ArtikelFeatured

Habis Radikal, Terbitlah Cingkrang

Oleh Himawan Sutanto (Aktuvis 1980)

Bangsa ini adalah miskin gagasan besar, hal itu tercermin dari para elite yang tidak banyak memiliki ide/gagasan tentang berbangsa dan bernegara. Semua ide yang melatar belakangi keinginan, tidak tegak lurus dengan cita-cita Founding Father kita. Jadi apa yang dikatakan Romo Mangun “kita kalah 20 tahun dengan pemikiran faounding father kita menjadi benar.

Dalam suasana kemudahan informasi dan komunikasi, seharusnya kita mampu lebih maju dalam segala hal. Ternyata kemajuan tehnologi tidak ada hubungannya dengan kemajuan literasi kita kepada sebuah ide gagasan bangsa yang besar.

Politik Acak Kadut

Kalau kita melihat banyaknya statemen yang keluar dari para petunggi negeri ini kita semakin prihatin. Sebab pemerintah tidak fokus pada persoalan substansi, melainkan fokus pada persoalan gimik saja. Dari istilah radikal sampai celana cingkrang menjadi faktor utama pembicaraan kita akhir-akhir ini.

Sementara polarisasi politik menjadi ironi bangsa yang membahayakan. Sejak pilkada DKIJakarta sampai sekarang tidak pernah ada solusi. Memelihara buzzer adalah faktor yang menunjukkan sebuah pemimpin yang tidak mau capek atau serius terhadap persoalan esensi bangsa ini. Sepertinya kita dipermainkan oleh politi acak kadut pemerintah yang gagal dalam memenuhi janjinya mensejahterakan rakyat.

Saya jadi ingat cerita 4 siswi SMA Negeri 68 Jakarta, tahun 1982 dikeluarkan dari sekolah. Mereka dianggap melanggar aturan tentang seragam sekolah. Keempat siswi itu rupanya ngotot mengenakan jilbab, seperti keyakinan mereka atas ajaran agama Islam. Dan kita tahu, saat itu rezim Orba alergi dengan simbol-simbol Islam. Pemecatan terjadi di banyak tempat. Bahkan ada yang diinterogasi di markas tentara karena memakai jilbab.

Seperti tak ingin lengah, Pemerintah Orba makin menegaskan larangan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah. Intinya: tak ada ruang bagi pengguna jilbab di sekolah negeri. Yang bersikukuh menerapkan keyakinannya itu akan dikeluarkan dari sekolah.

Cerita di atas adalah cerita yang sama dengan kejadian sekarang, dimana pemerintah mengurusi privasi seseorang hanya karena ada kesan islamphobia. Persoalan celana cingkrang dan cadar adalah persoalan style kostum. Jika kita bisa melihat secara jernih pasti selesai kalau pemerintah mau menunjukkan cara-cara yang cerdas dalam penyelesaian.

Hal itu nampak jelas ketika presiden Joko Widodo mengganti istilah radikalisme dengan manipulator agama. Hal itu menunjukkan kesan seolah-olah pemerintah memainkan isu agama sebagai cara melanggengkan kekuasaan dan mengalihkan isu utama adalah ekonomi.

Sudahlah kita hilangkan manuver politik yang tidak cerdas dan menjauhkan dari akal sehat kita. Sementara kita melupakan 5 mahasiswa yang meninggal, korban kerusuhan 21-22 Mei 2019, korban pembunuhan dan pengusiran di Wamena dan bencana alam di Maluku.

Kasus dari cingkrang terbitlah cadar adalah upaya politisasi yang tidak cerdas dan memalukan, di saat ekonomi kita stagnan di kisaran 5% dan kenaikan harga-harga pokok, Iuran BPJS Dan lain-lainnya. Belajarlah selalu pada orang bijak, bahwa kita sudah kehilangan gagasan besar bangsa ini. Agar generasi milenial kita menjadi hebat karena memiliki literasi mapan dengan pemimpin hebat.

Depok, 2 November 2019

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up