ArtikelFeatured

Deteksi Dini Terhadap Politisasi Kebijakan Gubernur DKI Jakarta dalam Kasus Reklamasi

Rangkuman

  • Anies sudah menyatakan ketetapan hatinya, sesuai janji kampanye bahwa reklamasi tetap dihentikan. Uniknya Anies menghadapi tiga “musuh” sekaligus, yakni pengusaha yang ingin terus melanjutkan reklamasi melalui pengadilan. Kemenangan pengusaha PT. Harapan, atas pulau H, mendorong kemungkinan keputusan hakim pada PTUN lainnya menyusul atas pulau-pulau lainnya.
Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Institute)

Reklamasi Jakarta

Reklamasi 17 Pulau di Jakarta dihentikan Gubernur Anies. Namun, 4 pulau yang sudah terlanjur terjadi dimanfaatkan lahannya. Untuk Masyarakat luas dan secara legal. Reklamasi adalah perintah negara: Keppres 52/95 dan Perda 8/95, RTRW, dan lain-lain.

Perlu diketahui, Anies menepati janjinya menghentikan reklamasi 17 pulau. Anies tidak pernah berjanji membongkar daratan yang sudah terlanjur terjadi dalam masa kepemimpinan DKI sebelumnya.

Untuk menghentikan reklamasi Jakarta, sesuai janji kampanyenya, Anies membentuk Badan Koordinasi Pelaksanaan Reklamasi. Badan ini dibubarkan tahun 2009, lalu dibentuk kembali oleh Anies pada Juni 2018. Badan ini dibuat agar pemprov DKI melakukan proses secara legal (hukum). Badan ini dulu yang mengeluarkan ijin reklamasi.

Dalam proses investigasi terhadap izin-izin reklamasi, semua pengembang ditanyakan kewajiban-kewajiban mereka (di audit). Menurut hasil investigasi, Izin 13 Pulau dicabut secara legal. Dimasukkan dalam RPJMD dan nanti dimasukkan dalam RTRW. Oleh karena itu, istilah reklamasi pulau tidak ada lagi, melainkan semua pantai.

Soal IZIN IMB bangunan di eks Pulau D Reklamasi, BPN mengeluarkan hak alas/HPL kepada Pemprov DKI dan Hak Guna Bangunan (HGB) kepada PT. Kapuk Naga Indah, 3,12 juta meter persegi. Kemudian, Gubernur DKI mengeluarkan Pergub 206/2016 tentang Panduan Rancang Kota (PRK). Sebelum ada hak alas, IMB tidak bisa keluar, maka Gubernur Anies menyegel. Setelah ada hak alas, Gubernur Anies mengeluarkan IMB sekitar 1000 bangunan di Pulau D.

Tantangan

Ada tiga pengelompokan sosial dalam menyikapi kebijakan reklamasi: Pertama, secara politik, Penguasa menuntut reklamasi terus berlanjut. Hal ini menyebabkan perbedaan persepsi penghentian reklamasi antara Anies dan pendukungnya. Ditambah lagi posisi provinsi/negara menjadi regulator dipertanyakan. Kedua, secara politisasi, kelompok-kelompok anti Anies menggoreng isu ini untuk memojokkan Anies dan para pendukungnya. Ketiga, secara kritik, LSM mengatakan bahwa pemberian IMB terhadap 1000 bangunan merupakan bagian sikap Anies untuk melanjutkan reklamasi.

Anies sudah menyatakan ketetapan hatinya, sesuai janji kampanye bahwa reklamasi tetap dihentikan. Uniknya Anies menghadapi tiga “musuh” sekaligus, yakni pengusaha yang ingin terus melanjutkan reklamasi melalui pengadilan. Kemenangan pengusaha PT. Harapan, atas pulau H, mendorong kemungkinan keputusan hakim pada PTUN lainnya menyusul atas pulau-pulau lainnya.

Pengusaha-pengusaha ini secara diametral akan berhadapan dengan Gubernur/Pemda DKI, karena mereka meyakini bahwa alasan legal tidak dapat dijadikan sandaran. Lembaga-lembaga LSM (Walhi, KNTI, LBH Jakarta, Jatam, Bina Desa, Kiara, Rujak Center for Urban Studies, dan lain-lai) yang menganggap Anies tidak konsisten pada janji politiknya. Ditambah lagi, kelompok-kelompok anti Anies menggoreng isu bahwa kebijakan Anies tidak konsisten dengan janji politiknya dan menganggap Gubernur mengkambinghitamkan Pergub 206/2016.

Agenda Tindak Lanjut

Pertama, Pemilahan antara politisasi atas kebijakan Gubernur DKI dalam kasus reklamasi dengan masalah politik sesungguhnya dan kelompok-kelompok kritis harus dipelajari secara detail. Kedua, strategi penanganan atas kasus ini harus ditangani sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Ketiga, untuk sementara, gerakan Gubernur DKI untuk membuat kawasan ini bukan kawasan khusus, elit dan tertutup (eksklusif), dan rencana Pemda DKI menggelar upacara Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019, merupakan langkah maju. (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up