkap temuan AI lain dari Google bernama AlphaZero. Sebuah program yang bisa mengalahkan Stockfish 8. Stockfish 8 adalah juara catur komputer dunia tahun 2016 yang memiliki akses ke akumuasi pengalaman manusia dalam catur selama berabad-abad dan pengalaman puluhan tahun komputer. Stockfish 8 mampu menghitung 70 juta posisi catur perdetik.

Kelebihan AlphaZero bukan pada spesifikasinya yang lebih tinggi dari Stockfish 8, tetapi mempunyai sistem pembelajaran mesin terbaru untuk belajar catur melawan dirinya sendiri. AlphaZero hanya mampu melakukan 80.000 perhitungan perdetik dan manusia penciptanya tidak pernah mengajarkan strategi catur apapun. Bahkan untuk sistem pembukaan catur yang sangat standar sekali. Namun dari seratus pertandingan melawan Stocfish 8, AlphaZero menang 28 kali dan seri 72 dua kali. Tidak pernah kalah sekalipun. AlphaZero tidak belajar apapun dari manusia perihal catur.

Namun menurut Harari, AI pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tapi juga perasaan.

Ketika mempromosikan buku keduanya, Harari menceritakan pengalaman Angelina Jolie. Menurut medis, artis Hollywood ini dinyatakan tidak memiliki tanda-tanda mengidap kanker. Tubuhnya bersih dari kanker. Permasalahannya, analisis Big Data menunjukan bahwa Jolie adalah calon pengidap kanker. Ada banyak respon biologis Jolie yang mirip dengan respon pengidap kanker. Terlebih Jolie berasal dari orang tua yang juga pengidap kanker.

Sutradara “First They Killed My Father” lebih mempercayai analisis Big Data sehingga mengambil tindakan-tindakan antisipatif. Di kemudian hari, medis membenarkan langkah Jolie. Pemeriksaan dokter berikutnya menunjukan bahwa dalam diri Jolie sudah ada benih kanker. Namun bisa ditangani karena Jolie sudah melakukan tindakan antisipatif.

Menurut Harari, organisme adalah algoritma. Pola kerja algoritma yang disusun manusia, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pola kerja tubuh biologis kita. Tubuh biologis manusia selalu menunjukan tanda-tanda bila lapar, haus atau akan mengalami berbagai macam penyakit di kemudian hari.

Melangkah lebih jauh tentang perasaan, Harari meyakini bahwa emosi bukanlah fenomena spiritual manusiawi yang misteris. Merujuk pada berbagai temuan ilmuwan biologi, emosi adalah algoritma biokimiawi manusia yang pada akhirnya bisa dianalisa dan dikontrol.

Emosi pada diri manusia bukan sesuatu yang misterius. Dia bisa dianalisi dengan melihat jumlah serotin, unsur biokimiawi, dalam diri manusia. Bila kekurangan serotin selalu berimbas kepada perasaan depresi, maka serotin yang cukup akan melahirkan efek kesenangan pada diri manusia. Karenanya muncul dan hilangnya emosi adalah sesuatu yang bisa direkayasa secara biologis. Karena itu, kelebihan AI bukan hanya pada kecerdasannya saja, tapi juga perasaan.

Untuk menunjang pendapatnya ini, Harari mengungkap perkembangan program EMI, Experiment in Musical Intelligence, karya David Cope. Seorang guru besar musikologi di University of California Santa Cruz.

Awalnya EMI adalah program komputer yang bisa mengubah konserto, chorale, simfoni dan opera Sebastian Bach. Meski Cope membutuhkan waktu 7 tahun membuat EMI, namun begitu program ini selesai, EMI mampu mengubah 5.000 chorale ala Bach dalam satu hari saja. Ketika diadakan festival musik di Santa Cruz, audiens mengapresiasi komposisi ciptaan EMI dan menganggaap komposisi itu menyentuh. Audiens kaget dan terdiam ketika diberitahu bahwa komposisi itu adalah ciptaan EMI bukan Sebastian Bach.

EMI terus berimprovisasi. Tidak hanya meniru Bach, tetapi belajar meniru Beethoven, Chopin, Rachmino dan Stravinski. Cope mendapat kontrak untuk EMI. Album pertamanya, classsical music composed by computer, laris manis.

Bila kita membaca runtutan temuan AI yang diungkap Harari diatas, maka ketika menonton “Her” kita akan kebingungan apakah kita sedang menonton sebuah prediksi atau imajinasi masa depan. Karena “Her” yang menceritakan kehidupan manusia yang didampingi AI, tidak kehilangan basis riset akademisnya.

“Her” adalah film drama fiksi ilmiah produksi tahun 2013. Dibintangi Joaquin Phoenix dan Amy Adams. Berdasar Rotten Tomatoes, situs pengkritik film yang sangat pedas, “Her” mendapat rating 94% berdasar 250 ulasan dengan rating rata-rata 8,5 dari skala 10. Tidak berbeda dengan IMDB yang memberi skor 8,0/10 dan metacritics yang memberi skor 90/100.

“Her” menceritakan seorang Theodore Twombly yang hidup kesepian karena berpisah dari istri yang juga teman dari kecil Catherine (Rooney Maria). Setelah berpisah dengan Catherine, Theodore jatuh cinta kepada Samantha. Masalahnya Samantha adalah sebuah Operational System (OS) komputer terbaru untuk membantu dan mendampingi hidup manusia. Seperti android dari Google atau IOS dari Apple.

OS nya adalah seorang perempuan. Karena suara perempuanlah yang dipilih Theodore ketika pertama kali menginstall OS itu. Nama Samantha dipilih oleh OS nya sendiri, setelah OS membaca buku berisi ribuan nama perempuan yang cocok untuk dirinya dan Theodore. Proses membaca buku dan pemberian nama itu, dilakukan OS hanya dalam hitungan per 200 detik. Theodore jatuh cinta terhadap Samantha karena OS nya tersebut bukan hanya bisa membantu seluruh tetapi juga menemani hidupnya yang kesepian.

Samantha yang hanya merupakan aplikasi komputer, bisa bereaksi seperti layaknya manusia yang mempunyai pengetahuan dan perasaan. Karenanya Samantha pun jatuh cinta kepada Theodore. Adapun kelemahan Samantha yang tidak mempunyai tubuh sebagaimana layaknya manusia, hal itu bisa disiasati Samantha dengan cerdas.

Meski hubungan antara Theodore dan Samantha dianggap ganjil oleh Catherine, tapi hubungan seperti ini juga terjadi dengan orang lain. Banyak orang yang mengalami hal serupa. Bahkan teman kantor Theodore yang mempunyai pasangan hidup seorang manusia, juga memaklumi dan terbiasa dengan hubungan Theodore-Samantha.

Mungkin gambaran buruk dari dunia yang bergantung pada AI ini adalah ketika visualisasi “Her” menggambarkan kehidupan yang berwarna, tapi warnanya buram tidak mencerahkan. Seolah dunia dengan AI sebagai teman hidup memang memberikan warna, tapi warna itu tidak menggairahkan.

Visualisasi lain dari “Her” adalah ketika dunia digambarkan menjadi sangat individualistik. Orang berbicara dan sibuk dengan OS masing-masing sampai tidak berinteraksi dengan sesamanya. Kecerdasan sosial manusia hilang sampai-sampai teman Theodore bisa bercerai hanya karena bersilang pendapat masalah dimana meletakan sepatu yang seharusnya.

Pertanyaan lanjutan usai menonton “Her” dan kehidupan berbasis AI yang diurai Harari adalah, apakah benar kehidupan masa depan kita akan seperti itu? Joaquin Phoenix memang sedang memerankan sebuah fiksi. Tetapi bukankah 4 tahun setelah fiksi ini dibuat, Google juga menemukan AI yang sesuai dengan fiksi “Her?”

Bila sudah berkaitan dengan ilmu dan masa depan, mungkin kita bisa kembali lagi kepada rumusan paling dasar tentang ilmu dan masa depan. Bahwa masa depan itu adalah misteri dan penuh ketidak pastian. Karena misterinya, kekuatan ilmu ilmu bukanlah memprediksikan secara akurat masa depan, namun hanya bisa mengurangi ketidakpastian akan masa depan. Karenanya dalam sejarah kehidupan manusia, kerap terjadi belokan kehidupan yang merubah secara total kehidupan manusia.

Bagi yang mempelajari sejarah Islam dan Kristen misalnya. Banyak sejarawan yang mempelajari Romawi dan Arab, menggelengkan kepala kenapa Kristen bisa menjadi agama resmi kerajaan Romawi sehingga menjadi besar dan dominan seperti sekarang. Begitu juga dengan Islam. Pada masanya tidak ada yang menyangka bila Islam bisa menguasai Arab dan mendorong Arab menjadi penguasa dunia abad pertengahan. Membayangkan Kristen menjadi agama resmi Romawi serta Isam-Arab bisa menguasai dunia, seperti membayangkan sebuah sekte keagamaan di ujung Jawa Barat yang terpencil, terisolir, dan tidak dikenal, menjadi agama resmi Indonesia.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: