Artikel

Fase Kepompong Pilgub Jabar 2018

Oleh: Supriyatno Yudi

Beberapa bulan terakhir isu Pilgub Jabar menghangat. Partai saling lempar dan menjaring nama calon. Begitupun dengan calon, membangun komunikasi sana-sini.

Namun, kini mulai mereda. Partai dan calon seolah dilanda kegalauan. Tampaknya sedang memasuki masa kepompong. Justru inilah fase yang menarik.

Tentu saja terjadi dinamika, baik secara internal maupun eksternal partai. Tak aneh bila partai yang tadinya sudah mantap mengusung salah satu calon, jadi limbung. Pun sebaliknya, calon menjadi harap-harap cemas.

Percaturan dimulai, menimang bidak mana yang pas. Saling mengukur penguasaan bidang sang pion. Dalam permainan catur semakin luas pion menguasai bidang, maka semakin besar peluang menang.

Tentu saja dalam timang-menimang itu terjadi tarik-menarik, antar kader, lintas kader. Biarlah mereka mejalankan tugasnya untuk berseteru dan beradu pikir.

Namun sebenarnya kita bisa meneropong sejauh mana pergulatan kekuatan di dalam kepompong itu. Setidaknya ada beberapa poros kekuatan yang terlihat.

Poros RK
Ridwan Kamil (RK) menjadi poros kuat setelah beberapa lembaga merilis hasil survey. Ia disebut memiliki tingkat elektabilitas paling tinggi. Entah survei itu beneran atau bagian dari skenario politik. Yang jelas, setelah itu Partai Nasdem mendeklarasikan diri mendukung RK sebagai cagub.

Banyak yang menilai bahwa langkah Nasdem ini adalah bagian dari skenario besar PDIP. Sang Moncong Putih juga bakal mengusung RK, dan bagian dari koalisi mendukung Jokowi menuju 2019.

Nasdem sepertinya memerankan sosok “Australia” ketika “Amerika” ingin punya hajat di kawasan Asia. Partai berjargon restorasi itu terjun duluan, menjadi spion bagi PDIP.

Publik tahu bahwa RK sudah sungkem dengan Mega, dan sering berbicara empat mata dengan Jokowi, kala Sang Presiden berkunjung ke Bandung. Namun PDIP lebih memilih memainkan Nasdem sebagai spion, ketimbang langsung mendukung.

Benar saja respon publik terhadap deklarasi Nasdem mengusung RK disambut negatif publik. Setidaknya di dunia maya banyak yang unfollow RK dengan alasan itu.

PDIP pun galau. Semakin galau ketika RK selalu terjebak dalam blunder. Mulai dari alasan menerima tawaran Nasdem karena memiliki media dan kejaksaan; menjadikan hadits sebagai bahan lelucon; bobotoh tersinggung karena sikap RK yang cenderung membela simpatisan Ahok beraksi lilin; hingga digambarkan Radar Bandung berhidung panjang seperti pinokio, karena megklaim mendapat dukungan PPP.

Blunder itu bukan saja menimbulkan ketidaksukaan publik terhadap RK, tapi juga menunjukkan jati diri RK, bahwa ia belum cocok sebagai pemimpin. Tentu saja ini dibaca sama PDIP dan Jokowi.

PDIP membuka pendaftaran Cagub. RK tidak mendaftar. Kenapa? Ini tanda tanya besar. RK yang tidak mau mendaftar, atau PDIP yang memang mulai menutup pintu? Sekretaris DPD PDIP Jabar Abdi Yuhana, yang dulunya pernah mengatakan siap memerahkan RK sebagai kader PDIP, justru malah ‘menggoda’ Netty Prasetiyani (istri gubernur Jabar Ahmad Heryawan) agar menjadi cagub PDIP.

Dalam beberapa kesempatan Abdi justru menyampaikan ke media bahwa PDIP terbuka dan menunggu Netty untuk ikut mendaftar sebaga Cagub PDIP. Di kesempatan lain, Jokowi juga menggoda Deddy Mizwar. Presiden menawarkan diri untuk mencarikan partai pengusung.

Akankah ini sinyal bahwa PDIP dan Jokowi mulai galau terhadap RK? Ataukah itu bagian dari memecah kemungkinan koalisi Deddy-Netty (yang santer didengungkan)? Bisa salah satu, bisa dua-duanya.

Jika sinyal PDIP menjauh dari RK, pun dengan PPP. Jalinan mesra RK dengan PPP justru mentah, ketika RK dituduh asal klaim telah mendapat dukungan PPP. Internal PPP bergolak, dan meminta RK jangan asal klaim. PPP galau, RK blunder.

RK terancam tidak mendapatkan kendaraan. Apalagi survei terakhir, yang dilakukan oleh Program Pascasarjana (PPS) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, menunjukkan tren elektabilitas RK menurun.

Poros Demiz
Deddy Mizwar memiliki popularitas paling tinggi. Berpengalaman sebagai Wagub Jabar. Mempunyai jaringan, khususnya yang ia kembangkan selama empat tahun terakhir di Jabar. Jaringan ke daerah adalah modal penting di kancah Jabar yang begitu luas dan plural. Itu semua menjadikan Demiz sebagai poros kuat.

Sejak awal Demiz dilirik PKS-Gerindra. Kedua partai pun sudah sepakat berkoalisi. PKS menyodorkan nama Netty Prasetiyani dan Ahmad Syaikhu sebagai Cagub/cawagub. Isu Deddy-Netty pun mencuat di media massa. Namun, meski partai sudah sepakat berkoalisi, pasangan ini tak kunjung dideklarasikan.

Malah sebaliknya, muncul isu yang menolak cagub perempuan. Beberapa orang yang mengaku sebagai perkumpulan 13 ormas Islam menolak cagub perempuan. Celakanya dalam aksi tersebut mereka menyebut nama Netty Prasetiyani. Tentu saja ini bisa ditebak publik, bahwa itu bagian dari dinamika internal di PKS.

Kondisi inilah yang ditangkap lawan politik, bahwa PKS sedang dilanda kegalauan. Walhasil Jokowi pun menawarkan diri sebagai makcoblang ke Demiz, siap mencarikan jodoh partai. Sedangkan, PDIP membuka pintu buat Netty.

Kegalauan PKS itu pun tampaknya ditangkap Demiz. Ia bermanuver merapat ke PAN. Demiz seolah ingin menunjukkan bahwa tanpa PKS ia bisa bertarung di arena pilgub Jabar. Sementara bagi PAN, tentu saja itu momentum yang berharga, mendapat cagub yang tangguh.

Di sisi lain, atas kegalauan itu, ada invisible hand yang justru menyodorkan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai pasangan Demiz. Isu ini bukan hanya direspon Aa Gym, tapi juga oleh PKS. Sekretaris Umum DPW PKS Jabar, Abdul Hadi Wijaya, sempat mengungkapkan bisa jadi PKS tidak akan mengusung dua nama (Netty dan Syaikhu) yang sudah direkomendasikan ke DPP.

Isu pencalonan Aa Gym semula dilontarkan oleh beberapa lembaga survei. Tentu saja Aa Gym kuat secara popularitas. Namun memiliki kelemahan yang mudah untuk di-demarketing. Pemilih ibu-ibu (perempuan) sulit menerima Aa Gym karena isu poligami.

Demiz yang kini dilirik banyak partai, termasuk ajakan Jokowi, membuat posisinya semakin memiliki daya tawar (bergaining position) yang kuat. Ia layak untuk naik kelas jadi nomor 1. Sepertinya tinggal menunggu dan memilih partai yang ia anggap cocok dengan dirinya.

Poros Demul
Dedi Mulyadi sebenarnya kuda hitam. Kalau dilihat dari beberapa survei ia berposisi masih di bawah RK dan Demiz. Namun, pergerakan Demul kini cenderung menguat.

Berbeda dengan RK yang terus dilanda blunder, Demul justru semakin diterima publik. Berbagai aksi simpatiknya cukup mengena bagi publik. Kondisi ini pula yang tampaknya mulai dilirik PDIP.

Belakangan PDIP mengaku sudah menjalin komunikasi intensif dengan Golkar untuk berkoalisi di Jabar. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Fereira lah yang mengatakan bahwa baik secara formal dan informal komunikasi dengan Golkar sudah terjalin.

Poros Aher
Benar Ahmad Heryawan (Aher) secara konstitusi sudah tidak bisa bermain di arena pilgub Jabar 2018. Sudah dua periode dia menjabat sebagai gubernur. Namun, justru karena itulah ia bakal menjadi penentu.

Dua periode sebagai gubernur, Aher tentu hafal simpul-simpul pemilih di masing-masing kabupaten/kota. Jejaring baik dari sisi birokrasi, instansi mitra kerja pemprov, ormas lintas mazhab, lintas agama bahkan lintas partai, yang ia tebar selama dua periode semakin kuat.

Aktivasi simpul-simpul itu akan menjadi mesin politik yang bergelombang, mungkin melebihi mesin partai. Cagub/cawagub yang didukung Aher akan memiliki akselerasi cepat.

Selain dua nama yang telah diusulkan DPW PKS Jabar ke DPP, kini ada satu nama yang muncul sebagai kandidat Cagub. Adalah Ketua DPP PKS Haris Yuliana yang mengungkapkan ke media. Shohibul Iman, Presiden PKS, didorong turun sebagai cagub Jabar.

Bila benar seperti itu, maka pertaruhan PKS semakin besar. Level ketua partai aktif pantasnya berposisi di jabatan nasional, minimal menteri. Kalau hanya mejadi cagub, maka partai yang bersifat nasional itu hanya berkelas provinsi. Marwah partai terdegradasi.

Disitulah letak pertaruhannya, jika sampai kalah maka citra PKS semakin terpuruk. Tentu akan berbeda bila Shohibul, sudah tidak lagi menjadi presiden partai. Seperti halnya Hidayat Nurwahid menjadi cagub di DKI Jakarta.

Seperti cagub dan partai lainnya, PKS yang sedari awal mantap mengusung Netty atau Ahmad Syaikhu pun ikut galau. Begitulah di fase kepompong ini, partai-partai dan para cagub mengalami kegalauan. Mengingat pilkada serentak di 16 kota/kabupaten, yang membutuhkan sosialisasi secepatnya, akankah fase kepompong ini segera berakhir?

*) Penulis adalah Praktisi Komunikasi Publik

(ft:kumparan)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up