Artikel

Generasi Milenial Vs Generasi Lansia dalam Pilpres 2019 

Oleh Dr. Chazali H.Situmorang/Dosen Administrasi Publik FISIP UNAS

Tak terasa Pemilihan Presiden Republik Indonesia sudah semakin dekat. 7 bulan mendatang NKRI akan sudah punya presiden baru apakah wajah lama atau wajah baru itu yang kita tunggu.

Berbagai tagar sudah bersemarak. Dimulai dengan #2019GantiPresiden yang sangat gegap gempita dan ngetrend dalam bentuk baju kaos mulai dengan yang gratis sampai ada yang dijual oleh para pedagang. Sehingga mengusik ketenangan Pak Jokowi. “Apa bisa kaos mengganti presiden”. Kata Presiden. Tidak disangka ungkapan itu semakin semarak emak-emak menggunakan kaos dengan #2019GantiPresiden. Bahkan ada lagunya dengan irama yang enak didengar di gendang telinga.

Tidak mau kalah, kelompok masyarakat lainnya membuat tagar #2019JokowiDuaPeriode. Tidak kalah semarak juga dengan yel-yel keberhasilan pembangunan yang telah dilakukan antara lain infrastruktur jalan tol, bandara-bandara. Tetapi tidak mengaitkannya dengan 66 janji kampanye Jokowi tahun 2014.

Yang teranyar Asian Games 2018, dengan peroleh 31 medali emas diperoleh dari berbagai cabang olahraga dan hampir separuh disabet dari pencak silat dibawah binaan Prabowo. Rakyat senang karena kedua tokoh nasional tersebut (Jokowi dan Prabowo) berangkulan saat merayakan keberhasilan medali emas pencak silat.

Sekarang tagar mungkin akan berubah. Tim Kampanye Nasional Prabowo mungkin menyiapkan #2019PilihPADI. Maksudnya 2019 pilih Prabowo dan Sandi. Dan bisa jadi Ketua Tim KamNas Pak Jokowi, yaitu Erick Thohir akan membuat tagar #2019JOIN. Maksudnya 2019 Presidennya Joko Widodo dan Wakilnya Ma’ruf Amin. Atau terserah mereka sesuai dengan kreativitas masing-masing.

Jumat sore menjelang Maghrib 7 September 2018, perisitiwa sakral (karena ditunggu dan heboh di media masa) ditandai dengan pengumuman Pak Jokowi dan KH Ma’ruf Amin di rumah pemenangan Jalan Cemara Menteng Jakarta, bahwa Ketua Pengarah Tim Kampanye Nasional adalah Pak JK ( 76 tahun) dan Ketua Tim Kampanye Nasional Erick Thohir (48 tahun), pengusaha muda yang bergerak di bisnis media dan olahraga.

Sedangkan di pihak Capres dan Cawapres PADI, sudah santer disebut Joko Santoso, Jenderal Purnawirawan, mantan Panglima TNI masa SBY, dan salah seorang teman seperjuangan Prabowo dalam medan perang di Timtim dan operasi militer lainnya.

Sepertinya persoalan antar generasi , menjadi strategi utama kedua kubu, untuk mendulang suara Pilpres. Dari sekitar 190 juta pemilih, 40% adalah kelompok usia milenial (17 – 38 tahun), dan sekitar 30% lansia (60 tahun ke atas).

Generasi Milenial ini yang selanjutnya kita sebut saja Genial,  yang menonjol adalah menguasai teknologi digital. Ada yang sedang mengikuti pendidikan, mencari kerja dan meniti karier. Dan juga ada yang pengangguran.

Sedangkan Generasi Lansia yang selanjutnya disebut Gesia umumnya gagap teknologi ( gatek). Tetapi sudah mapan. Punya banyak tabungan. Punya pasif income. Menikmati jaminan sosial baik yang premium maupun yang melalui pelayanan umum berupa jaminan pensiun, maupun jaminan kesehatan.
Banyak juga Gesia ini menjadi lansia terlantar, tanpa jaminan sosial, masih menjadi beban anak-anaknya. Bahkan sudah mulai banyak yang dititipkan di rumah jompo.

Genial dan Gesia ini, tercermin dalam figur-figur Capres dan Cawapres dan juga Ketua Tim Kampanyenya masing-masing. Kita lihat figur Capres dan Cawapres Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Pak Jokowi 57 tahun, dan Ma’ruf Amin 75 tahun. Terpaut 18 tahun. Pak Prabowo 66 tahun, dan Sandiaga Uno 49 tahun. Terpaut 17 tahun. Demikian juga kita cermati usia masing-masing Ketua Tim KamNas kedua kubu. Erick Thohir 48 tahun, dan Joko Santoso 65 tahun. Terpaut 17 tahun.

Gap usia yang panjang ini 17 – 19 tahun, memperjelas kepada kita, bahwa sedang terjadi kombinasi antar generasi. Disamping ingin mendulang suara dari Genial tetapi juga tidak meninggalkan Gesia. Jika dilihat head to head Cawapres, jelas sedang terjadi pertarungan Genial dengan Gesia. Demikian juga penunjukan Ketua Tim KamNas, head to head antar Genial dengan Gesia.

JOIN, PADI, Partai dan Pegusaha

Pengamatan kita kebijakan Jokowi menjadikan Ma’ruf Amin mendampingi beliau sebagai Cawapres, dIsamping rentang usia yang jauh merupakan suatu fenomena yang menarik. Demikian juga pengangkatan Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional bukan politisi juga sesuatu yang menarik untuk dicermati.

Ma’ruf Amin (MA), adalah Gesia dengan latar belakang Ulama dan sedang menjabat Ketua Umum MUI pada saat ditunjuk mendampingi Jokowi. Merupakan strategi untuk mengambil hati umat Islam dan para ulama atas stigma yang distempelkan pada kening Pak Jokowi yaitu “tidak melindungi Ulama dan tidak membela Umat Islam”.

Contohnya antara lain sikap membela Ahok yang menista agama dan dijatuhi vonis oleh pengadilan. Persoalan Habib Rizieq yang membiarkan polisi “merontokkannya” dengan kasus “moral” dan sampai hari ini belum “berani” kembali ke Indonesia dan bermukim di Saudi Arabia. Walaupun kasusnya sudah di SP3.

Ada yang menduga, Jokowi sudah masuk perangkap Batman. Karena Ijtima’ Ulama sudah mengusung Prabowo sebagai Capres, dan Habib Salim Segaf dan Ustadz Abdul Somad sebagai cawapres. Kalau UAS bersedia sudah dapat diramalkan Genial dan Gesia muslim akan mendukung PUAS (Prabowo – UAS).

Pengusung Jokowi (6 partai) berhitung bahwa MA dianggap figur yang dapat mengerem arus besar umat Islam. Jika UAS mau jadi Cawapres, sudah dapat diduga bahwa Umat Islam akan terbelah. Mungkin itu juga yang menyebabkan UAS tidak berkenan “biarlah saya berjalan di jalur dakwah saja”. Beda jawaban MA sang Ketua Umum MUI saat ditawarkan Jokowi langsung menerima. Alhamdulillah.

Penetapan MA sebagai Cawapres Jokowi tentu dengan perhitungan kondisi internal dan eksternal. Para pengamat politik memberikan analisis, setidak-tidaknya ada 4 alasan. Pertama; MA bukanlah berasal dari salah satu unsur partai pengusung Jokowi. Walaupun lebih dekat dengan PKB dan peran loby Ketum PKB yang dapat meyakinkan Jokowi dan Ketum lima partai lainnya. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kecemburuan atau un-happy-nya partai yang dari awal sudah mengusung Cawapresnya seperti PKB dan Golkar.

Kedua, dengan usia MA yang uzur (Gesia), tentu tidak berpeluang lagi jadi Capres 2023, karena sudah berusia 80 tahun. Peluang terbuka lebar pada Ketum-Ketum Partai pengusung yang relatif masih lebih muda seperti Muhaimin Iskandar, Airlangga, dan juga bisa jadi Puan Maharani, sebagai bentuk balas budi Jokowi pada PDI-P. Mereka ini boleh dikatakan masuk Genial transisi yang sudah matang di dunia politik.

Ketiga, MA adalah Ulama, Ketua MUI, dan Rais Aam Syuriah NU, diharapkan dapat “mengkondisikan” simpati Umat Islam terhadap paket JOIN (Joko Widodo – Ma’ruf Amin), untuk melupakan langkah-langkah Jokowi yang lalu yang di “nilai” merugikan Umat dan “mengkriminalisasikan” ulama.

Ingat, bangsa Indonesia adalah bangsa pemaaf dan mudah melupakan kesalahan masa lalu.

Jokowi sudah menunjukkan itu termasuk Prabowo (mengambil Sudirman Said dan Anies Baswedan yang sebelumnya Jurkam Jokowi dan jadi Menteri, kemudian diberhentikan). Jokowi memaafkan Pak JK atas komentarnya tentang Jokowi sebelum diajak sebagai Wapresnya Jokowi. Muchtar Ngabalin “merendahkan” Jokowi dan memuji Prabowo, dimaafkan Jokowi lantas masuk istana dan menunduk didepan Jokowi.

Keempat, peran MA nantinya sebagai Wapres tidak jauh dengan posisi JK sebagai Wapres saat ini. Apalagi MA tidak ada basis partai (walaupun dulu pernah di PPP dan PKB). Lebih banyak Presiden Jokowi yang bergerak dan mengendalikan bersama think-tank di depan maupun dibelakang panggung istana.

Bagi MA mungkin itu bukan soal. Tapi bagi rakyat Indonesia merupakan persoalan kepemimpinan yang nantinya akan dapat “mendegradasi” lembaga Wakil Presiden dan dicap sebagai ban serap. Gaya ini juga sebenarnya sudah dicontohkan SBY pada periode kedua mengangkat Budiono sebagai Wapres yang sangat patuh dan hormat pada SBY.

Kehadiran Erick Thohir, sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi, merupakan strategi Jokowi dan partai pengusungnya, untuk mendekatkan Genia. Langkah ini ditempuh karena Cawapres MA sang Gesia, tentu akan sulit dipasarkan di kalangan Genia. Sehingga perlu dicari figur Genia sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional. Tawaran ke Erick Thohir dan yang bersangkutan dengan senang hati menerimanya.

Erick Thohir adalah seorang pengusaha tulen yang bergerak dari bawah, dan dari keluarga pengusaha. Berteman baik dengan Sandiaga Uno, Cawapres Prabowo.

Sebagai pengusaha yang bukan politisi, ET memasuki dunia yang berbeda. Sekjen-Sekjen partai pengusung senang ET jadi Ketua, urusan amunisi pasti beres. Mungkin itulah harapan mereka. Apakah sama dan sebangun dengan apa yang ada dalam pikiran ET, perjalanan waktu kampanye mendatang ini akan kita lihat dan dengar ceritanya.

ET harus mampu meyakinkan Genia, bahwa pemerintahan mendatang ini menempatkan Genia pada peran penting, bukan Gesia. Sebab pada Gesia sudah lewat masa depannya. Dan Genia yang menyongsong masa depan itu.

Bagi Pemerintah saat ini, Pak Jokowi harus melakukan langkah-langkah transparan dan akuntabel atas penyelenggaraan Kampanye Pilpres 2019. Posisi ET sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional, yang baru saja selesai sebagai Ketua INASGOC 2018 dengan menggunakan dana puluhan triliun rentan untuk munculnya isu-isu terkait penggunaan “amunisi” untuk kampanye.

Pemerintah dapat meminta BPKP untuk mengaudit penggunaan dana AG 2018, bahkan juga dapat dilakukan oleh BPK. Karena menggunakan dana APBN maupun dana masyarakat dan CSR. Jika langkah ini dilakukan pemerintah maupun DPR dengan menugaskan BPK, maka akan diperoleh data dan fakta yang sudah diverifikasi dan di validasi untuk mencegah berbagai fitnah dan tuduhan pada pemerintah maupun ET.

Dari kubu PADI (Prabowo – Sandiaga Uno), dengan keputusan cepat menentukan pilihan Cawapres pada Sandiaga Uno, setelah dipastikan UAS tidak bersedia dicalonkan, memang mengejutkan banyak pihak.

Dalam deklarasinya, Prabowo menampilkan Genial di sekitar beliau yang merupakan petinggi partai pengusung PADI. Ada Hanafi Rais petinggi PAN (37 tahun), AHY petinggi Demokrat (40 tahun ), Mardani Ali Sera petinggi PKS (50 tahun). Mereka ini berada dalam generasi yang berdekatan dengan Sandiaga Uno (49 tahun), dan menjadi daya tarik untuk mengajak Genial mendukung PADI.

Sambutan Prabowo menyiratkan hal tersebut. Suatu janji peralihan generasi yang memang harus dilakukan dan harus terjadi secara alami.

Harapan regenerasi ke Genial dan persoalan ekonomi rakyat dan utang yang semakin membengkak, merupakan persoalan bangsa ke depan, dan berdampak pada Genial. Ketegasan Prabowo, dan tangan dingin Sandiaga Uno untuk memperbaiki ekonomi rakyat dengan berbagai skema-skema kegiatan ekonomi mikro (UKM), bisa menjadi daya tarik dan sesuai dengan kebutuhan lapisan besar rakyat Indonesia yang masih miskin dan 10% diantaranya sangat miskin.

Berbagai janji-janji Jokowi sewaktu nyapres 2014, diverifkasi dan berapa banyak yang sudah dipenuhi. Dan apakah kebijakan pembangunan infrastruktur dengan segala derivasinya sudah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sesuai dengan yang dijanjikan.

Bagi tim kmpanye nasional PADI, memang punya lahan yang luas untuk melihat sesuatu yang belum dan tidak dikerjakan atau dikerjakan dengan berbagai “penyimpangan” oleh pemerintah Jokowi. Dan punya kesempatan luas untuk membuat rencana dan janji seperti Jokowi 2014.

Kita berharap, bahwa siapapun yang terpilih jadi Presiden, penuhilah janji-janji kampanye yang tujuannya untuk mensejahterakan rakyat. Nggak usah buat yang aneh-aneh dan menyesakkan dada rakyat. Tidak perlu pencitraan.

Bonus Demografi dengan dipenuhi oleh Genial berkualitas, profesional, menjadi potensi luar biasa untuk menjadi Indonesia negara yang disegani, dihargai dan diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Cibubur, 10 September 2018

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close