Artikel

Demokrasi Zombie dari Politik Para Dewa yang Hanya Memproduksi Ketakutan

Oleh: Ikhsan Kurnia
Penulis dan Pemerhati Politik

Jangan terlalu serius dengan politik, kata seorang teman. Toh, ujarnya, para politisi yang tampaknya sedang bersitegang saling serang di media itu belum tentu pada kenyataannya begitu. Di luar arena debat di hadapan publik, boleh jadi di belakang layar mereka ngopi bersama, bermain golf bersama, nonton wayang bersama, dan haha-hihi bersama. Mungkin menertawakan “drama” yang baru saja mereka pentaskan. Tapi, kita juga tidak tahu, mungkin saja di antara mereka ada yang merasa berdosa, lantaran di depan kamera terpaksa berkata A, padahal hatinya ingin berucap lainnya. Mereka bukan bos. Ya, mungkin bos level medium. Tapi perkataan mereka, suka tidak suka, fardhu ‘ain hukumnya untuk senantiasa senafas dan semakna dengan keinginan, atau sabda para “dewa”.

Istilah kaum dewa dalam politik Indonesia zaman now mengindikasikan beberapa hal. Pertama, politik kita hingga hari ini masih diwarnai, bahkan mungkin didominasi, oleh kuasa sekaligus pesona para dewa yang tinggal di petala kahyangan, lengkap dengan (putra) mahkotanya. Di saat kreativitas era 4.0 sudah memposisikan persona (person-focus) sebagai barang antik (obsolete), peradaban politik kita justru asyik tanpa dosa memelihara ruh oligarki. Rakyat pun kecewa, meski sudah berbusa-busa membela figur idolanya, kebijakan politik tetap ada di genggaman tangan para dewa yang belum tentu bijaksana.

Kedua, demokrasi kita diselimuti oleh rasa takut. Siapa yang takut? Saya, anda, kita semua. Indikasinya sangat sederhana, jika kita berani, maka distribusi kuasa akan (lebih) merata. Tapi karena kita pengecut, sehingga kita hanya memandatkan kuasa kepada satu dua orang dewa untuk mengatur nasib ratusan juta umat manusia. Anehnya, semua orang rela mati menjaga demokrasi, di waktu yang sama, mereka tidak berani memperjuangkan agar demokrasi berjalan sesuai dengan fungsinya. Ini seumpama kita berjaga siang-malam di depan rumah kita agar rumah kita tidak dimasuki pencuri, tapi kita sendiri sebagai pemiliknya membiarkan para dedemit, tuyul, kuntilanak, genderuwo dan sebangsanya mendiami (memfungsikan) rumah yang sudah kita bangun sendiri. Ajaib!

Ketiga, demokrasi kita baru bisa mengajarkan tentang bagaimana bertahan hidup (survive), belum mampu mendidik kita bagaimana cara berkarya dengan kreatif dan egaliter. Saat sebagian besar parpol berbondong-bondong untuk masuk ke zona aman dan nyaman, itu artinya mereka merasa terancam, sekaligus tidak berani mengambil tantangan. Seandainya mereka berada di sebuah hutan belantara, mereka hanya diberi petunjuk bagaimana untuk survive dari terkaman harimau dengan cara bersembunyi di dalam gua alih-alih menyiapkan senjata untuk berburu, meramu dan bercocok tanam.

Demokrasi kita seolah mengalami involusi. Seakan-akan berjalan, padahal diam-membisu dan hanya mewarisi artefak-artefak zaman old yang seharusnya sudah dimusiumkan. Jika Geertz menyebut istilah “involusi pertanian”, saya menyebutnya “involusi demokrasi”. Betapa pentingnya sebuah kemajuan, hingga Iqbal berkata: “A static condition means death, those on the move have gone ahead”. Di titik ini, dengan melihat fenomena yang ada, demokrasi kita harus diselamatkan. Darimana mulainya? Menurut saya, kita bisa memulainya dari partai politik yang harus terus dimonitor oleh rakyat (civil society).

Apa tawarannya? Pertama, rakyat harus memiliki keinsyafan dan tanggungjawab terhadap fungsi demokrasi sehingga perlu memberikan input kepada parpol untuk terus melakukan refreshment dan pembaharuan dalam sistem pengambilan keputusan. Kedua, parpol harus bertanggungjawab jika terjadi stagnasi dan kejenuhan terhadap pilihan-pilihan politik yang hanya menjadi otoritas para dewa (elit). Ketiga, parpol harus lebih berani dan cerdas dalam membaca dan mencari “blue ocean” (peluang baru) sehingga tidak hanya bergumul dengan sesama parpol yang hanya berorientasi survival.

Jika kita hanya disuguhi dengan tontonan politik yang itu-itu saja (no refreshment), maka siapapun yang sadar akan ancaman kejumudan demokrasi harus bergerak mulai saat ini. Jika tidak maka kita harus siap melihat demokrasi kita menjadi demokrasi zombie.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: