ArtikelFeatured

Efek Pandemik Covid-19 Dunia Menuju Keseimbangan Baru

Oleh: Taufiq Amrullah

Selamat datang dunia yang baru. Tak bisa dibayangkan bahwa tanpa “World War III” tatanan dunia akan berubah begitu cepat menuju ke titik keseimbangan yang baru (new equilibrium) dalam berbagai dimensi kemanusiaan. Bukanlah perang antar manusia seperti perang dunia pertama dan kedua yang menyebabkan tatanan berubah. Tapi “perang” manusia dengan makhluk Tuhan yang sangat kecil bernama virus, corona virus disease (Covid-19).

‘Perang’ ini menyadarkan bahwa manusia harus berbagi lingkungan dengan makhluk lainnya dan tidak lagi melakukan “cross border” dengan dalih apapun. Boleh jadi juga manusia selama ini telah menjadi ‘virus’ yang merusak bumi sehingga terjadi reaksi melalui virus yang memaksa manusia mengunci diri agar membuat bumi bisa rehat sejenak menyeimbangkan ekosistem. Foto-foto lingkungan yang bersih di kanal-kanal Venesia yang jernih dipenuhi ikan dan angsa putih setelah lock down diberlakukan, sebelumnya kanal itu kotor dan keruh dengan bau tidak sedap.

Perubahan ini akan memaksa percepatan cara berpikir manusia secara massal. Bisa jadi melampaui renaissance dan revolusi industri di masa lalu. Abad pertengahan menuju abad modern atau perubahan ‘peta dunia’ pasca perang dunia I lalu perang dunia II. Perubahan yang sejatinya hanya penegasan kepada manusia bahwa bumi ini dihuni bersama dengan makhluk Tuhan lainnya dan harus berbagi lingkungan, termasuk dengan virus. Manusia harusnya sejak awal menyadari perlunya membangun border dengan virus dan makhluk hidup lain. Jangan lagi ada crosing border. Virus dengan kemampuan mutasi dan menjadi patogen bagi manusia dengan cepat bisa bereflikasi menjadi trilyunan virus dan menular ke manusia lain secara massif yang dapat mengakibatkan bencana kemanusiaan.

Saat ini dan setelah ini berlalu, manusia akan ‘terpaksa’ bekerjasama menghadapi virus ini. Bukan dengan membangun border antar manusia dengan lockdown secara paksa. Dengan kemajuan teknologi dan media sosial, warga dunia tidak bisa dihalangi berinteraksi dan saling mengunjungi. Bahkan jika kita kembali ke abad pertengahan, wabah pun telah merebak berkali-kali, kecuali kita kembali ke zaman batu.

Kita dihadapkan pada situasi dunia tanpa leadership. Perang ekonomi lebih mengemuka pasca perang dingin, ditambah tidak ada pemimpin negara-negara maju yang mengambil inisiatif untuk berkolaborasi melawan virus. Semua berprasangka, AS menuduh virus corona COVID 19 berasal dari Wuhan, sebaliknya China menuduh tentara AS yang datang ke Wuhan menyebar virus tersebut. Kita menyaksikan bagaimana wabah merebak ke penjuru bumi dengan cepat menginfeksi dan membunuh manusia. Pandemik covid 19 ini adalah tragedi kemanusiaan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama seluruh manusia dengan kolaborasi efektif para pemimpin dunia.

Kecepatan covid-19 menginfeksi manusia berlangsung seiring dengan kecepatan runtuhnya ekonomi di berbagai negara. Semua negara mengalami pelemahan ekonomi, mata uang dan anjloknya saham. Investor menarik uangnya dan orang-orang mulai gelisah dengan pekerjaannya. Para crazy rich kehilangan uang trilyunan rupiah atau milyaran dollar AS, puluhan juta orang di AS dan ratusan juta di dunia kehilangan pekerjaan, sepertiga penduduk bumi memasuki garis kemiskinan. Kegiatan ekspor dan impor berkurang drastis karena berhentinya produksi. Ekonomi negara-negara diambang krisis. Perang ekonomi AS dan China semakin dalam dan sengit. Dunia manusia babak belur.

Perang melawan virus ini meruntuhkan ekonomi secara massif. Virus yang tidak tampak ini bekerja efektif melemahkan sendi-sendi ekonomi hampir semua negara di dunia. Kepanikan dan ketakutan melanda hampir seluruh manusia, termasuk pemimpinnya. Bagaimana pemimpin menyampaikan agar rakyat tidak panik, yang dilakukan melalui telekonferensi dari balik istana yang tertutup. Padahal rakyat membutuhkan kehadiran pemimpin memberi ketenangan melalui serangkaian kebijakan publiknya yang memberi ketentraman. Apa solusi bagi pekerja harian setiap hari harus mencari nafkah di luar rumah. Bagaimana fasilitas alat pelindung diri dan insentif bagi tenaga medis di garda terdepan merawat pasien Covid-19.

Di masa depan, kita akan menyaksikan tatanan ekonomi dunia yang baru pasca pandemik Covid-19 ini. Dunia tanpa pemimpin ekonomi, dunia dengan national interest yang mulai dinegosiasikan, dunia dengan kolaborasi dan berbagi kue ekonomi dengan keunggulan dan sumber daya masing-masing. Atau dunia dengan pergeseran hegemoni, dunia dengan kekuatan baru, dunia dengan sistem ekonomi yang baru, merevisi sistem kapitalisme global.

Pasti, kita menuju ke tatanan dunia dengan keseimbangan baru (new equilibrium) di setiap dimensi kehidupan. Apakah negara-negara kembali memperkuat diri lalu berulang kembali perlombaan yang tidak perlu, atau semakin menyadari perlunya bekerjasama dan berbagi kehidupan dengan setiap makhluk Tuhan? Pada tanya itu tersisip harapan semoga Indonesia terus ada dan semakin baik.

Dalam situasi tersebut Indonesia dengan tanpa strategi ekonomi akan ikut babak belur, dan kembali hanya sebagai pasar bagi kekuatan ekonomi negara lain. Padahal Indonesia punya peluang untuk bangkit dengan mengubah kebijakan ekonominya mengalihkan anggaran infrastruktur kepada program sosial.

Presiden Jokowi harus menarik nafas panjang dan sejenak berpikir mandiri. Hentikan semua proyek yang tidak penting dan mendesak untuk tahun 2020 ini. Proyek infrastruktur bisa ditunda direalokasi ke anggaran kesehatan, pangan, dan membantu daya beli masyarakat.

Harus ada leadership dan manajemen krisis yang hebat dari pemimpin dan perangkat di bawahnya. Harus ada terobosan (breakthrough), jangan lagi business as usual.

Di sisi lain, transparansi informasi tentang situasi penyebaran Covid-19 di Indonesia amat diperlukan. Keterbukaan dan kejujuran akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dunia, ini adalah musibah dunia. Sambil membuka diri dan meminta bantuan internasional bagaimana agar wabah ini cepat selesai di Indonesia.
(TA/Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close