ArtikelFeatured

Habibie, Mutiara yang Terbuang

Oleh: Hasan Syukur (Wartawan Senior)

Ketika berbicara di depan civitas academika ITB di awal kedatangannya ke tanah air, Bacharudin Jusuf Habibie (BJ Habibie) berkata: “Guruku di Jerman pernah menasihatiku. Habibie, janganlah kau menjadi politikus. Tapi karya-karyamul ah yang mengubah peta politik”.

*****

SUATU ketika di masa silam, Letkol Soeharto bertugas menjadi Komandan Kodim di Makasar. Dari markasnya, ia mendengar ada rintihan tangis sorang anak di sebuah rumah sederhana di seberang jalan.

Ketika ditengok ternyata seorang anak yang tengah menderita sakit ditunggui ibunya seorang janda tua dan tak mempunyai uang untuk mengobati anaknya. Soeharto lalu menolongnya. Rudy demikian anak itu dipanggil, akhirnya sembuh.

Selang berpuluh tahun kemudian Soeharto sudah menjadi Presiden. Ketika ia berkunjung ke Jerman ia diberitahu oleh seorang warga Indonesia yang sudah lama tinggal di sana, ada seorang jenius asal Indonesia. Ternyata jenius itu adalah Rudy anak yang dulu pernah ia tolong. Rudy alias BJ Habibie waktu itu sudah dikenal sebagai ahli industri penerbangan terkemuka di Hamburgh, Jerman.
Presiden Soeharto kemudian mengajaknya pulang untuk membangun negerinya, Indonesia.

Kehadiran BJ Habibie membuahkan inspirasi bagi presiden untuk membangun Indonesia yang agraris menjadi negeri industri. Pulang ke tanah air Habibie diberinya peran yang lebih luas. Ia diminta membenahi perusahaan industri penerbangan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) Nurtanio.

Pilihan Soeharto ternyata tepat.
IPTN dibawah kepemimpinan BJ Habibie menjadi perusahaan pesawat terbang terkemuka yang mampu mengekspor produk pesawatnya ke mancanegara. Ia menjalin kerja sama dengan Spanyol menciptakan pesawat Casa berbaling-baling sampai merencanakan pesawat bermesin jet N250. Produknya digunakan pula untuk ketahanan militer Indonesia.

Habibie yang kemudian diangkat jadi guru besar ITB menjadi talenscout (pencari bakat) calon-calon sarjana untuk disekolahkan menjadi S3 ahli pembuat pesawat terbang di negara-negara maju seperti Perancis, Inggris dan Jerman. Dengan cara itu ia berharap Indonesia bisa mandiri dalam industri penerbangan.

Rudy tidak hanya bertugas di IPTN kini namanya menjadi PTDI (PT Dirgantara Indonesia). Ia juga ditugaskan di industri strategis lainnya seperti Pindad untuk meningkatkan ketahanan militer dan produk kapal-kapal laut canggih. Ia juga diangkat menjadi Menteri Perindustrian.
Habibie sosok yang cerdas dan saleh ini juga ditugaskan Pak Harto untuk mendirikan dan memimpin organisasi intelektual Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di masa pemerintahannya, krisis ekonomi berhasil diatasi. Ia terbilang satu-satunya presiden RI yang mampu mengendalikan nilai rupiah terhadap dollar AS dari 1600 ribu rupiah menjadi Rp 6500 rupiah per dolar AS. Monopoli usaha dihapus. Usaha kecil diberdayakan. Ia sendiri memproduk pesawat agar UKM dengan dididik mampu membuat baut, jok cokpit dan onderdil lainnya. Jadi tidak melulu dimonopoli pabrik pesawat. Konsumen dilindungi dan kedaulatan diperkuat, hak sipil dilindungi, tahanan politik dibebaskan dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang menghantui para jurnalis dan karyawan pers dihilangkan. Ia adalah pelopor demokratisasi Indonesia.

Opini terhadap Habibie mulai redup setelah memberi hak referendum kepada rakyat TimTim sehingga wilayah itu lepas dari kedaulatan RI. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak oleh sidang paripurna DPR RI, dan ia menolak untuk menjadi Capres dalam pemilu berikutnya.

Politik tampaknya berdampak kepada kedudukan Habibi di bidang industri penerbangan. Subsidi utnuk PTDI dicabut. Menyebabkan terjadi PHK masal dan pabrik pesawat kebanggaan bangsa hanya membuat loyang, panci, ketel goreng dll.

Kader-kader Habibie sarjana-sarjana S3 penerbangan penggerak PTDI berdiasfora menjadi tenaga ahli pesawat terbang di negara-negara lain. Habibie yang sudah berbakti selama 25 tahun di Indonesia akhirnya dijemput kanselir Helmut Kohl, untuk ditempatkan lagi sebagai Vice Presiden di pabrik pesawat di Hamburgh, Jerman.

Ia jenius dunia yang IQnya 200 tiada tanding di dunia. Ia mutiara yang terbuang. Mungkinkah karena Habibie melanggar nasihat gurunya agar tidak menjadi politikus tapi hendaknya menjadi teknokrat yang karya-karyanya mengubah peta kekuatan politik? Wallahu a’lam.

Kini BJ Habibie presiden ke-3 RI, telah meninggalkan kita. Wafat Rabu 11 September 2019 pkl 18.03 di RSPAD Jakarta.

Selamat jalan. Engkau telah menjadi teladan bangsa. Semoga khusnul khotimah. Aamiin.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up