Artikel

Dibalik CLBK Bu Mega dan Jokowi dalam Deklarasi Capres PDIP

Rangkuman

  • Keputusan mencalonkan kembali Jokowi ini relatif cepat bila melihat “tradisi” PDIP. Dalam pengumuman calon kepala daerah, biasanya dilakukan last minute detik-detik akhir menjelang penutupan pendaftaran. Termasuk pencalonan kembali Ganjar Pranowo sebagai cagub Jateng. Namun penyebutan nama Jokowi ini dilakukan lima bulan menjelang pendaftaran capres-cawapres pada Agustus 2017.

Oleh : Hersubeno Arief

 

PDIP akhirnya secara resmi mengumumkan pencalonan kembali Jokowi sebagai presiden. Keputusan yang langsung diumumkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Rakernas III Bali, Jumat (23/2) mengakhiri spekulasi masa depan politik dan hubungan Jokowi dengan PDIP.

Pengumuman secara resmi ini menjadi semacam cinta lama yang bersemi kembali (CLBK). Bagaimanapun Megawati dan PDIP adalah “cinta” lama Jokowi. Melalui partai moncong putih inilah Jokowi menjadi Walikota Solo (2005-2012), Gubernur DKI Jakarta (2012-2014), dan Presiden RI (2014-2019).

Setelah itu hubungan antara petugas partai dengan induk semangnya ini seakan merenggang. Mereka terkesan semakin menjauh. Megawati dalam beberapa kesempatan menegaskan kendati Jokowi telah menjadi seorang presiden, dia tetaplah seorang petugas partai, yang harus tunduk pada konstitusi dan aturan partai. Mega mengingatkan hal itu kembali awal Januari lalu ketika mengumumkan enam calon kepala daerah yang didukung PDIP.

Hubungan yang tidak nyaman itu membuat Jokowi mulai melabuhkan hatinya ke beberapa cinta baru, seperti Nasdem, PPP, dan Hanura. Jokowi juga jatuh cinta dengan partai idaman lain (PIL) Golkar.

Hubungan dengan Golkar ini cukup serius. Beda dengan PIL lainnya. Golkar tampaknya membuat Jokowi sangat nyaman dan pede. Merasa di-uwongke dan punya peranan penting. Jokowi bahkan bisa ikut menentukan komposisi kepengurusan Golkar.

Secara bercanda seorang tokoh Golkar menyebut Jokowi sebagai the real Ketum (ketua umum), sementara Setya Novanto dan kemudian Airlangga Hartarto sebagai CEO. Seorang profesional yang menjalankan roda “perusahaan.” Sebuah ucapan satire, namun barangkali cukup bisa menggambarkan perasaan para pengurus inti DPP Golkar.

Hubungan Jokowi dengan PDIP kian merenggang ketika dalam beberapa Pilkada, keduanya bersimpang jalan. Yang paling terlihat dalam Pilkada Jabar maupun Pilkada Jatim. Dua wilayah penting, dan menjadi kantong suara terbesar di Indonesia.

Kader berprestasi

Tanda-tanda bahwa Mega dan Jokowi akan CLBK sudah muncul beberapa hari sebelum Kongres Bali. Sekjen PDIP Hasto Kristianto menyatakan, dalam tradisi partainya kader yang berprestasi di mata rakyat, akan diberi kesempatan untuk menjabat kembali.

Keputusan mencalonkan kembali Jokowi ini relatif cepat bila melihat “tradisi” PDIP. Dalam pengumuman calon kepala daerah, biasanya dilakukan last minute detik-detik akhir menjelang penutupan pendaftaran. Termasuk pencalonan kembali Ganjar Pranowo sebagai cagub Jateng. Namun penyebutan nama Jokowi ini dilakukan lima bulan menjelang pendaftaran capres-cawapres pada Agustus 2017.

Selain soal “berprestasi,” tentu PDIP punya pertimbangan sendiri mengapa akhirnya memutuskan mencalonkan kembali Jokowi.

Pertama, sejumlah survei menunjukkan belum ada kader PDIP yang namanya potensial bisa menyaingi Jokowi. Yang muncul baru nama Kepala BIN Budi Gunawan yang dikenal punya kedekatan dengan Mega. Itupun elektabilitasnya masih sangat rendah. Masih berat bila harus bersaing dengan Jokowi. Nama Puan Maharani yang dipersiapkan sebagai putri mahkota, malah sama sekali tidak muncul. Dengan begitu Jokowi tetaplah merupakan pilihan paling rasional bagi PDIP.

Kedua, sejumlah survei menunjukkan bahwa mayoritas pemilih PDIP akan memilih Jokowi. Survei yang digelar oleh Median 1-9 Februari mendapati temuan 70.5% pemilih PDIP akan memilih Jokowi. Yang memilih Mega hanya 7.5%.

Dalam rezim pemilu serentak, siapa presiden yang didukung oleh partai, akan sangat menentukan keputusan pemilih. Mereka akan cenderung memilih partai yang mendukung capres pilihan mereka.

Bila PDIP memutuskan berseberangan dengan Jokowi, maka kemungkinan besar perolehan suara PDIP juga akan terancam ditinggalkan para pendukung Jokowi.

Dengan data tersebut, keputusan mendukung Jokowi secara politis akan lebih menguntungkan PDIP. Sementara bagi Jokowi, dukungan PDIP tidak akan menambah basis pemilihnya, karena mayoritas pemilih PDIP dipastikan juga akan memilihnya.

Ketiga, keputusan PDIP untuk mempercepat pengumuman dukungan kepada Jokowi adalah semacam kekhawatiran bila benar-benar ditinggalkan. Dengan sejumlah partai pendukung di tangan –Nasdem, PPP, Hanura—terutama Golkar membuat Jokowi sudah punya satu tiket di tangan, dengan atau tanpa PDIP.

Jadi keputusan PDIP sangat tepat, agar jangan sampai ketinggalan kereta. Bila sedikit terlambat, maka PDIP bisa terancam berada di luar pemerintahan, atau setidaknya hanya menjadi partai pengusung, bukan pendukung. Bukan tidak mungkin Jokowi diakuisisi Golkar dan menjadi Ketua Dewan Kehormatan, atau bahkan ketua umum.

Siapa cawapresnya?

Keputusan PDIP untuk mendukung Jokowi ini otomatis mengubah peta internal pendukungnya. Walaupun menjadi pendatang baru, PDIP dipastikan akan menjadi pemain penentu. Jumlah kursi dan perolehan suaranya yang terbesar di Pileg 2014, serta hubungan historisnya dengan Jokowi, membuat PDIP menjadi mempunyai semacam hak veto. Mereka bisa ikut menentukan siapa yang akan menjadi cawapres Jokowi.

Bagi Mega siapa yang menjadi cawapres menjadi sangat krusial. Sebab Jokowi sudah memasuki periode kedua. Siapapun wapresnya berpeluang besar menjadi suksesor, pengganti Jokowi. Apakah Budi Gunawan, atau Puan Maharani yang akan dipilihnya?

Bila kelangsungan partai dan klan Soekarno dalam kancah politik yang menjadi pertimbangan, dipastikan Mega akan memilih Puan. Namun bila melihat sumber daya dan jaringan politik, Budi Gunawan tentu lebih kuat dibanding Puan.

Namun melihat posisi Jokowi yang saat ini telah bermetamorfosa dari petugas partai menjadi seorang figur politik terkuat di Indonesia, besar kemungkinan dia tidak akan mau lagi didekte Mega. Belum lagi dinamika diantara partai pendukung dan juga calon-calon lain yang ditimbang Jokowi.

Meminjam ucapan Presiden PKS M Sohibul Iman, saat ini ada 17 orang yang telah mengantri menjadi cawapres Jokowi. Bila PKS memutuskan bergabung seperti yang diinginkan Jokowi, jumlahnya menjadi 18 orang.

Di kalangan internal yang sudah bersiap-siap mendampingi Jokowi antara lain Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PPP Romahurmuzy, dan tentu saja Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto. Dipastikan perebutan posisi sebagai cawapres Jokowi akan sangat keras.

Bagi Jokowi siapa yang akan menjadi cawapresnya juga tak kalah peliknya, bahkan sangat krusial. Sejumlah survei terbaru menunjukkan elektabilitas Jokowi sangat mengkhawatirkan.

Aji Alfarabi peneliti LSI Denny JA menyebut posisi Jokowi belum aman, karena tidak pernah mencapai 50%. Direktur Median Rico Marbun malah menyebutnya sudah lampu kuning, karena mengalami penurunan.

Berdasar survei terbaru LSI elektabilitas Jokowi sebesar 48.5%. Sementara Indobarometer hanya 32.7%. Median yang melakukan survei secara berkala menunjukkan elektabilitas Jokowi yang semula stagnan, saat ini malah mengalami trend penurunan. Pada bulan April 2017 elektabilitas Jokowi 36.9%. Oktober 2017 turun menjadi 36.2%. Dalam survei Februari 2018 malah tinggal 35%.

Mengacu pada elektabilitas SBY ketika akan kembali maju pada periode kedua, kondisi Jokowi sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari SMRC dua tahun menjelang Pilpres, elektabilitas Jokowi mencapai 38.9%, sementara SBY hanya 27.6%. Jadi lebih tinggi.

Namun setahun menjelang Pilpres 2009 elektabilitas SBY melejit sampai 60%, sementara Jokowi tidak pernah mencapai 50%, malah menurun di bawah 40%. Tidak salah kalau posisi Jokowi disebut sudah lampu kuning.

Tingkat elektabilitas yang tinggi membuat SBY berani memasang Budiono sebagai cawapresnya. Sementara Jokowi harus benar-benar ditimbang secara masak. Salah mengambil keputusan bisa sangat fatal.

24/2/18

Komentar Facebook

Sumber
Hersubeno Arief's Blog
Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up