Artikel

FAW Terus Menyebar, Petani Perlu Waspada

Hama FAW yang berasal dari kawasan tropika dan sub tropika benua Amerika itu, saat ini penyebarannya memang belum ditemukan di Indonesia. Namun demikian, langkah antisipasi tetap perlu dilakukan. Pasalnya, penyebaran hama FAW bisa melalui perdagangan komoditas pangan antar negara.

Oleh: Ana Lukman Hudin

Mahasiswa S1 Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNTIDAR, Magelang.

Fall Armyworm (FAW) atau Spodoptera Flugiperda yang berasal dari Amerika Serikat (AS) tergolong hama jenis baru yang cepat menyebar. Kabarnya kini sudah mewabah ke berbagai negara seperti: Myanmar, India, Thailand dan Filipina. Petani tanaman pangan harus waspada, dikhawatirkan hama tersebut bisa segera masuk ke Indonesia.

Sebagaimana dikutip detik.com, pakar hama dan penyakit tumbuhan dari IPB, Dr. Idham Sakti Harahap mengatakan, bahwa jika tidak diantisipasi sejak dini, FAW tinggal selangkah lagi masuk ke Indonesia dari negara tetangga. Sangat memungkinkan FAW masuk melalui Sulawesi. Karena FAW memiliki kemampuan terbang dengan kecepatan 100 km/hari dan kuat bertahan dalam suhu dingin.

Indonesia yang memiliki iklim tropis sangat cocok untuk menjadi habitat FAW. Selain itu, FAW mampu bertelur 1.844 butir dan bisa terjadi overlapping setiap tahunnya. Kalau sampai FAW masuk ke Indonesia, maka ancaman serangan hama ini bisa mengganggu produksi pangan nasional. FAW berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih berat terhadap tanaman pangan seperti jagung, kedelai, dan padi.

Pada tahun 2018, The Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI) mencatat, kerugian akibat serangan hama FAW pada tanaman jagung di 12 negara Afrika mencapai 4-18 juta ton per tahun, atau senilai U$$ 1-1,46 juta.

Sementara FAO dalam buku terbitannya yang berjudul “Integrated management of the Fall Armyworm on Maize” menyebutkan bahwa penyebaran FAW yang merupakan salah satu jenis ulat grayak, mempunyai jelajah tinggi karena dapat terbang hingga 100 km per malam serta memiliki beberapa generasi per tahun. Seiring FAW yang terus menyebar, maka FAO sudah menyelengarakan Consultative Meeting on Fall Armyworm in Asia pada 20 – 22 Maret 2019 di Bangkok. Tujuannya untuk mengumpulkan para ilmuwan dan praktisi yang relevan guna membagikan pengetahuan, pengalaman serta membantu kawasan dalam mempersiapkan langkah antisipasi penyebaran FAW di Asia.

Menurut pendapat pakar lainnya, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB dan anggota Perhimpunan Entomologi Indonesia, Dewi Sartiami, hama FAW yang berasal dari kawasan tropika dan sub tropika benua Amerika itu, saat ini penyebarannya memang belum ditemukan di Indonesia. Namun demikian, langkah antisipasi tetap perlu dilakukan. Pasalnya, penyebaran hama FAW bisa melalui perdagangan komoditas pangan antar negara. Sehingga badan karantina diharapkan lebih berhati-hati dalam melakukan seleksi barang yang akan masuk ke dalam negeri.

Langkah antisipasi perlu dilakukan berbagai pihak, agar bila terjadi kemungkinan terburuk yaitu FAW benar-benar masuk ke Indonesia sudah ada persiapan dari masyarakat. Dinas pertanian di setiap daerah, ilmuwan, dan masyarakat petani perlu mengambil peran. Dinas pertanian harus melakukan langkah cepat seperti pengembangan isu, baik melalui media masa (cetak, elektronik dan online), media sosial, maupun website instansi masing-masing, penyelenggaraan training of trainer, pengenalan dan metode deteksi dini bagi petugas OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) atau penyuluh pertanian di setiap daerah sentra tanaman pangan di Indonesia.

Bagi para ilmuwan ahli fitopatologi sudah semestinya melakukan penelitian untuk menemukan langkah preventif perkembangan hama FAW di Indonesia. Para petani juga harus mempersiapkan diri untuk mempertahankan lahan tanaman pangan dari serangan hama ini, dengan melakukan sistem budidaya tumpang sari serta melakukan pencegahan menggunakan musuh alami.

Sampai saat ini belum banyak petani Indonesia yang memahami ancaman FAW. Bahkan para petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian tampaknya juga belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang FAW untuk bisa memberikan pemahaman kepada para petani. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan.

Mungkinkah menunggu FAW benar-benar menyerbu Indonesia baru instansi yang menangani pertanian mengambil langkah antisipasi? Atau menunggu, Indonesia yang sejak dulu dicitrakan sebagai negara agraris berubah menjadi importir hasil pertanian? Tampaknya hanya bisa berharap, kabinet baru yang akan dibentuk nanti memiliki menteri pertanian yang responsif dengan ancaman serbuan FAW.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up